GAMMATES

GAMMATES
Menuju wedding



Bel pulang sekolah Tesla sengaja memilih pulang terakhir, mengingat jika Gamma mengajaknya pulang bersama, otomatis Tesla memilih jarak aman yaitu menunggu sekolah sepi.


Setelah di pastikan aman, Tesla memilih keluar setelah tadi sempat mengirim pesan pada Gamma, dirinya akan menunggu di halte umum, dan bukan halte sekolah.


Saat duduk menunggu tiba-tiba sebuah klakson mobil membuat Tesla mendongak, gadis itu mengerutkan keningnya, sebelum melihat siapa pemuda yang berada dibalik kemudi, saat kaca mobil diturunkan, Tesla beranjak dari duduknya dan langsung masuk ke mobil.


"Lama nunggunya." Gamma kembali menjalankan mobilnya menuju butik yang direkomendasikan Mamanya.


"Ngak." Jawab Tesla singkat.


Biasanya Gamma kesekolah selalu segan motor besarnya, tapi kini pria itu menggunakan mobil untuk alat transportasi nya.


Melihat Tesla yang sepertinya memikirkan sesuatu, membuat Gamma bicara.


"Sengaja gue bawa mobil nyokap, biar aman dari fans gue." Ucap Gamma dengan santai.


Tesla menoleh ke arah Gamma sebentar, dan kembali menatap lurus kedepan.


Hening, tidak ada obrolan basa basi yang menemani perjalanan mereka. Hingga beberapa menit kemudian mobil Gamma belok kesebuah butik ternama di kota besar ini.


Tesla yang tahu tentang butik ini menjadi ciut, pasalnya disini harga dan barangnya bukan kaleng-kaleng.


"Ayo.." Gamma lebih dulu turun dan membukakan pintu untuk Tesla, tapi gadis itu masih diam ditempatnya.


Dengan ragu Tesla turun dari mobil, dan mengikuti Gamma yang sudah berjalan lebih dulu didepan.


"Nah itu mereka datang." Mentari tersenyum lebar saat melihat Gamma dan Tesla masuk kedalam butik.


Dua remaja yang masih mengenakan seragam sekolah itu sempat mencuri perhatian beberapa pengunjung di butik. Tapi saat melihat wanita yang menanti kedatangan mereka cukup membuat mereka diam.


"Mah, jangan berlebihan. Kami tidak ingin pesta apapun." Gamma lebih dulu bicara.


Jika saja keadaan mereka tidak seperti sekarang ini, mungkin Gamma tidak akan menolak apapun yang diinginkan orang tuanya.


"Iya sayang Mama tahu, Mama hanya ingin kalian memiliki foto kenang-kenangan." Mentari mengusap wajah Tesla. "Tidak apa bukan, hanya untuk mengabadikan pernikahan kalian."


Melihat tatapan sendu calon mertuanya membuat Tesla tidak tega, gadis itu mengangguk mengiyakan dan di sambut senyum ceria Mentari.


"Mama pesan gaun limited edition, kamu harus mencobanya." Mentari mengajak mentari untuk menuju ruang fitting baju.


Tesla benar-benar merasa beruntung diperlakukan baik oleh calon Mama mertuanya, tidak menyangka mendapatkan kehangatan dari Mamanya Gamma.


Gamma sendiri mencoba jas yang akan dirinya pakai, senada dengan warna gaun yang akan Tesla pakai nanti.


Sedangkan di kantor Rudy tampak kesal dengan hasil tender yang tidak sesuai, dan dua orang yang duduk didepan Rudy sudah bercucuran keringat dingin.


"Kerja kalian apa, membuat klien tertarik saja tidak bisa." Rudy melempar berkas yang dia baca tadi, membuat dua orang yang lebih tua darinya hanya bisa menunduk takut.


"M-mereka ingin rancangan kekinian dan fresh tuan, karena potensi rancangan seperti itu akan menguntungkan proyek mereka, dan rancangan yang sudah kami buat belum bisa membuat mereka puas." Jawab salah satu dari mereka tanpa berani menatap wajah Rudy yang marah.


"Perbaiki, saya tidak mau dengar kata gagal!!" Rudy membalikkan kursi kerjanya menghadap jendela besar pemandangan kota, membuat kedua orang itupun pamit pergi.


Usianya memang sudah tak lagi muda, mungkin juga Klien membutuhkan ide segar untuk era modern, Rudy yang sebenarnya sudah ingin pensiun tapi Sagara tidak berada di kantor pusat. Dirinya akan menyerahkan kedudukannya untuk Gamma setelah pemuda itu mampu, tapi sampai saat ini Gamma hanya bisa membuatnya darah tinggi, dan Rudy melihat Gamma adalah versi mudanya dulu.


Bukan tanpa alasan Rudy sering membandingkan Gamma dengan Sagara. Rudy hanya ingin Gamma terlatih untuk menjadi pria yang tidak mudah menyerah, Rudy ingin membangun mental dan karakter Gamma agar kelak menjadi pemimpin yang sukses, tapi apa yang dia lakukan justru malah sebaliknya. Mendapat perlawanan dari Gamma.


"Semoga gadis itu bisa membuat mu lebih baik Gamma." Gumamnya sambil menerawang jauh.