GAMMATES

GAMMATES
Janjian



Satu minggu telah Tesla lewati dengan tidak mudah, setiap hari gadis itu merasa takut apa yang akan terjadi hari besok dan besok.


Untuk sekarang dirinya bisa bernapas lega karena nyonya Merry sedang tidak di rumah. Mereka sedang keluar kota.


"Tesla! kamu mau makan tidak?" Mbok Arti memanggil Tesla yang masih di kamar mengganti baju setelah pulang sekolah.


Di samping kamar art ada meja bundar dan kursi untuk mereka menikamati makan.


"Iya mbok." Tesla keluar sudah berganti baju, gadis itu duduk setelah mbok Arti juga duduk.


"Nyonya dan tuan lama ya mbok perginya?" Tanya Tesla sambil menikmati makan siangnya.


"Biasanya tiga hari, tapi ngak tau juga? kenapa?" Jawab mbok Arti.


"Ngak papa, hanya sedikit lega karena untuk beberapa hari tidak harus menguntit deb Gevan." Jawab Tesla.


Mbok Arti mengagguk. "Memangnya den Gevan kenapa? apa dia berbuat hal yang aneh-aneh." Mbok Arti penasaran.


"Em, itu." Tesla malah susah menelan makanan yang akan dia telan, kenapa juga membicarakan Gevan sih.


Tesla merutuki kebodohannya, dirinya mengingat beberapa hari ini tidak mudah untuk melihat apa yang Gevan dan teman-temannya lakukan. Tesla sendiri kahawatir jika dirinya akan menjadi korban jika ketahuan menguntit.


"Tidak mbok, ayo malam masakan mbok emang lezat." Tesla segera mengalihkan pembicaraan mereka. Dirinya tidak ingin melakukan kesalahan yang akan membuatnya kesulitan.


Setelah makan, Tesla mengerjakan pekerjaan seperti biasa, membantu mbok Arti membersihkan rumah dan menyiram tanaman.


Tesla bekerja dengan sepenuh hati, mengingat majikanya cukup baik dengan memberikannya kesempatan untuk kembali bersekolah.


Sedangkan papanya Tesla tidak tahu mereka ada di mana, karena Tesla sendiri cukup sakit hati dengan papanya yang meninggalkan dirinya.


Ting


Tesla merogoh ponselnya saat ada pesan masuk dan ternyata Gamma mengirim pesan.


"Aku tunggu nanti sore di taman."


"Boleh, tapi ngak janji." Jemari Tesla membalas pesan Gamma.


"Oke, see you."


Tesla jadi senyum-senyum sendiri, dia pikir seorang Gamma adalah pria yang tidak memiliki sisi baik tapi di balik sifatnya yang urakan dan kasar hanya dirinya yang tahu.


Waktu pun dilalui Tesla degan cepat, hatinya yang sedang senang membuatnya tidak sabar ingin bertemu pujaan hati.


Tesla sudah mandi, sudah wangi dan cantik dan kini dirinya akan pergi, untung mbok Arti mengijinkan mengingat Tesla gadis remaja yang butuh hiburan, karena selama tinggal disini Tesla tidak pernah keluar, dan sekarang gadis itu punya teman setelah bersekolah.


"Nanti Tesla bawain makanan kalau ada yang jual." Ucapnya saat pamit.


"Simpan saja uang mu untuk jajan sekolah, hati-hati pulang jangan lama-lama."


Tesla memberi hormat tanda siap.


Keluar dari rumah majikanya Tesla memilih jalan kaki, karena perumahan elite tidak ada kendaraan umum yang lewat, tapi siapa sangka saat belum jauh berjalan dari rumah, justru seseorang muncul dengan motornya membuat Tesla menjadi gugup.


"Mau kemana kau!" Gevan memperhatikan penampilan Tesla yang cukup rapi, tidak seperti biasanya dirumah saat jadi pelayan.


"Mau ketemu temen den." Jawab Tesla dengan sesantai mungkin, tidak ingin jika Gevan melihat kegugupannya.


Gevan melirik Tesla sekali lagi, pasti mau ketemu cowok "Enak ya, pembokat kek Lo bisa pergi saat majikan ngak ada, cari kesempatan Lo!" Ucap Gevan dengan nada tak santai.


Tesla semakin meremat kedua tangannya, apalagi suara Gevan terdengar ketus.


"Dasar pembokat ngak tau diri!"


Setelah mengatakan itu Gevan kembali melajukan motornya masuk gerbang rumahnya.


Tesla bernapas lega, perasaan takutnya sedikit menghilang.


"Kenapa liat Gevan kayak liat malaikat pencabut nyawa." Gumam Tesla.