
Di Markas
Tesla membuka matanya dengan perlahan, tanganya menyentuh kepalanya yang terasa pusing.
Pandangannya menyapu sekitar yang tampak familiar, tapi yang Tesla ingat dirinya sedang di sekap di sebuah gudang yang pengap dan gelap.
Ceklek
Pintu terbuka, Tesla melihat Gamma yang masuk sambil membawa makanan.
"Sudah bangun." Ucap Gamma sambil menaruh makanan yang dia bawa.
Tesla bergerak bangun untuk untuk duduk, dan Gamma membantunya.
"Kenapa aku bisa disini?" Tanyanya dengan suara yang masih lemah.
Tesla melihat pergelangan tangannya yang memar dan merah. Melihatnya Tesla ingat bagaimana dirinya di ikat di tempat yang pengap.
Gamma duduk di sisi ranjang, di samping Tesla yang juga sedang duduk.
"Makan dulu, kamu pingsan terlalu lama." Gamma membantu Tesla untuk makan.
Tatapan Tesla tertegun sejenak, menatap pemuda yang didepanya.
Gamma menjadi sosok yang manis, tapi tidak sesuai dengan wajahnya yang datar seperti tembok.
"Tesla.."
Tesla tersadar membuat gadis itu sedikit salah tingkah saat dirinya ketahuan menatap Gamma terlalu lama.
Gamma menyodorkan sendok kedepan bibirnya. "Aku bisa sendiri." Tesla meraih sendok yang Gamma pegang. Disuapi Gamma membuat Tesla sepertinya akan susah menelan makanan.
"Apa kamu bisa berhenti bekerja di sana?"
Tesla yang tadinya menunduk kini menatap Gamma yang juga sedang menatapnya.
"Gevan dia-"
.
.
.
"Jelaskan semua ini." Rudy melempar berkas didepan Sagara yang terlihat biasa saja.
Melihat wajah santai Sagara, membuat Rudy benar-benar menguji kesabarannya.
"Ck, memangnya kenapa? bukankah itu sudah menjadi hak ku." Ucap Sagara dengan alis terangkat sebelah. Jelas pria itu tidak memiliki rasa bersalah sama sekali.
"Sejak kapan perusahaan itu atas namamu hah!" Hardik Rudy dengan wajah menahan amarah.
Rudy kecewa dengan putra sulungnya yang ternyata memiliki otak licik, tidak di sangka jika Sagara bisa melakukan hal yang membuatnya jantungan.
"Bukan sejak kapan? tapi kapan namaku ada di sana, selama ini bukankah aku sudah melakukan apa yang kau mau?"
Rudy mengepalkan tangannya erat, Sagara benar-benar membuatnya habis kesabaran.
Kembali pada Gamma...
Tesla tampak termenung sebentar memikirkan ucapan Gamma barusan.
"Jika kamu mau, maka aku akan meminta pada mereka untuk membawamu." Terang Gamma lagi.
Jujur saja, memikirkan Tesla di rumah Gevan membuat Gamma tidak bisa tidur dengan nyenyak. Jika Gilang sudah tidak lagi menjadi ancaman untuk Gamma. Tapi Gevan?
"Mereka terlalu baik Gam, dan aku merasa berhutang banyak dengan mereka." Lirih Tesla dengan tatapan sendu.
Gamma menarik napas panjang frustasi. Membiarkan Tesla berada di sana juga membuat Gamma tak yakin. Dan yang di katakan Tesla memang benar kelurga Gevan baik pada Tesla, tapi besar kemungkinan tidak dengan Gevan.
Gamma menghela napas. "Janji, kalau ada apa-apa beri tahu aku, dan Jangan mau di ajak Gevan kemanapun." Ucapnya dengan tatapan serius.
Melihat wajah serius Gamma membuat Tesla mengangguk setuju.
"Janji." Tesla mengulurkan jari kelingkingnya.
Membuat Gamma terkekeh, untuk kesekian kali Tesla dibuat terpesona dengan Gamma yang irit senyum.
"Oke, aku pegang janji kamu." Gamma menautkan hari kelingkingnya juga. Keduanya saling tersenyum dalam tatapan yang sama.
"Meksipun aku tidak janji jika kamu berada dalam keadaan aman." Gumam Gamma dalam hati.
Biar bagaimanapun, Tesla berada di sarang musuh, yaitu Gevan.