GAMMATES

GAMMATES
Keluarga baru



Tesla mengerjapkan matanya saat merasa tidurnya sudah cukup lama, gadis itu mulai membuka matanya dan menatap kesekeliling, dirinya masih berada di kamar Gamma.


Bergerak, tubuhnya terasa berat. Tesla menatap bagian perutnya yang melingkar sebuah tangan cukup kekar.


Menoleh kesamping, Tesla melihat wajah Gamma yang terlelap, pemuda itu begitu lelap memejamkan matanya.


"Gam." Tesla menyentuh bahu Gamma yang memeluknya, menggoyangkannya pelan agar pemuda itu bangun.


"Gamma Bangun, sudah sore." Tesla mulai mengguncang tubuh Gamma sedikit kasar.


"Eghh, nanti Mah. Lima menit lagi." Gumam Gamma semakin mengeratkan pelukannya seperti guling.


Tesla menjadi sesak napas akibat pelukan Gamma yang terlalu erat.


"Gam, aku bukan Mama kamu!" Tesla mendorong dada Gamma karena napasnya mulai engap.


"Hm." Gamma membuka matanya, saat tidurnya mulai terusik, matanya menyorot datar Tesla yang seperti ikan kehausan.


"Kamu berat Gam, bikin aku sesak napas." Ucap Tesla sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Gamma melirik jam di ponselnya, pukul tiga lewat, itu berarti para anggota geng nya sudah ada di markas.


Gamma langsung turun dari atas ranjang, pemuda itu menyambar minuman kalengnya tadi dan berlalu keluar. Tidak peduli dengan muka bantalnya, yang penting Gamma masih tetap tampan dari pada yang lain.


Tesla menatap punggung Gamma yang menghilang di ambang pintu, gadis itu mencari kamar mandi di dalam kamar itu.


Saat menuju ruang berkumpul, Gamma menjadi tatapan semua mata yang ada di sana. Wajah bantal Gamma menunjukan jika pemuda itu baru bangun tidur, lalu di mana gadis yang tadi mereka bilang.


"Bos, beneran Lo bangun tidur?" Tanya Anji dengan wajah penasarannya.


"Ya jelas be*go, ngak liat muka banta, sama rambut dia yang berantakan." Sambung Deva.


Agam hanya melirik Gamma yang duduk sambil menenggak minumannya.


Sedangkan Celo dan Dion memilih menunggu bukti dari pada banyak tanya.


"Ck, bos jangan bikin Anji mati penasaran."


"SUNGGUH MATI AKU JADI PENASARANNN.. SIAPA DI GADIS YANG MENJADI INCARAN..??"


"Berisik Lo ah." Anji menoyor kepala Deva saat dirinya kesal tidak mendapat jawaban dari Gamma.


"Lebih baik gue buktiin aja deh, keburu ubanan gue nungguin si bos." Karena rasa penasaran lebih besar dari pada rasa takutnya pada ketua, Anji memilih untuk mendekati pintu kamar Gamma.


"Berani lo buka, hilang palak Lo!" Ucap Gamma dengan nada tegas namun tak melihat ke arah Anji yang hampir membuka pintu.


Anji menelan ludah mendengar peringatan yang Gamma katakan, pemuda itu langsung menciut dan mendapat sorakan dari anggota lain.


"Gue masih sayang palak gue bos." Ucapnya yang sudah kembali duduk, dan menghilangkan rasa penasarannya.


Setelah Anji baru duduk, pintu kamar Gamma terbuka dari dalam, mereka semua menunggu siapa gadis yang mampu membuat Gamma tidur bareng.


Ngiiikkkk..... ngiiikkkk..... ngiiikkkk...


Hening, hanya ada suara jangkrik.


Tesla menuduk malu melihat semua pasang mata menatap kearahnya, dirinya seperti seekor kelinci yang akan menjadi bahan percobaan.


"Tesla?"


Gamma melirik kebelakang dan tangannya ia gerakkan untuk menyuruh gadis itu mendekat.


Membenarkan kacamata, Tesla berjalan dengan takut-takut.


"Kenalin, tapi kalian semua udah kenal." Ucap Gamma saat Tesla sudah duduk disampingnya.


Gamma tidak segan-segan merangkul bahu Tesla agar dekat dengannya.


"Kita mau merrid."


"What?"


Semua orang terkejut dengan apa yang Gamma katakan barusan.


"Gue harap, kalian terima dia sebagai keluarga kita. Untuk sekarang dia tanggung jawab kalian kecuali saat ada gue." Ucap Gamma sambil menatap anggota Black Tiger satu persatu.