
Bugh
Bugh
Bugh
Bagh
Brak!!!!
Suara pukulan dan tendangan menggema di ruangan pengap itu, Gamma melawan 7 orang anak buah Gevan, sedangkan pemuda itu sendiri hanya menonton bagaimana Gamma di keroyok tapi mampu melumpuhkan mereka semua.
"Kalian banci! beraninya keroyokan, cih." Umpat Gamma dengan napas memburu dan basah oleh keringat.
Tatapan matanya berubah tajam setajam mata elang yang siap menerkam mangsanya.
"Maju kalian!"
"Banyak bacot, sialan!!"
Tiga orang yang belum terkapar maju kembali menyerang Gamma, meskipun jumlah mereka banyak tapi tidak membuat Gamma kuwalahan, justru mereka yang menjadi sasaran samsak kemarahan seorang Gamma.
Bugh
Akhh
Satu persatu anak buah Gevan terkapar tak berdaya, Gamma tersenyum miring melihat Gevan yang berdiri sendiri.
"Kenapa Lo, lakuin ini. Lo tahu tahu jika dia mati bukan karena gue!" Gamma menatap sinis Gevan yang menatapnya penuh permusuhan.
Dia yang Gamma maksud adalah adik Gilang, gadis yang Gevan cintai.
"Tau apa Lo, jelas-jelas dia mati karena Lo menolak cintanya." Gevan maju agar lebih dekat dengan Gamma.
Mereka ini saling tatap dengan jarak satu meter, tatapan yang membuat keduanya seperti adu kekuatan. Tatapan kebencian dan kemarahan dari Gevan, sedangkan Gamma hanya menatap Gevan seperti orang bodoh.
"Lo buta karena sakit hati, sakit hati karena dia nolak lo." Gamma tersenyum remeh.
Gevan mengepalkan tangannya kuat, emosi dan kemarahannya terpancing karena ucapan Gamma.
"Lo, bajin*gan!!! Lo pembunuh!!"
Gevan langsung maju dan keduanya menjadi adu jotos. Gevan memang tak sepandai seperti Gamma yang memang dibekali bakat bela diri, hingga beberapa kali Gevan harus merasakan sakit di wajah dan perutnya karena serangan dari Gamma.
Bugh
Brak!!!
Gevan terlempar kebelakang dan megenai kursi kayu, pemuda itu merintih dan terbatuk-batuk.
Gamma tersenyum sinis, dengan tatapan meremehkan.
Langkah kakinya menuju gadis yang tak sadarkan diri, ada nyeri di hatinya yang terasa begitu sakit.
"Maaf." Gumam Gamma dengan wajah penyesalan. Tanahnya terulur menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Tesla.
Seketika wajahnya mengeras melihat betapa mengenaskan wajah kekasihnya yang terdapat banyak memar sampai darah yang sudah mengering.
Gamma mengepalkan tangannya, tatapannya kian nyalang dengan kemarahan yang semakin di ubun-ubun.
"Kalian bia*dab!!"
Gamma menatap Gevan yang masih terkapar, pemuda itu tampak ketakutan melihat wajah Gamma yang semakin gelap, aura Gamma terlihat menakutkan, tikus yang lewat saja tidak berani dan memilih sembunyi.
Bugh
Bugh
"Kau pantas mendapatkan ini sialan!! kau pentas untuk mati!!"
Seperti kerasukan setan, Gamma memukuli Gevan membabi buta, pemuda itu meluapkan kemarahannya pada Gevan.
Hingga membuat Gevan hanya bisa memasrahkan diri menjadi amukan Gamma.
Bugh
Gamma menghempaskan tubuh Gevan kuat, sebelum berbalik Gamma menendang perut Gevan hingga Gevan memuntahkan darah dari mulutnya.
Gevan melirik Gamma yang hendak berbalik, dengan sekuat tenaga Gevan berusaha untuk bangun, tangannya megambil sesuatu dari saku jaketnya. Gevan tersenyum miring sebelum tangannya meggpai Gamma yang hendak melangkah pergi.
"Mati kau!!"
Gamma yang mendengar terikan Gevan berbalik, matanya melotot dan terkejut melihat Gevan yang sudah berdiri di belakangnya dan-
Jlep
Akkhh...
Darah mengalir dari perut Gamma, sebuah pisau di tangan Gevan yang berlumuran darah.
"Lo harus mati di tangan gue, Lo harus mati bersama dia!"
Bruk
Gevan dan Gamma sama-sama terjatuh di lantai, kedua pria itu terkapar tak berdaya di dalam ruangan di mana Tesla disekap dan di aniaya.
Kisah cinta yang tidak terbalas dan memicu kesalahpahaman hingga menjadi dendam, di mana pemuda yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban dari pemuda yang merasa sakit hati dan kecewa.
Tinggalkan jejak kalian 😘😘😘