
Tesla menahan tawa melihat kelakuan anak majikanya itu, bisa-bisanya pulang dalam keadaan mengenaskan hingga membuat pemuda itu marah-marah kayak cewek lagi pms.
Gevan yang terkenal garang dan cool, menjadi malu dan ingin marah sendiri, kejadian saat dirinya berkumpul dengan anggotanya sungguh membuatnya malu sampai rasanya ingin menghilang saat itu juga.
Bagaimana tidak jika, di dalam tas yang dia bawa ada sebuah kotak bekal dengan warna menggelikan.
Sudah dipastikan itu ulah Tesla yang disuruh Mamanya, niat hati tidak ingin pulang, tapi Gevan ingin memberikan pelajaran pada gadis yang sudah membuatnya malu itu. Gevan memang sama sekali tidak membuka tasnya, tapi saat di tempat berkumpul dengan geng nya Gevan menyuruh salah satu anggotanya untuk mengambilkan sesuatu dari tasnya, tapi justru yang dia dapatkan rasa malu hingga ubun-ubun.
"Sebagai hukuman, kerjain tugas gue." Gevan melempar buku tugasnya di meja, di mana Tesla duduk di lantai.
"Tapi kan itu bukan salah saya tuan." Elak Tesla.
Enak saja dirinya disuruh mengerjakan tugas, tugasnya sendiri saja banyak.
"Lo mau gue aduin Mama!" Bentak Gevan.
Tesla menghela napas, katanya ketua geng tapi kok main ngadu.
"Saya akan kerjain kalau tuan juga mau ngerjain." Tantang Tesla dengan wajah tak kalah ketus.
Gevan memicingkan matanya, sejak kapan ada wanita yang berani menyuruhnya. Kurang ajar sekali.
"No, Lo kerjain sendiri atau gue aduin sama Mama." Tolak Gevan lagi.
"Oke, saya juga akan aduin tuan kalau tadi Tuan bolos sek-"
"Kalian kenapa? siapa yang bolos." Tiba-tiba Merry datang membuat Gevan menutup mulut Tesla yang hampir keceplosan.
"Ngak papa Mah, ngak ada yang bolos." Gevan melepaskan tangannya dari bibir Tesla dan melotot tajam pada gadis itu.
Merry melirik keduanya dengan alis menyatu, sepertinya mereka sedang menyembunyikan sesuatu.
"Tesla katakan?" Titah Merry dengan serius.
"Em, anu Nyonya tuan Gevan-"
"Gevan pengen belajar bareng Tesla mah, dia kan pintar mah." Potong Gevan lebih dulu untuk menyelamatkan dirinya.
"Oke Mama setuju, kalau kamu berhasil masuk sepuluh besar di ujian ini, maka Mama akan berikan kalian hadiah." Ucap Merry dengan sungguh-sungguh.
"Tapi jika kalian gagal, maka kalian akan mendapatkan hukuman."
Tesla ingin membuka mulutnya tapi nyonya Merry keburu mengangkat tangannya untuk tidak boleh membantah.
"Lakukan dengan benar, dan kamu Gevan jika gagal maka kamu yang akan paling tahu hukuman apa menantimu."
Gevan bergidik ngerti membayangkan hukuman yang akan dia dapatkan, sepertinya tujuannya pulang malah membuat petaka untuk dirinya.
"Sial!! ini semua gara-gara Lo!" Gevan menatap Tesla tajam.
Dibelahan kota lainya, seorang pria tampak nanar melihat pemandangan di depan matanya.
Istrinya sedang bercumbu dengan pria lain bahkan bermesraan tanpa rasa bersalah.
Ingin rasanya Bayu menghajar laki-laki yang sudah kurang ajar padanya itu, tapi apalah daya jika anggota tubuhnya saja tidak bisa digerakkan.
"Sialan kalian!!" Umpat Bayu dalam hati tanpa bisa melakukan apapun.
.
.
.
Pagi hari suasana markas sudah sepi, hanya ada beberapa orang yang memang memilih menginap disana dari pada pulang.
Gamma berjalan menuju dapur untuk melihat stok persediaan di markas, karena memang setiap tiga hari sekali Gamma akan memberikan uang untuk mengisi makanan mereka.
Setelah mengecek, Gamma memilih untuk berangkat ke sekolah.
Saat akan mengendarai kendaraannya Gamma kembali berdecak saat melihat sebuah mobil berhenti didepan markas.
Orang di balik kemudi pun turun, Gamma hendak memakai helm full face nya tapi suara Sagara membuatnya berhenti.
"Gamma!"
Sagara langsung meraih kerah baju Gamma dengan tatapan marah.
"Mau Lo apa hah!" Sagara semakin mencekram erat tangannya di baju Gamma. "Lo pikir Lo hebat, bisa ngambil tender gue hah! Lo pikir Lo hebat!!"
Napas Sagara memburu dengan wajah merah padam, kemarahannya sudah di ubun-ubun saat dirinya mendapati tender yang dia ajukan ditolak mentah-mentah, bahkan mereka sempat membandingkan hasil miliknya dengan milik Gamma, sungguh Sagara tidak menyangka jika lawannya adalah adiknya sendiri.
Gamma melepas kasar tangan Sagara yang mencekram bajunya, Gamma menatap Sagara dengan senyum remeh di bibirnya.
"Seharunya Lo bangga punya adik cerdas kayak Gue. Tapi sepertinya Lo malah tersaingi dan merasa terancam." Ucap Gamma dengan santai.
Sagara sudah mengepalkan tangannya kuat, ingin sekali meninju wajah Gamma yang terlihat meremehkan dirinya.
"Oh ya gue lupa, kalau Lo memang haus akan pujian."
Bugh
Gamma menyentuh sudut wajahnya yang mendapat bogem dari Sagara, pemuda itu tersenyum sinis melihat wajah Sagara yang merah padam.
Sagara meninggalkan Gamma yang hanya membuatnya semakin kesal dan lepas kendali, belum lagi dirinya harus merelakan kerugian yang tidak sedikit karena tender.
"Lo tunjukkin sifat asli Lo."Gumam Gamma meringis merasakan tinjuan Sagara yang tidak main-main.