GAMMATES

GAMMATES
Penculikan



Pagi-pagi Tesla sudah rapi dengan seragam sekolah, saat keluar dari pagar rumah sang majikan. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depannya.


Dua pria memakai topeng langsung memaksa Tesla untuk masuk kedalam mobil dengan paksa, belum sempat berteriak Tesla sudah jatuh pingsan saat mulutnya dibekap dengan sapu tangan.


"Jalan!" Titah salah satu dari dua orang yang membawa Tesla masuk kedalam mobil.


Saat mobil pergi Gevan baru saja keluar dari garasi rumahnya, pria itu menatap kesekeliling dan kembali menjalankan motornya.


Di tempat yang pengap dan gelap, seorang gadis duduk di kursi kayu dengan tangan dan kaki terikat. Mulutnya di lakban dengan penampilan yang sudah berantakan.


Brak


Pintu ruangan yang dikatakan gudang penuh debu itu terbuka, seseorang membawa gelas yang berisikan air dan langsung menyiram wajah Tesla agar gadis itu bangun.


Emmph..!


Tesla membuka matanya, kedua matanya membulat sempurna saat melihat seseorang yang tidak dia kenal berdiri didepannya dengan tatapan tajam.


Emphh!!


Tesla berontak dengan menggerakkan tubuhnya yang terikat di kursi kayu, semakin berontak tubuhnya semakin terasa sakit.


"Cih, berusahalah sekeras apapun, kau tidak akan bisa lepas dari sini!"


Pria itu mengambil ponselnya dan memfoto Tesla yang masih berontak. tawa menggema memenuhi ruangan penuh debu dan pengap itu.


Sekolah Mandala Pertiwi kelas IPA sedang melakukan ulangan diadakan. Tapi tidak dengan Gamma, pria itu memilih untuk pergi dari kelas dan duduk menyendiri di rooftof.


Gamma menghembuskan asap rokok ke udara, pikiranya sedang tidak baik-baik saja, perasaanya pun sama.


Melihat ponselnya, Gamma mendesahh kasar, sejak pagi pesannya tidak di baca oleh Tesla, bahkan sekarang nomornya sudah tidak aktif.


Memikirkan Tesla ingatan Gamma kembali saat keduanya berada dirumah pohon.


Bagaimana gadis itu tersenyum bahagia hanya karena sebuah pemandangan yang sederhana, Gamma merasakan nyeri mengingat bagaimana bayi yang Tesla kandung harus pergi sebelum melihat dunia, mengingat itu hatinya kembali perih.


Ting


Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya, Gamma mengabaikan pesan dari nomor baru, tapi saat melihat sebuah foto yang dikirim membuat Gamma menjadi penasaran.


"Bagaimana? apa kau tidak merasa kehilangan?"


"Sial!!"


Ting


"Datang sendiri jika mau dia selamat, kalau tidak kami akan-"


Dada Gamma semakin bergemuruh, pria itu langsung pergi tanpa menunggu lama.


"Lah itu si bos mau kemana?" Para geng inti baru saja keluar dari kelas, dan mereka melihat Gamma yang keluar dengan kotornya.


Celo mencoba menghubungi nomor Gamma, tapi tidak di angkat oleh pemuda itu.


"Mungkin dia ada keperluan." Ucap Dion.


Mereka memilih untuk pergi ke kantin, karena memang akhir-akhir ini Gamma di sibukkan dengan pekerjaan yang mereka sendiri kurang tahu. Jadi mereka tidak berpikir macam-macam tentang ketua geng Black Tiger itu.


Gamma mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, pemuda itu tidak perduli dengan keselamatannya sendiri, melainkan keselamatan Tesla. Gamma takut jika mereka melakukan sesuatu pada Tesla.


"Tunggu gue Tes!"


Gamma mengentikan motornya di sebuah bangunan rumah tua yang jauh dari rumah penduduk.


Saat turun dari motor Gamma di sambut dengan beberapa orang, dan Gamma jelas tahu siapa mereka.


"Ternyata cinta loe besar juga sama gadis itu."


Hahahaha


Beberapa orang menertawakan ucapan rekannya yang seperti meledek seorang Gamma.


"Ternyata begitu mudah membawa ketua geng sepertimu datang seorang diri."


Seseorang muncul dari belakang beberapa orang yang menghadap Gamma.


"Heh." Gamma tersenyum sinis melihat Gilang di balik penculikan Tesla.


"Banci Lo pada!!"