
Setelah para geng pulang, Gamma langsung berlalu kembali menuju kamarnya, tidak peduli dengan Tesla yang baru datang membawakan minuman yang tadi Gamma minta sebelum para sahabatnya pamit pulang, itupun Gamma yang mengusir karena alasan kepalanya pusing dan butuh istirahat.
Melihat Gamma menuju kamarnya, Tesla pun berniat untuk mengantar minuman pemuda yang sekarang menjadi labil itu, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit manja. Entah kemana jiwa galak dan arogan Gamma yang dulu, yang suka membuat Tesla menundukkan wajahnya.
Tesla mengetuk pintu, setelah terdengar sahutan dari dalam membuat Tesla membuka pintu dari luar.
Dilihatnya Gamma yang sedang duduk disofa dengan laptop di depannya. Berjalan mendekat Tesla bisa melihat wajah serius Gamma.
"Minumannya," Tesla menaruh minuman dingin Gamma di samping laptop pria itu, tidak ingin menganggu Tesla memilih untuk pergi.
"Duduk di sini, temani aku,"
Tesla menoleh kebelakang Gamma masih fokus pada layar laptopnya tanpa melihat dirinya saat berbicara.
"Kau bicara padaku?" Tanya Tesla yang tidak mau berasumsi sendiri, siapa tahu dia sedang bicara dengan seseorang di laptopnya.
Gamma mendongak menatap datar Tesla, "Memangnya siapa lagi di dalam ruangan ini, apa ada mahluk lain." Ketus Gamma.
Tesla memanyunkan bibirnya, gadis itu menurut dan duduk di sampingnya.
Tesla memperhatikan laptop Gamma yang menyala, tapi dirinya tidak terlalu tahu apa yang sedang Gamma lakukan.
"Kamu sedang bekerja?" Tanya Tesla setelah Gamma mengganti tampilan laptop dengan sebuah sketsa bangunan.
"Hm, ada beberapa kolega yang meminta desain proyek pembangunan apartemen dan hotel." Jawab Gamma tanpa mengalihkan tatapannya.
"Sejak kapan kamu berkerja?" Tesla yang heran dan juga penasaran mulai kepo.
Gamma tidak langsung menjawab, pria itu masih sibuk dengan jarinya.
"Gam,," Tesla menyentuh lengan Gamma membuat pemuda itu menghentikan gerakannya.
Keduanya saling tatap, Gamma menatap wajah Tesla begitu dalam, sedangkan Tesla dengan rasa penasarannya.
"Setelah kamu pergi," Jawab Gamma dengan tatapan tak berpaling.
Tesla menelan ludahnya kasar, dia pikir Gamma akan selalu bersenang-senang dengan dunianya sendiri, karena memang Gamma terkenal dengan pria urakan yang suka membuat onar.
"S-serius," Ucap Tesla tak percaya.
"Mungkin aku bukan pemuda yang baik, tapi setelah apa yang terjadi di masa lalu membuat ku berpikir jika aku tidak akan bisa mendapatkan mu tanpa memiliki apapun. Aku tidak ingin tunduk pada siapapun, dan aku hanya ingin menunjukan pada seseorang jika aku bisa berubah lebih baik dan layak untuk seseorang itu."
Tangan Gamma menyentuh wajah Tesla, siapa yang tahu jika gadis berkacamata mata itu adalah gadis yang mampu mencuri hatinya, jika orang melihat gadis itu kuper dan culun. Maka berbeda dengan apa yang Gamma lihat, nyatanya Tesla hanya menutupi kelebihannya dengan menggunakan kaca mata.
"S-seseorang?" Entah mengapa Tesla kok jadi gelisah mendengar apa yang Gamma katakan.
Siapa seseorang yang Gamma maksud, apakah ada orang lain yang berarti untuk Gamma.
Tesla menundukkan wajahnya, saat tiba-tiba perasaanya mulai gelisah. Entah kenapa pikiranya malah Gamma memiliki seseorang yang sangat berarti selain dirinya, semakin lama berfikir, hatinya kok malah semakin sakit.
Melihat perubahan wajah Tesla, Gamma tersenyum tipis, pemuda itu mengubah kembali duduknya menatap laptop.
"Aku ingin menikahi seseorang itu, menurut mu bagaimana? kira-kira dia mau menerimaku atau tidak?"
Deg
Tesla langsung mengangkat wajahnya menatap Gamma dengan wajah pias.
"M-menikah? kamu mau menikahinya?" Tanyanya terbata.
Gamma mengangguk mantap, "Sekarang atau nanti sama saja bukan, akan tetap menikah." Jawab Gamma acuh tanpa ada rasa kasihan pada Tesla, justru Gamma malah tertawa dalam hati.
"Kenapa dia begitu polos dan menggemaskan, apa dia sedang memikirkan seseorang yang akan aku nikahi,"
Gamma bermonolog dalam hati sambil tertawa puas.
"Hm, iya. Nanti dan sekarang sama saja." Gumam Tesla dengan wajah sendu.
"Jadi bagaimana? mau menikah denganku sekarang?" Tanya Gamma lagi dengan sengaja.
"Iya, lebih baik menikah sekarang."
Gamma tersenyum puas, "Oke, kau tidak bisa mundur lagi!"
Gamma langsung beranjak pergi dan meninggalkan Tesla yang duduk mematung, pikiranya masih blank dan Gamma malah pergi begitu saja.