GAMMATES

GAMMATES
Datang kerumah Gevan



Sejak tadi Gamma dibuat gelisah saat ponsel Tesla tidak aktif, pemuda itu terus menghubungi tapi tetap saja hasilnya.


"Kenapa begini." Gamma menyentuh dadanya pemuda itu merasakan sesuatu yang tidak enak.


"Kalian semua bantu gue cari Tesla."


Gamma mengirim pesan di Grub Black Tiger, pemuda itu kembali mengendari motornya untuk menuju ke suatu tempat.


Sedangkan di markas semua yang membaca pesan dari ketua mereka bersiap-siap, meskipun hanya kata singkat tapi itu adalah perintah. Dan jika Gamma sudah memerintah maka mereka akan melakukanya.


"Kemana kira-kira tu cewek." Anji menyentuh dagunya dan mengelusnya wajahnya seperti berpikir.


Plak


"Anjayy sakit go*blok!"


Pekik Anji saat kepalanya mendapat geplakan dari Dion.


"Dari pada Lo berpikir menguras emosi kita, dan otak kecil Lo akan semakin sempit. Lebih baik kita turun sekarang." Ucap Dion yang kesal sekaligus gemas dengan tingkah Anji yang menguji kesabaran.


Agam, Celo dan Deva sudah berjalan lebih dulu, meninggalkan Anji dan Dion yang masih berdebat.


Mereka semua keluar dari markas untuk mencari wanita pujaan ketua mereka. Meksipun tidak tahu kemana tapi mereka akan menyisiri jalanan.


Kendaraan Gamma berhenti di sebuah rumah besar, rumah yang selama ini di tempati oleh Tesla.


"Cari siapa den?" Tanya satpam penjaga pos.


"Saya teman Tesla, gadis yang bekerja di sini." Kata Gamma sambil melihat kedalam yang tampak sepi.


Satpam itupun menelisik penampilan Gamma, celana sekolah dan tas ransel dipunggung nya.


"Sepertinya neng Tesla belum pulang, pagi tadi dia berangkat sekolah dan belum kembali." Ucap satpam itu.


Gamma mengusap wajahnya kasar. "Apa pemilik rumah ada?" Katanya lagi sambil menatap satpam itu.


"Tuan dan nyonya sedang pergi tapi-"


Tin...Tin...Tin..


Suara klakson mobil membuat keduanya menoleh, satpam itupun bergegas membuka pintu gerbang agar mobil majikanya masuk.


Gamma berjalan masuk halaman, mengikuti mobil yang berhenti.


Merry dan Bagaskara keluar dari mobil, mereka saling tatap melihat pemuda seumuran putranya di rumahnya.


"Saya hanya ingin bicara sesuatu dengan anda." Ucap Gamma dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


Bagaskara menelisik Gamma dari atas sampai bawah, dan dirinya baru ingat sesuatu.


"Baiklah, kita masuk."


.


.


.


Tesla hanya bisa menatap sekeliling yang gelap dan pengap, hanya ada sedikit cahaya dari celah jendela, dan pandangannya menajam saat melihat sesuatu di sudut ruangan.


"Siapa itu?" gumam Tesla dalam hati.


Tangan dan kakinya di ikut, hanya mulutnya yang tidak di sumpal. Tesla tidak bisa melihat sesuatu di pojok yang gelap itu, dan dirinya juga takut untuk mendekat.


"Gamma." Gumam Tesla dengan helaian napas.


Dirinya tidak mendengarkan pemuda itu saat mengajaknya untuk pergi dari rumah Gevan. Dan sekarang Tesla benar-benar menyesal.


"Kalian hanya salah paham, dan kalian bermain-main dengan nyawa."


Hanya karena kesalahpahaman Gamma menjadi terget Gevan dan Gilang, dan saat Gilang sudah selesai kini Gevan yang belum menerima kenyataan.


Gadis itu mengakhiri hidupnya karena lelah, lelah memiliki kehidupan yang muak, sedangkan Gamma hanya seseorang yang membuat gadis itu memiliki sedikit cahaya hidup. Cinta memang tidak bisa dipaksakan, Gevan mencintai gadis itu tapi tidak dengan sebaliknya.


Tesla tersenyum getir, kini dirinya menjadi korban selanjutnya? apakah dirinya juga akan menyusul gadis itu? karena kehidupannya pun sama dengan gadis itu.


Di ruang kerja Bagaskara


Gamma hanya bisa menatap pria didepanya dengan diam. Pria itu terlihat syok dan kecewa melihat apa yang dia lihat.


"Ini tidak mungkin." Gumam Bagaskara yang merasakan jantungnya sakit.


.


.


Tinggalkan jejak kalian 😘😘