
Hook yaaa hook eee
"Wong ko ngene kok di bandeng.. bandeng ke.. saing..saing ke, Yoo mesti kalah.."
Suara dari markas sudah menggema saat Gamma sampai di depan pintu utama.
"Ku berharap engkau mengerti di hati ini...hanya ada Dewi..." Deva menyambung dengan begitu menghayati.
"Huuu, raja playboy Lo." Anji melepar snack ke wajah Deva.
"Sialan Lo njing!"
Anji melotot garang pada Deva, enak aja namanya bagus di ganti nama kebun binatang.
Semua mata tertuju pada sosok ketua yang baru saja masuk dengan wajah yang tampak berbeda, Gamma menghampiri salah satu anggota gengnya yang sedang duduk sambil makan kuaci.
"Thanks Ger." Ucap Gamma sambil memberikan salam ala pria sejati pada anak buahnya itu.
"Tapi Lo harus harus waspada bos, gue tahu cewek lo tinggal-"
"Yes I know." Gamma memotong ucapan Gerry. "Thanks untuk infonya, Lo ngak perlu khawatir sama gue." Gamma menepuk pundak Gerry beberapa kali, dan kembali pada rekan anggota inti yang sejak tadi memperhatikan interaksi dirinya dengan salah satu anggotanya.
"Lo ada urusan apa sama si Gerry?" tanya Dion sambil geser saat Gamma duduk ditengah-tengah antara Dion dan Celo.
"Bukan apa-apa." Gamma mengambil minuman kaleng di meja, membukanya lalu menyesapnya sampai setengah.
"Gam, lihat ini." Agam memberikan ponselnya pada Gamma.
"Salah satu teman gue ada yang kirim Vidio ini, mereka benar-benar keterlaluan." Tutur Agam yang geram dengan kelakuan mereka.
Gamma mengembuskan asap nikotin yang yang baru saja dirinya hisap.
"Gue ngak nyangka diluar mereka juga brutal, dengan geng nya." Tambah Celo.
Dividio itu jelas anggota Device melakukan hal yang tidak senonoh dan berbentuk pelecahan, membuat siapa saja yang melihatnya pasti merasa geram.
Anggota yang lain hanya bisa berbisik-bisik setelah melihat Vidio yang diperlihatkan Agam.
"Tapi itu bukan wilayah kita, mereka tidak akan berani bertindak jika di wilayah kita."
Mendengar ucapan Dion mereka mengagguk setuju.
"Masalahnya itu para cewe di lecehin sama mereka, gila tu anak ya." Deva menimpali.
"Jangan kelewat batas, kita tidak akan mengusik jika mereka tidak mengusik lebih dulu." Ucap Gamma.
"Tapi Lo ngak kasihan lihat korban dilecehkan kek gitu?" Agam kembali bicara.
Gamma menatap Agam sekilas, dan kembali menyesap nikotin yang ada disela-sela jarinya.
Mereka tampak menimang ucapan Agam.
"Tapi kalau kita ikut campur sudah pasti mereka akan semakin gila buat cari masalah dengan Black Tiger."
Semua menatap Celo dengan tatapan masing-masing.
Black Tiger tidak akan mengusik jika tidak diusik, mereka bukanlah para geng yang suka buat keributan tanpa sebab dan akibat. Meskipun geng motor tetap saja di pandang sebelah mata karena terkenal membuat onar dan keributan. Hanya saja ada nilai plus sedikit yang mereka miliki.
"Terserah kalian, tapi gue ngak akan bertindak kalau tidak ada urusan dengan Black Tiger." Gamma beranjak dari duduknya dan meninggalkan mereka untuk pergi ke kamar.
Sedangkan Agam merasa tidak tega dan marah melihat ulah Device yang suka melecehkan orang tanpa sebab.
"Pak ketu bener Gam, kita ngak bisa bayangin kalau kita cari gara-gara sama Gilang dan anteknya." Dion mencoba memberi nasehat, karena melihat reaksi Agam yang sepertinya keberatan dengan ucapan Gamma tadi.
Tidak ada yang bicara, mereka takut salah bicara. Karena Agam jika sudah kehendaknya tidak bisa di kendalikan.
Gamma menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk miliknya, ranjang yang pernah dia tiduri bersama Tesla.
Memejamkan mata, Gamma memikirkan banyak hal. Pertemuan dengan Tesla adalah hal yang paling dia harapkan dan inginkan. Tapi disisi lain Gamma juga merasa akan ketakutan.
Bagaimana jika Gevan tahu jika Tesla adalah miliknya, Gamma tidak ingin Tesla menjadi kelemahannya dan membuat gadis itu dalam bahaya.
Memikirkannya saja rasanya Gamma tidak yakin jika Tesla akan baik-baik saja, tapi membawa Tesla pergi bukanlah hal yang mudah. Gamma frustasi sendiri.
Sedangkan gadis yang dia pikirkan sedang bekerja dengan penuh semangat, Tesla tidak tahu jika dirinya bisa saja dalam bahaya jika Gevan tahu hubungannya dengan Gamma.
"Tesla!!"
Tesla tersentak saat suara teriakan dibelakangnya begitu keras.
"I-iya tuan ada apa?" Tesla tidak berani melihat wajah garang Gevan yang sedang menatapnya. Gadis itu tidak tahu apa kesalahannya sampai membuat wajah Gevan merah padam seperti itu.
"Katanya tidak pernah pulang kerumah, tapi ini." Tesla hanya bisa bicara dalam hati.
Jangan lupa LIKE KOMEN sayang 😘