
Air susu di balas air tuba, itulah yang Rudy rasakan saat ini, pria itu kecewa dengan Sagara yang sudah dia besarkan dengan kasih sayang, bahkan dirinya rela di benci putra kandungnya sendiri hanya karena membela Sagara sang anak angkat. Jika saja Rudy hanya menggunakan hati mungkin saat ini kelurganya sudah jatuh miskin. Beruntung dirinya memiliki sifat waspada yang tinggi sehingga saat Sagara diam-diam menusuknya dari belakang tidak menggoyahkan apa yang sudah dia lindungi, siapa sangka Sagara menjadi tikus licik.
"Pastikan dia menerima hukuman yang setimpal," Ucap Rudy pada kuasa hukumnya yang mengurus kasus Sagara.
"Baik tuan."
Rudy memilih pergi, hari ini Gamma sudah diperbolehkan pulang, dan Rudy akan menjemputnya di rumah sakit. Tapi saat keluar dari kantor polisi, Rudy berpapasan dengan Bagaskara, mereka berdua saling tatap dan Rudy pergi begitu saja tanpa menyapa.
Bagaskara memilih masuk, dan di dalam bertemu dengan kuasa hukum Rudy.
"Tuan Rudy membuat laporan atas perlakuan putra anda, dan semua bukti sudah lengkap. Saya harap anda tidak mempersulitnya," Ucap kuasa hukum Rudy lebih dulu sebelum Bagaskara bicara.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, niat hati ingin melaporkan kejadian yang menimpa Gevan tapi malah lebih dulu mendapat laporan.
Dirumah sakit, Tesla membantu Mentari berkemas, dua wanita itu tampak kompak dan akur sampai membuat Gamma hanya diam memperhatikan keduanya.
"Mah, kalau Gamma nikah boleh nggak?" Gamma tiba-tiba mengajukan pertanyaan pada Mentari.
Gerakan tangan Tesla berhenti, dan menatap Gamma yang tersenyum bodoh di atas ranjang. Sedangkan Mentari menatap putranya yang tampan itu.
"Memangnya ada gadis yang mau menikah denganmu?" tanya mentari balik.
Tatapan Gamma pindah pada gadis yang berdiri di samping Mamanya.
"Coba tanya Tesla Mah, kira-kira ada ngak yang mau sama aku." Ucapan Gamma berhasil membuat Tesla yang menjadi umpan memberikan tatapan tajam.
Sedangkan Gamma hanya menanggapi dengan kerlingan mata yang membuat Tesla semakin sebal.
"Tanya saja sendiri, kenapa harus Mama." Mentari menutup ransel yang berisikan pakaian Gamma, lantas menaruhnya di atas nakas.
"Tapikan-"
Ucapan Gamma terpotong saat mendengar pintu ruangan terbuka, Rudy masuk dengan bingung saat ketiga orang di dalam sana sedang menatapnya.
Mata Mentari melotot melihat tingkah suaminya, di sana ada Gamma dan juga Tesla apa suaminya itu tidak malu.
"Ish, sudah tidak ingat umur saja," Dumel Gamma menatap kedua orang tuanya sinis.
"Sayang.."
Atensi ketiga orang menatap Gamma, pemuda itu hanya menunjukan wajah sok polosnya.
"Ayang Tesla mari kemari." Gamma melambaikan tangannya untuk memanggil Tesla.
Tesla tak bergeming, gadis itu enggan mendekat karena sungkan, kadang-kadang Gamma juga kelewat kelakuan.
Mentari melirik dan tersenyum, tiba-tiba ide jahil melintas di pikiranya.
"Pah, bagaimana jika kita berbulan madu, sepertinya membuatkan adik untuk Gamma ide baik." Mentari tersenyum penuh arti pada suaminya.
"Boleh, biar rumah kita ramai dengan tangisan bayi, tidak sepi seperti kuburan, kayak tidak punya anak saja," Timpal Rudy sambil melirik Gamma.
Gamma mendelik tajam, pemuda itu turun dari ranjang dan menghampiri Tesla.
"Lebih baik nikahkan kami, dan kalian akan mendapat cucu," Gamma merangkul bahu Tesla dengan wajah pongah.
Tesla mencubit lengan Gamma yang memeluknya, gadis itu berkacak pinggang di depan Gamma.
"Boleh, tapi ada syaratnya?" Rudy dan Mentari saling lirik, membuat Gamma dan Tesla penasaran.
"Empat tahun lagi setelah Tesla lulus."
"Apa?!"
Tinggalkan jejak kalian 😘😘