
Seperti biasa setiap pagi Tesla akan membantu menyiapkan sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Tiara meyiapkan semua masakan di atas meja hasil masakan mbok Arti.
"Mbok apa lagi?" Tanya Tesla saat kembali ke dapur.
"Sudah, kamu siapkan jusnya juga." Jawab mbok Arti sambil memberikan jus dari lemari pendingin.
Tesla melakukan apa yang mbok Arti suruh, gadis itu meyiapkan semua dengan baik seperti biasa.
"Tesla siap-siap dulu ya mbok." Pamitnya untuk bersiap ke sekolah.
Tesla masuk kedalam kamarnya di bagian belakang bersama mbok Arti. Mengganti bajunya dengan baju seragam sekolah, Tesla megambil tasnya yang sudah dia siapkan tadi malam.
Saat keluar dari kamar Tesla terkejut sampai hampir jatuh kebelakang jika seseorang tidak menarik pinggangnya.
"G-gevan." Jantung Tesla berdegup dengan kencang melihat Gevan tiba-tiba berdiri di pintu depan kamarnya.
Tesla sedikit mundur saat tubuhnya sudah seimbang.
"Em, den Gevan ada apa?" Tanya Tesla dengan gugup karena rasa takut yang tiba-tiba datang melihat wajah datar Gevan.
"Gue butuh lo kerjain pr gue." Gevan mengulurkan buku tugasnya pada Tesla.
Degan tangan gemetar Tesla menerima buku yang Gevan ulurkan.
"Gue tunggu 10 menit."
Setelah itu Gevan pergi membuat Tesla langsung bernapas lega.
"Gamma, kamu bikin aku takut." Gumamnya saat mengingat ucapan Gamma.
"Bukan hanya Gilang, tapi Gevan adalah orang yang paling berbahaya." Ucap Gamma saat itu.
Tesla buru-buru duduk di kursi yang biasa untuknya makan bersama bik Arti, gadis itu mengerjakan tugas Gevan dengan cepat.
Tesla berjalan keluar rumah dan melihat Gevan yang duduk di atas motor besarnya.
"Pr nya Den."
Tesla menyodorkan buku tugas Gevan.
Gevan melirik tangan Tesla yang terulur, tatapan Gevan tertuju pada pergelangan tangan Tesla yang masih terlihat memar meskipun sudah samar, tapi jika di perhatikan dengan baik memar itu sangat terlihat.
Gevan megambil bukunya dan memasukkan kedalam tas, melihat Tesla yang akan pergi dengan sengaja Gevan mencekal tangan Tesla.
.
.
.
Gamma keluar dari markas untuk berangkat sekolah, tapi sepertinya pagi ini dirinya akan telat.
Gamma berjalan menuju motor besarnya dan tidak memperdulikan seseorang yang sudah menunggunya di depan mobilnya.
"Gamma!"
"Mau apa lagi sih." Omel Gamma degan wajah malas. "Parasit tidak tahu diri." Gumam Gamma.
Sagara manatap Gamma dengan tatapan berbeda, tidak ada tatapan santai yang ada seperti tatapan kebencian.
"Ada urusan apa, tuan Sagara pagi-pagi datang kemari." Ucap Gamma, lebih tepatnya seperti ejekan menatap Sagara yang berjalan mendekatinya.
Sagara berdecih. "Nyalimu terlalu besar anak muda." Sagara menepuk bahu Gamma. "Tapi jangan besar kepala lebih dulu, ini baru pemula."
Gamma tak bergeming sampai Sagara meninggalkan markas dengan mobilnya.
"Gue gak akan biarin Lo hancurin keluarga Gue."
.
.
.
Dua puluh lima tahun yang lalu...
Sepasang suami istri tersenyum bahagia, saat menggendong balita berusia tiga tahun. Balita itu tertawa saat Rudy menggoda balita itu dalam gendongannya.
"Sudah Pah, nanti dia nangis." Ucap Mentari yang melihat balita gembul dan tampan itu tertawa cekikikan.
"Gara panggil Om dan Tante Mama papa ya." Ucap Mentari dengan senyum mengembang.
"Mama, papa." Balita tiga tahun yang di panggil gara itu hanya bisa mengikuti ucapan mentari.
"Ya, begitu sayang. Karena kami sekarang orang tuamu." Ucap Rudy dengan tatapan bahagia.
Keduanya sepakat untuk mengadopsi balita bernama Sagara yang selama ini mencuri perhatian keduanya saat mendatangi panti asuhan untuk memeberikan donasi.
Mentari begitu dekat dengan Sagara saat berkunjung, dan Rudy tidak masalah dengan permintaan Mentari yang ingin mengadopsinya, karena Sagara dengan tingkahnya juga mencuri perhatian Rudy Sedayu.
Usia pernikahan mereka yang baru beberapa bulan tidak membuat keduanya merasa terganggu dengan kehadiran Sagara. Dan ternyata hampir tujuh tahun pernikahan keduanya baru diberikan keturunan. Keberadaan Sagara melengkapi kelurga Rudy dan Mentari sebelum kehadiran putra kandung mereka, Gamma Satya Sedayu.
.
.
.
Tesla turun dari motor Gevan, gadis itu memberikan helm yang dia pakai pada Gevan.
Sejujurnya Tesla begitu takut berada di dekat Gevan, tapi karena tidak ingin membuat Gevan curiga, Tesla sebisa mungkin bersikap biasa.
"Terima kasih den." Ucap Tesla pada yang baru saja melepaskan helm nya.
Gevan tidak menjawab melainkan menatap Tesla, membuat Tesla tidak nyaman.
"Lo mau jadi pacar gue."
Glek