
"Anak sialan!!"
Prangg!!
Rudy melempar vas bunga yang terdapat di meja kerjanya, pria itu melampiaskan kemarahannya pada vas bunga yang tak berdosa.
Ingin sekali menghabisi orang yang sudah membuatnya murka, Rudy akan memberi Gamma pelajaran nanti, lihat saja.
"Tenang Mas, ini memang kesalahan anak kita yang mabuk malam itu. Tapi kita juga harus memikirkan nasib gadis yang sudah Gamma hancurkan masa depannya." Ucap Mentari dengan nada lembut agar Rudy tidak semakin emosi.
"Mau jadi apa dia, kalau masih bau kencur sudah bisa membuat anak gadis orang hamil!" Geram Rudy dengan amarah yang masih meledak-ledak.
Sudah berandalan, tidak bisa diatur. Kini malah membuat malu kelurga Sedayu, mau jadi apa Gamma ini sebenarnya.
"Mas, kita selesaikan masalah Gamma dengan kepala dingin."
Kali ini Gamma tidak menurunkan Tesla di persimpangan jalan, bahkan keduanya tidak masuk sekolah karena Gamma sengaja bolos membawa Tesla.
Keduanya berada di pinggir pantai yang cukup sepi, Gamma duduk di samping Tesla yang menatap lurus menerawang jauh.
"Gue akan bertanggung jawab, gue minta Lo mau." Ucap Gamma di sela-sela suara deburan ombak yang terdengar menenangkan.
Tidak ada jawaban dari gadis di sampingnya, Gamma meraih bahu Tesla agar gadis itu bersandar di bahunya.
"Apapun yang terjadi gue akan bertanggung jawab." Gamma mengusap lengan Tesla dengan lembut.
Meskipun hati dan pikirannya berperang, dengan apa yang akan terjadi kedepannya. Gamma tetap memberikan keyakinan pada Tesla, dirinya tidak ingin membuat Tesla semakin terpuruk dan stress dengan keadaannya yang sekarang hamil. Tidak ada yang bisa Gamma salahkan kecuali dirinya sendiri.
Sedangkan Tesla tidak bisa memikirkan bagaimana kehidupannya kedepan, dirinya hamil di saat masih sekolah, sungguh Tesla menyesal terperangkap dalam takdir menyakitkan ini.
"Gue janji Tes, gue janji akan melakukan apapun untuk kehidupan kita dan anak kita."
Gamma mengambil keputusan paling besar dihidup nya, dirinya menjanjikan hal yang begitu sulit untuk dirinya sendiri tepati. Cara membahagiakan dirinya sendiri saja dirinya belum bisa, apalagi ini berjanji untuk membahagiakan wanita yang akan menjadikannya seorang ayah untuk beberapa bulan kedepan.
"Aku takut Gam." Lirih Tesla dengan suara parau.
Gamma semakin mengeratkan pelukannya. "Jangan takut, ada gue. Gue akan selalu jaga kalian."
.
.
.
Masih tampak sepi karena masih jam sekolah, hanya ada beberapa orang yang memang tidak melanjutkan sekolah. Mereka menatap gadis yang di gandeng ketua mereka seksama. Pakai kacamata dengan penampilan yang kurang menarik, tapi bagi pemuda yang melihat dengan benar ada kecantikan di balik kacamata itu, dan hanya Gamma pemuda yang pertama kali bisa melihat itu.
"Gue mau istirahat jangan ganggu!" Kata Gamma pada anggota Balck Tiger yang ada di sana.
Mereka hanya mengangguk mengiyakan, sedangkan Tesla sudah menuduk merasa malu dan juga takut.
Untuk pertama kali dirinya di bawa kemarkas geng pembuat onar.
Gamma membawa Tesla masuk ke kamar pribadinya, kamar yang hanya dia sendiri yang menepati, lain dengan kamar anggota inti.
"Istirahatlah di sini." Gamma melepar jaket yang di pakai di sofa, pemuda itu mengambil minuman disudut ruangan ada lemari pendingin.
Tesla duduk di sofa didalam kamar itu, matanya memindai ruangan yang cukup besar itu dengan seksama.
Gamma ikut duduk di samping Tesla, pemuda itu merebahkan kepalanya di pangkuan Tesla dengan santai.
"Kalau misal udah nikah, Lo mau ya tinggal di sini." Ucap Gamma sambil menatap wajah Tesla dari bawah.
"M-maksudnya?" Tesla menjadi gugup, apalagi berdua dengan Gamma dalam satu ruangan berbentuk kamar, membuat pikiran Tesla melayang pada malam itu.
Tangan Gamma terulur untuk melepaskan kacamata yang Tesla pakai, menaruhnya di atas meja dan matanya kembali menatap wajah cantik Tesla yang selama ini bersembunyi di balik kacamatanya.
"Gue pengen tinggal di sini setelah menikah, gue akan cari uang untuk kalian." Ucapnya lagi dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Tesla.
"Gam kenapa kamu buat aku seperti ini."
Hening, Gamma belum menjawab. hanya jakunnya yang naik turun dengan tatapan intens.
"Gue suka sama loe, sejak pertama kali loe masuk Mandala."
Tesla tidak bisa berkata-kata lagi, wajahnya tiba-tiba kaku dengan jantung berdebar.
"Saat Lo terlambat."