GAMMATES

GAMMATES
Gamma pulang



Seperti yang Gamma bilang, jika dirinya akan pulang untuk menemui Mamanya, Gamma masuk ke rumah disambut dengan art yang membuka kan pintu.


"Mama dimana bik?" Tanya Gamma to the poin.


"Ada di dapur den sedang masak." Jawab si bibik.


Gamma hanya mengangguk, dan berjalan kearah dapur, pemuda itu melihat Mamanya yang sedang sibuk memasak sepertinya dari bau yang Gamma cium.


"Mama masak apa!" Gamma berada di belakang tubuh Mentari dan melihat masakan apa yang dibuat Mamanya.


"Ya ampun Gamma, kamu ngagetin Mama." Mentari sampai mengusap dadanya karena terkejut dengan suara Gamma di belakangnya.


Gamma tersenyum dan memeluk Mentari, mencium pipinya.


"Mama lagi masak kesukaan kamu, bentar lagi selesai, kamu bisa istrirahat dulu dikamar." Mentari mengusap rambut Gamma yang bersandar di pundaknya.


Kemanjaan Gamma seperti ini yang Mentari rindukan, Gamma tetap lah putranya yang masih kecil di matanya.


"Hem, yaudah deh. Gamma ke kamar dulu."


Mentari mengacak rambut Gamma dengan senyum, sebelum pemuda itu menghilang dari matanya.


Masuk kedalam kamar, Gamma langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, dimana ranjang yang sudah lama tidak dirinya tempati. Karena Gamma lebih suka tinggal di markas.


Saat ingin memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya bergetar, Gamma merogoh saku celananya dan melihat panggilan dari nama seseorang.


"Halo.."


Gamma beranjak dari kasur dan menuju balkon, angin sore membuah udara sejuk.


Gamma bicara cukup serius dengan seseorang di balik telepon, hingga ketukan pintu kamar menyadarkan Gamma jika dirinya sudah cukup lama melakukan panggilan.


"Baik pak, kalau begitu saya tutup." Di masukkan kembali ponselnya ke dalam saku, Gamma berjalan menuju pintu kamar.


"Ada apa bik?" Tanya Gamma melihat art didepan pintu.


"Nyonya menyuruh Aden turun, makanan sudah siap."


Gamma hanya mengangguk, menutup pintu kembali setelah art pergi.


Setelah mencuci wajah, dan berganti baju, Gamma menuruni tangga untuk menuju meja makan, tapi langkah kakinya menjadi lambat saat telinganya mendengar obrolan orang tuanya.


Sepertinya Rudy baru saja pulang, melihat penampilan pria itu yang masih memakai kemeja kerja.


"Aku rindu anak ku Mas, kamu yang membuat Gamma tidak betah dirumah." Jawab Mentari sambil menahan kesal.


"Ya..ya...dia anak kebanggaan kamu. Meskipun aku juga bang-" Rudy menghentikan ucapanya, saat melihat Gamma yang datang.


"Sayang, mau makan sekarang." Mentari tersenyum senang saat mendapat anggukan kepala dari Gamma. Dengan senang hati mentari mengambilkan makanan untuk Gamma.


"Di mana Sagara?" tanya Gamma tanpa tedeng aling-aling pakai sebutkan 'kak'.


"Dia kakak mu Gamma, lebih tua dari kamu. Yang sopan kamu!" Hardik Rudy.


Gamma hanya tersenyum smrik sambil mengangguk.


"Sudah makan dulu, Kakak mu mungkin banyak pekerjaan." Jawab Mentari yang tidak ingin membuat putranya tidak nyaman dan pergi. Mentari masih ingin meluapkan rasa rindunya untuk menatap wajah putranya.


Gamma hanya diam tanpa bicara apapun, fokus menikamati makanan meskipun dalam hatinya merasa muak. Tapi demi Mamanya, Gamma tidak ingin membuat mentari kecewa ataupun sakit hati.


"Gamma menginap di sini kan?" Tanya mentari saat Gamma selesai menenggak minumannya.


Sejak tadi tatapan Mentari hanya tertuju pada Gamma, entah mengapa putranya sekarang cepat berubah menjadi pemuda dewasa dan juga mandiri.


"Anything for Mom." Mentari mengembangkan senyum, bibirnya tersenyum lebar hanya karena Gamma ingin menginap.


Rudy hanya menghela napas, rasanya tidak percaya melihat putranya yang baru 17 tahun sudah terjun ke dunia bisnis dan berhasil menggeser pembisnis lama. Apalagi bisnis yang di pegang Gamma sama dengan bisnis yang digeluti Sagara. Bahkan Sagara yang sudah lama terjun harus kalah dengan Gamma. Ingin tidak percaya tapi itu kenyataanya, putranya yang urakan dan pembangkang kini cukup membuat Rudy terkesima.


.


.


.


"Tesla bagaimana? kamu melakukan apa yang saya perintahkan?" Merry menatap Tesla yang berdiri didepannya.


Keduanya berada di ruang keluarga, yang kebetulan hanya mereka berdua, suaminya Bagaskara masuk kedalam ruang kerja, dan kini saatnya Merry untuk bertanya pada Tesla.


Sedangkan Tesla bingung ingin menjawab apa, jujur tapi dirinya takut karena tidak memiliki bukti. Jika berbohong dirinya takut ketahuan.


Rasanya Tesla menjadi dilema.