
Ucapan Gevan benar-benar keramat untuk Tesla, gadis itu sampai bingung bagaimana menghindari Gevan.
Saat istrirahat di kantin Tesla dan kedua temanya di buat terkejut melihat Gevan tiba-tiba duduk di mereka. Bukan hanya mereka yang terkejut semua siswi di buat syok melihat Gevan yang mau mendekati seorang gadis.
"Gue boleh gabung?" Ucapnya yang sudah lebih dulu duduk.
Pertanyaan Gevan hanya untuk basa basi, nyatanya Gevan tidak butuh persetujuan mereka, pemuda itu sudah duduk.
"B-boleh." Jawab Vani gugup.
Sedangkan Tesla hanya diam, dan Zizi biasa saja atau cuek.
"Lo ngak makan!"
Suara Gevan membuat Tesla tersentak, sejak tadi gadis itu melamun, pikiranya entah terbang kemana.
"S-sudah tadi."
Gevan hanya mengagguk, Tesla mengedarkan pandangannya dirinya tidak melihat Gilang di antara siswa yang ada, biasanya selalu ada Gilang dimana ada Gevan di sana.
Mengingat Gilang, Tesla jadi tahu permusuhan Gamma dan Gilang di sebabkan karena salah paham, dan tiba-tiba Tesla melihat Gevan dengan tatapan yang susah di artikan.
Rudy memijit keningnya yang terasa berdenyut, semakin hari Rudy semakin pusing dan geram dengan apa yang dilakukan Sagara.
Anaknya itu mulai menunjukan taringnya saat otak liciknya mulai bekerja, bukan anak perusahaan saja yang Sangara jaminan untuk pinjaman uang, tapi proyek baru yang ditangani Sagara harus rugi karena Sagara mangkir dari tangung jawabnya. Dan semua kini berimbas pada perusahaan pusat yang memegang kendali anak perusahaan di bawah naungannya.
"Wen, Gamma kemari." Ucap Rudy pada asistennya.
"Baik tuan." Pria yang lebih muda dari Rudy keluar untuk melakukan perintah atasannya. Wendy tersenyum saat tuanya sudah megambil keputusan yang tepat.
Sekolah Mandala Pertiwi
Gamma menaikkan satu alisnya saat melihat mobil yang tak asing parkir di halaman sekolah, apalagi melihat seorang pria yang sangat dia kenal berdiri seperti menunggu seseorang.
"Tuan muda." Sapa Wendy saat melihat Gamma berjalan mendekat kearahnya.
"Anda di pinta tuan untuk datang ke kantor." Katanya sebelum Gamma mengajukan pertanyaan.
"Tapi-"
"Silahkan naik tuan muda." Wendy membukakan pintu mobil untuk Gamma.
Setelah melakukan perjalanan hampir tiga puluh menit, akhirnya Gamma sampai di mana gedung perusahaan SDY Corp. Gedung yang sudah lama tidak Gamma injak.
"Mari."
Suara asisten membuat Gamma tersadar dari lamunannya sekilas, di mana dirinya berdiri diam.
Degan seragam sekolah dan tas yang ia pakai di bahu sebelah, Gamma berjalan di samping Wendy membuat karyawan yang melihatnya saling berbisik.
Jarang sekali anak Presdir SDY Corp datang ke kantor, apalagi di kawal oleh orang berpengaruh nomor dua di perusahaan.
Gamma naik lift khusus Presdir, di dalam lift Gamma melirik asisten papanya itu sekilas.
"Kenapa saya di suruh kemari?" tanya Gamma dengan tatapan lurus kedepan di dimana dinding lift bisa membuat keduanya berkaca.
"Karena memang sudah saatnya tuan muda." Jawab Wendy dengan wajah datar. Gamma bisa melihat ekspresi itu tanpa menoleh.
Keduanya terdiam beberapa saat, hingga pertanyaan Wendy membuat Gamma membulatkan kedua matanya.
"Apakah kabar nona Tesla baik?" Tanya Wendy.
Dan pertahannya itu cukup membuat Gamma terpikirkan sesuatu.
"Jadi selama ini Om juga-"
"Tuan Rudy tidak akan membiarkan anaknya berkeliaran di luar tanpa pengawasan, apalagi anda adalah seorang pewaris." Katanya sambil tersenyum tipis.
Gamma hanya bisa diam dengan pikiranya, pemuda itu memikirkan bagaimana selama ini dirinya berjuang diluar sana, tiba-tiba Gamma teringat akan sesuatu.
"Jangan-jangan Klein yang mau menggunakan ku adalah-"
"Itu di luar kendali saya tuan muda." Potong Wendy. "Mereka datang pada tuan karena memang tuan pentas untuk melakukanya."
Gamma bernapas lega, setidaknya hasil jerni payahnya selama ini tidak ada ikut campur tangan papanya.
"Tapi mulai sekarang anda harus lebih hati-hati." Pesan Wendy dengan nada serius.
Gamma hanya bisa mengangguk dan tersenyum tipis, menjadi orang terlihat tidak lah mudah. Dan Gamma sudah menyadari hal itu.