
Malam hari Gamma tampak gugup saat mereka menunggu harap-harap cemas didepan sana. Pintu belum di bukakan tapi jantungnya sudah berdetak maraton.
Meskipun wajahnya masih babak belur, tapi ketampanan Gamma tidaklah luntur, justru jika para gadis melihatnya pasti mereka akan semakin berteriak histeris.
"Kenapa lama sekali bukanya." Mentari sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon menantu dan juga besan, dirinya sudah penasaran bagaimana paras gadis yang sudah membuat putranya melakukan hal gila.
Rudy hanya diam dengan tatapan datar, pria itu sebelas dua belas dengan Gamma sebenarnya.
Sedangkan Sagara tidak bisa ikut karena ada pekerjaan yang belum selesai, bahkan anak tertua itu sempat mengirimkan pesan pada Gamma sebuah ucapan semangat.
Tak lama terdengar suara kunci pintu diputar dari dalam, mereka bertiga sudah ancang-ancang dengan sikap waspada kalau-kalau penyambutan mereka tidak berkenan.
Gina menatap tiga orang yang berdiri dengan penampilan rapi, bahkan Gina bisa melihat barang-barang branded yang Mentari pakai.
"Maaf cari siapa?" Tanya Gina yang tidak kenal dengan mereka.
"Malam Tante, saya mencari Tesla." Ucap Gamma dengan gugup.
Bagaimana pun keadaannya Gamma tetaplah merasa gugup dan juga takut, lain hal nya jika dirinya harus bertarung, lebih baik Gamma disuruh berkelahi dari pada dihadapkan dengan keadaan seperti ini.
"Silakan masuk." Gina mempersilahkan tamunya untuk masuk, mendengar nama Tesla disebut cukup membuat Gina mengerti siapa mereka. Apalagi melihat pemuda yang wajahnya cukup tampan tapi sayang babak belur, sudah membuat Gina yakin jika pemuda itu habis kena amuk.
"Silakan duduk, saya panggil suami saya dulu." Gina pun permisi meninggalkan ketiganya yang hanya saling diam.
Mentari mengusap lengan putranya yang tampak gugup agar tenang.
"Semua akan baik-baik saja, jangan takut." Bisik Mentari pada putranya.
Tap..Tap...tap...
Suara langkah kaki yang terdengar dari tangga membuat Gamma menoleh ke atas, Gamma menelan ludah saat melihat papanya Tesla yang berjalan mendekatinya.
Sedangkan Rudy hanya menatap biasa saja pada pria yang baru saja tiba, karena sepertinya dia pernah melihat pria itu.
"Ada apa kalian kemari?" Bayu tak lagi basa-basi, dari keterangan istrinya dirinya sudah tahu maksud kedatangan mereka.
"Maaf Om, saya Gamma ingin-"
"Jangan berlebihan, anak saya memang nakal jadi tidak perlu melakukan hal yang berlebihan." Bayu memotong ucapan Gamma.
Rudy mengerutkan keningnya. "Maaf tuan, kami datang untuk mempertanggung jawabkan perbuatan anak saya." Ucap Rudy yang akhirnya bicara.
"Pak, sebelumnya kami minta maaf. Boleh kami bertemu dengan putri anda." Mentari ikut buka suara, sepertinya orang tua Tesla menyalahkan putrinya. Dan tidak mau menerima pertangungjawaban dari Gamma.
Bayu melirik Gina, membuat wanita itu beranjak untuk memanggil Tesla.
"Kami datang hanya ingin memastikan jika putra kami bertanggung jawab, lagi pula disini keduanya bersalah buka hanya putri anda." Rudy yang memang memiliki sifat tegas bicara dengan nada tegas dan serius.
"Tapi anda-"
"Tidak perlu khawatir, kami menerima putri anda apapun keadaannya, karena putra kami menginginkannya." Timpal Rudy lagi.
Gamma sempat tertegun, tapi dirinya yakin jika papanya melakukan ini hanya dalam bentuk tanggung jawab saja, tidak lebih dari itu. Mana mungkin papanya yang membenci dirinya berubah menjadi baik, lihat saja nanti pasti akan berubah.
Gamma menatap keatas tangga, dimana seorang gadis sedang menuruni tangga dengan kepala menunduk.
Tesla dengan baju tidurnya berkarakter Spongebob berjalan menuruni tangga, gadis itu tidak memakai kacamata dan rambutnya hanya diikat asal ke atas. Gamma gemas sekali ingin mengigit leher putih nan jenjang itu, rasanya malam panas waktu itu akan kembali terulang.
"Tuhan, mikir apa aku." Gamma menggelengkan kepalanya, mengusir otak ngeres nya yang memang sudah terkontaminasi.
Mentari meyambut dengan binar calon menantunya yang ternyata cantik.
"Sayang sini." Ucap Mentari antusias.
Tesla ragu-ragu, tapi saat tatapannya bertemu dengan Gamma, Tesla langsung menunduk dan berjalan menyalami kedua orang tua Gamma.
"Sayang siapa namanya." Mentari menyentuh tangan Tesla dan menggenggamnya.
"T-tesla Tante." Jawab Tesla gugup.
"Duh, calon mantu ku cantik." Gumam Mentari yang masih terdengar oleh Tesla, membuat gadis itu menunduk menyembunyikan wajah tersipunya.
"Jadi kapan mereka akan menikah?"
Semua mata menatap kearah Bayu yang baru saja bicara, Gamma yang sempat lupa kegugupannya saat Tesla datang kini kembali dilanda rasa tak percaya diri. Bukan apa-apa dirinya tidak memilki apapun untuk menikahi Tesla.
"Lusa mereka akan menikah."
Hah??