GAMMATES

GAMMATES
Bertemu



Jam sekolah sudah selesai semua murid membubarkan diri untuk pulang ke tujuan masing-masing.


Hari pertama sekolah membuat Tesla mulai bisa beradaptasi, ada dua teman yang mau berkenalan dengan dirinya.


Memang tidak mudah memilih teman yang baik dan tulus, dan Tesla bukanlah tipe mencari teman atau mengejar teman. Dirinya hanya diam dan akan ada orang yang mendekatinya jika orang itu ingin berteman dengannya. Karena Tesla sadar jika dirinya tidaklah harus menjadi gadis famous hanya untuk mencari teman.


Keadaan sekolah sudah cukup sepi, Tesla berjalan menuju halte untuk menunggu angkutan umum. Jarak tempat tinggal Nyonya Merry dari sekolah hanya menempuh jarah 20 menit.


Saat duduk menunduk seorang diri, tiba-tiba sepasang sepatu berhenti didepanya. Tesla mendongak dan tubuhnya tiba-tiba membeku melihat siapa orang yang berdiri didepannya.


"G-gamma." gumam Tesla dengan wajah terkejut tapi juga dengan debaran jantung yang bertalu.


Sedangkan pemuda didepanya menatapnya tanpa berkedip dengan tatapan sayu.


"Gue nemuin Lo." Ada nada bergetar saat mengatakannya.


Ada tatapan pilu sekaligus haru di antara keduanya mata mereka yang menyiratkan rasa bersalah, rindu dan juga kecewa dengan keadaan.


.


.


.


Di sebuah taman dekat dengan danau, Tesla duduk menatap hamparan rumput hijau dari bawah pohon tempatnya untuk berteduh.


Sedangkan di pangkuannya ada sosok pria yang berbaring dengan kepala yang beralaskan pahanya, Gamma tidak bicara melainkan hanya rebahan dipangkuan Tesla dan memeluk gadis itu selama 15 menit.


"Gam, aku harus pulang." Lirih Tesla yang sebenarnya tidak tega melepas momen seperti ini. Tapi keadaan keduanya sudah berubah membuat Tesla sedikit canggung.


Gamma perlahan membuka matanya dan bergerak menatap wajah Tesla dari bawah.


"Bukan sekarang saatnya untuk bercerita." Gamma beranjak untuk berdiri.


Pemuda itu meraih jaket dan tasnya lalu memakainya.


"Gue anter." Gamma memberikan tangannya untuk membantu Tesla berdiri, gadis itupun tidak menolak dan memberikan tangannya.


"Terima kasih." Tesla tersenyum tipis.


Gamma mengusap kepala Tesla, dan mengandeng tangan gadis itu untuk menuju kendaraanya.


Perlakuan Gamma sama, tidak ada yang berubah, Tesla masih merasakan bagaimana hangatnya genggaman tangan Gamma, jantungnya pun masih berdebar melihat pria yang dua bulan dia tinggalkan karena keadaannya, dan kini dia datang tanpa diduga.


Tanpa banyak bertanya, Gamma mengantarkan Tesla menuju alamat yang diberikan, keduanya tidak ada yang berbicara di atas kendaraan roda dua yang melaju dengan kecepatan sedang itu. Yang ada keduanya hanya menikmati momen yang sempat hilang dan kini kembali.


Tesla memeluk perut Gamma, menyadarkan pipinya di punggung Gamma. Bibirnya mengulas senyum, kepedihan selama ini seperti hilang begitu saja.


Kendaraan Gamma berhenti di rumah mewah perumahan elite, pemuda itu membuka helmnya dan menatap rumah itu sekilas.


"Aku tinggal disini." Tesla lebih dulu bicara sebelum Gamma bertanya.


"Jaga diri baik-baik." Gamma menarik sudut bibirnya.


"Kamu juga, hati-hati di jalan."


Tesla menatap Gamma sesaat sebelum dirinya masuk kerumah besar majikanya.


Setelah yakin Tesla masuk, akhirnya Gamma meninggalkan rumah yang Tesla tinggali.


Sepanjang jalan Gamma tidak berhenti mengulas senyum, mataharinya masih tetap sama tidak ada yang berubah.


"Gue akan pertahanin Lo Tes, gue janji."


.


.


.


"Kamu baru pulang Tes?" Tanya mbok Arti.


"Iya mbok, tadi Tesla ketemu teman sekolah lama jadi kelupaan ngobrol." Jawabnya yang sepenuhnya tidak berbohong.


"Ya sudah ganti baju lalu makan, setrikaan menunggu kamu."


"Siap mbok, laksanakan." Dengan senyum mengembang Tesla begitu bersemangat.


Mbok Arti sampai geleng kepala, "Mungkin senang karena bisa sekolah lagi."


Rumah besar yang hanya ditinggali dua orang dan satu anak itupun jarang pulang, terkadang membuat Merry dan Bagaskara merasa kesepian.


Saat mereka memutuskan untuk menampung Tesla, Merry ataupun Bagaskara sudah sepakat jika akan menyekolahkan Tesla, hanya saja mereka menunggu waktu yang tepat, dimana Tesla memang pantas untuk mereka tolong.


"Tesla, bagaimana sekolah hari pertama kamu?" Tanya nyonya Merry yang sedang duduk di sofa sambil bersantai.


Tesla menaruh teh panas yang majikanya minta. "Baik nyonya, saya juga sudah mendapat teman." Jawab Tesla dengan senyum senang.


"Bagus deh kalau begitu." Merry tersenyum tipis. "Tesla boleh saya bicara sesuatu?" lanjutnya dengan mimik wajah serius.


Melihat wajah serius majikanya membuat Tesla sedikit canggung.


"I-iya Nyonya ada apa?" Tesla harap-harap cemas mendengar apa yang akan di ucapkan majikanya.


"Saya minta tolong, kamu laporkan apapun tentang Gevan disekolah."


Mendengar itu membuat Tesla sedikit keberatan, tapi mengingat jasa nyonya Merry yang mau menampung dan baik kepadanya membuat Tesla tidaklah berani untuk menolak.


"Baik Nyonya."


"Terutama kelakuan Gevan di luar, saya tidak ingin kejadian satu tahun lalu terulang lagi. Karena itu memiliki trauma sendiri bagi saya." Ucap nyonya Merry dengan nada sendu.


Tesla sendiri tidak ingin mencari tahu apa yang terjadi satu tahun yang lalu, tugasnya hanya untuk memberi tahu bagaimana kegiatan Gevan di luar sana.


Meskipun ada tanda tangan besar dalam benaknya, Tesla hanya menyimpan dalam hati.