
Siapa yang tidak akan terharu dengan perlakuan manis dan kasih sayang yang tulus nyata dia dapatkan, Tesla pun merasa hidupnya menjadi berarti saat melihat seseorang memperjuangkan dirinya, Gamma sosok pemuda yang terkenal arogan dan suka marah-marah, belum lagi suka bolos dan bikin onar dengan geng motornya yang terkenal suka berkelahi.
Tapi bagi Tesla Gamma adalah sosok pria yang memberikan dirinya kenyamanan dan juga rasa aman. Melebihi saat dirinya berasa di antara orang tuanya.
"Kamu bisa gunain kartu itu untuk kebutuhan mu, meksipun kamu mendapat gaji." Ucap Gamma yang duduk disofa dengan tangan memeluk tubuh Tesla.
Tesla terdiam sejenak, kenapa cara Gamma bicara berbeda ada rasa aneh ketika mendengarnya.
"Kenapa?" Gamma sepetinya menyadari diam nya Tesla.
"Em, itu. Cara bicara kamu." Jawab Tesla dengan pelan.
Gamma tersenyum. "Ngak selamanya kan aku panggil kamu Lo, gue. Ngak baik kalau didenger anak kita."
Tesla mendongak dan menatap wajah Gamma yang biasa saja.
Cup
Gamma mengecup ujung hidung Tesla. "Mau pulang tidak, atau mau menginap disini."
Buru-buru Tesla duduk dengan benar, sepertinya dekat dengan Gamma membuatnya meluapkan semuanya.
"Pulang, takut dimarahi majikan." Ucap Tesla sambil meraih tasnya.
Gamma terdiam sambil menatap Tesla, tatapan matanya begitu menyiramkan keraguan.
"Apa kamu tidak bisa pergi dari sana dan tinggal bersama ku." Ucap Gamma dengan tatapan nanar.
Ketakutan terbesar Gamma adalah Tesla, dimana gadis itu berada satu rumah dengan musuh nya, untuk saat ini mungkin Gevan belum tahu tapi lama-lama tidak mungkin kalau tidak tahu juga.
Tesla diam, dirinya juga memikirkan hal yang mungkin suatu saat nanti akan terjadi, tapi tidak untuk sekarang, Tesla masih banyak hutang budi pada kelurga majikanya.
"Tidak sekarang, tapi nanti. Aku janji." Jawab Tesla dengan senyum manis, berharap bisa membuat Gamma merasa lebih baik.
Gamma hanya mengangguk dan tersenyum tipis, dirinya tahu apa yang Tesla inginkan.
"Baiklah, ayo aku antar." Gamma kembali meraih jaketnya dan keluar kamar dengan menggandeng tangan Tesla seperti sebelumnya, maklum takut hilang.
"Ihiiir cinta yang hilang kini kembali pulang." Deva menimpali.
"Selamat datang kembali Tes." Celo terseyum tipis.
"Syukur deh Lo balik, setidaknya si singa ada pawangnya kalau ngamuk."
"Sialan Lo!!" Gamma meninju dada Agam membuat pemuda itu mengusap dadanya sambil tertawa.
"Iya loh Bu ketu, semenjak Bu ketu ilang. Pak ketu jadi suka ngamuk-ngamuk." Anji menambah membuli Gamma.
Gamma menatap tajam Anji yang punya bibir seperti ember, sedangkan Tesla hanya bisa tersenyum dan bilang terima kasih.
"Ngak usah didengerin, mereka emang punya mulut Soak!!" Setelah mengatakannya dengan kesal Gamma pun mengajak Tesla keluar.
Sedangkan di dalam mereka bersorak saat melihat wajah kesal Gamma yang tidak berani berkutik didepan Tesla, mereka seperti mendapat angin segar tanpa harus merasakan hukuman dari seorang Gamma yang terkenal galak.
"Gam." Tesla menyentuh tangan Gamma saat pemuda itu akan naik ke atas motor besarnya.
Gamma berbalik dan menatap Tesla yang menatapnya intens.
"Ada apa?" Tanya Gamma dengan wajah bingung.
Tesla memajukan wajahnya dan-
Cup
Kecupan pertama kali yang Tesla berikan di pipi Gamma.
Tesla tersenyum malu dengan wajah merona, jagan lupakan Gamma yang menahan salting sampai bibir dia gigit agar tidak over bersorak.
"Ciiieeeeee ada yang salting tuhhh????"
Semakin malu dan merah saja wajah keduanya saat anggotanya mengintip dan bersorak riuh.
"Sialan mereka, gue beri pelajaran nanti!" Geram Gamma.