
Tidak ingin membuang-buang waktu Gamma maju dan melewati beberapa anggota Device. Gamma melawan mereka satu persatu meksipun dirinya hanya sendiri.
Baginya menghadapi mereka hanya seperti melawan semut, sekali injak pasti akan mati.
"Sial!!"
Gilang mengumpat saat beberapa anggotanya tergeletak tak berdaya, bela diri Gamma memang tidak bisa diremehkan. Gilang yang notabenenya ketua mereka saja bisa kalah dari seorang Gamma Satya Sedayu.
Bugh
Bugh
bugh
Kaki dan Gamma bermain dengan tepat sasaran. Membuat anggota Device kuwalahan.
"Cih."
Gamma membuang ludah dengan napas memburu, tatapan matanya tajam menatap Gilang yang hanya seorang diri.
Gilang balik menatap tajam Gamma dengan penuh permusuhan, pemuda itu seperti sedang mengibarkan bendera perang lewat tatapan mata.
"Seharunya Lo sadar, adik Lo bunuh diri bukan karena gue!" Ucap Gamma dengan dingin.
Gilang tersenyum miring. "Siapa yang tahu kalau dia menyimpan rasa sama pria macam Lo! gue tidak akan rela adik gue mati hanya karena Lo menolaknya!!" Pekik Gilang dengan wajah menahan amarah.
Adik perempuannya tergelatak tak berdaya saat Gilang menemukannya di dalam kamar. Adiknya itu menyayat pergelangan tangannya dengan pisau. Ghina gadis cantik yang memiliki kepribadian seorang diri. Kelurganya yang berantakan membuat gadis itu memilih untuk menyendiri.
Tapi saat melihat Gamma pertama kali di Ghina terpesona dengan sosok Gamma. Gadis itu diam mencari tahu tentang profil seorang Gamma.
Dan ketika Gilang mengetahuinya saat Ghina sudah tak bernyawa, Gilang menemukanmu buku diary adiknya yang penuh dengan nama Gamma. Dan Gilang begitu membenci Gamma yang menyebabkan adiknya mengakhiri hidupnya. Karena di hari sebelumnya Ghina menuliskan jika dirinya sedang patah hati.
Mungkin rasa ini hanya aku yang memilki, karena kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku.
Sakit sekali rasanya mencintaimu dalam diam, dan disaat aku memiliki keberanian untuk mengatakannya di saat itulah aku pertama kali merasakan patah hati, karena ternyata kau menolak ku.
Gamma Aku tidak menyesal menyukaimu dalam diam, dan sekarang aku tidak menyesal karena pergi dengan membawa rasa cinta ku ini.
Bait terakhir yang Ghina tulis, dan di sana tertera nama Gamma, membuat Gilang murka.
"Jika Lo tahu apa yang membuat adik Lo pergi, gue rasa Lo ngak akan bertindak seperti ini."
Gamma berjalan mendekati Gilang yang masih menatapnya dengan tatapan permusuhan.
"Gue harap Lo ngak akan menyesal." Gamma menyerahkan ponselnya pada Gilang, pemuda itu memutar sebuah rekaman suara yang sudah satu tahun dia simpan.
Gamma...
Gilang memejamkan matanya saat mendengar suara yang begitu familiar.
Mungkin ini yang di namakan jatuh cinta pada pandangan pertama, dan aku mencintai seorang pria untuk pertama kali. Jika cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya, maka aku memiliki cerita yang sedikit berbeda. Aku tidak pernah merasakan cinta dan kasih sayang seorang ayah ataupun ibu, karena bagiku mereka hanya memenuhi kehidupan ku dengan pertengkaran mereka. Aku sendiri merasa muak harus mendengarkan pertengkaran mereka setiap hari dan aku memilih untuk menikamati waktuku diluar rumah dan enggan untuk kembali ke dalam rumah yang mirip penuh dengan warna keributan. Dan saat itu aku melihatmu, di sana lah aku melihat pemuda yang mampu membuat hatiku berdebar, dan aku menyimpan wajah mu di dalam ingatanku.
Hanya melihatmu bisa membuatku tersenyum, dan melupakan beban yang selama ini aku pendam seorang diri, bagaimana memiliki orang tua yang selalu bertengkar dan di warnai dengan jeritan kesakitan. Aku sudah lelah mendengar mereka bertengkar hanya karena masalah kecil, dan mungkin ini sudah takdir ku untuk hidup lebih tenang, aku memilih hidup jauh dari mereka dan tidak akan bisa lagi mendengar mereka bertengkar.
Gamma mungkin ini caraku terakhir kali untuk menyampaikan apa yang aku rasakan, karena selama ini aku hanya menyimpan semuanya sendiri.
Meskipun kau menolak ku, aku tidak mengapa karena aku justru berterima kasih karena kamu sedikit banyak mampu membuat diriku tersenyum dan melupakan beban yang selama ini aku rasakan.
Aku sudah lelah dan aku muak melihat keluargaku yang berantakan.
Terima kasih sudah mengisi hari-hari ku untuk melihat mu dalam jarak jauh, dan menyukai mu dalam diam.