
Suara sirine ambulance dan polisi saling bersahutan di jalan pada malam hari, suasana jalanan yang ramai membuat pengendara lainya minggir karena mendengar suara sirine ambulance yang bertanda membawa pasien gawat darurat.
Rombongan mobil sampai dirumah sakit dan langsung disambut dengan brankar untuk membawa banyak pasien di antaranya terdapat pemuda yang terluka parah karena mendapat tusukan benda tajam.
"Ya tuhan Gamma!"
Mentari menangis histeris melihat putranya bersimbah darah di bagian perutnya, belum lagi ada gadis yang dia kenali ikut didorong dengan wajah lebam memprihatinkan.
"Tesla!" Mentari menutup mulutnya dengan air mata membasahi wajahnya, tenaganya langsung hilang dan seketika pandangan langsung gelap.
"Mah!"
"Sayang!"
Rudy langsung merangkul tubuh istrinya yang terkulai lemah, pria itu menggendong istrinya menuju ruang perawatan.
Sedangkan Sagara yang melihat Gamma sekarat hanya tersenyum miring.
Merry dan Bagaskara baru saja tiba setelah Gevan masuk dalam ruangan tindakan, Gamma dan Gevan sama-sama terluka parah.
Sedangkan Tesla sudah berada di ruang perawatan gadis itu masih terbaring lemah tak sadarkan diri dengan luka di wajahnya yang memar dan bengkak.
"Bagas?" Sapa Rudy saat keluar dari ruangan Tesla meninggalkan sang Istri yang dia taruh satu ruangan dengan Tesla, agar dirinya tidak terlalu ribet untuk memantau keduanya.
"Rudy!" Bagaskara yang sedang memenangkan istrinya menatap pria yang berdiri tidak jauh darinya.
Keduanya saling tatap namun hanya dalam kebisuan, entah apa yang membuat keduanya canggung hingga lidah mereka terasa kelu untuk sekedar berbicara.
Tak lama pintu ruangan operasi terbuka, suster keluar dan memanggil nama keluarga pasien.
"Keluarga saudara Gamma!"
"Saya sus, bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Rudy dengan cemas dan khawatir.
"Pasien kehilangan banyak darah, dan dalam keadaan kritis, kami membutuhkan golongan darah-"
"Ambil punya saya sus, golongan darah kami sama." Ucap Rudy menyela ucapan suster.
Rudy mengikuti suster yang akan membawanya untuk donor darah.
"Pah Gevan." Merry menangis sesenggukan membayangkan putra satu-satunya dalam keadaan sekarat.
"Sabar mah, semoga Gevan bisa melewati semuanya.
.
.
Di lain tempat, tepatnya di ruangan kerja Rudy. Sagara meremas kertas yang dia pegang dengan menahan marah.
"Rupanya aku telah di bodohi."
Sagara tampak terlihat murka, wajahnya memerah dengan tangan terkepal erat.
Arrghh!!!
Prang!!!
Semua benda yang berada di atas meja berhamburan di lantai, pria 25 tahun itu mengamuk seperti orang kesetanan.
"Kurang ajar!!"
Sagara terus memporak porandakan apa saja yang ada di ruangan itu, ruangan yang awalnya rapi kini sudah seperti kapal pecah karena ulah Sagara yang seperti orang gila.
"Gamma sialan!!"
.
.
"Kamu tahu apa yang membuat aku jatuh cinta pertama kali melihatmu?" Ucap seorang pemuda yang sedang berbaring dan menaruh kepalanya di pangkuan seorang gadis. Langit Sore menemani kebersamaan keduanya yang sedang berada di rumah pohon dekat danau. Gamma merebahkan kepalanya dan tersenyum melihat wajah cantik Tesla yang sampai detik ini nama itu masih bertahta dalam hatinya. "Mata kamu?" Tangan Gamma terulur untuk mengusap kelopak mata Tesla yang otomatis terpejam. Tatapan mata kamu yang membuat aku tertarik untuk mendekatimu." Katanya lagi dengan tatapan tulus. "Tesla, No girl makes my heart beat faster than you." (Tesla, tidak ada gadis yang membuat jantungku berdebar kencang selain dirimu) Gamma menatap wajah Tesla yang menampilkan senyum, wajah gadis itu merona dan semakin terlihat cantik dengan sinar jingga di sore hari. "I love you, love you with all the feelings I have." (Aku mencintaimu, mencintaimu dengan segenap rasa yang ku miliki).