
Setelah dinyatakan pulih oleh dokter, keluarga Gamma membawa pemuda itu pulang. Bukan hanya Gamma, Tesla juga ia bawa pulang lantaran gadis itu hanya sendiri tidak memiliki siapapun.
"Mah, Tesla boleh tidak tidur sama Gamma?"
Plak
Belum mendapat jawaban Gamma sudah dihadiahi pukulan dipundak pemuda itu.
"Jangan macam-macam kamu, cukup sekali kamu melakukan kesalahan!" Mentari melayangkan tatapan tajam pada putranya yang duduk di jok belakang, bersandar di bahu Tesla. Ckckck tidak tahu malu.
Rudy hanya melirik dari kaca spion, sedangkan Tesla mencoba untuk menggeser kepala Gamma, rasanya tidak nyaman apalagi ada orang tua Gamma.
"Sayang, kamu mau tidak tidur denganku?"
"Gamma!!"
Mendengar teriakan kanjeng ratu membuat Gamma langsung menutup mulutnya rapat-rapat, menggoda Mamanya dan membuatnya kesal adalah kerajaan Gamma.
Setelah sampai di rumah, Gamma keluar dari dalam mobil, di bantu dengan Tesla yang selalu ada untuknya. Jika tidak ada Gamma entah bagaimana nasibnya dan Tesla merasa berhutang nyawa pada Gamma.
"Sayang kakiku sakit," Ucap Gamma dengan wajah memelas.
Pemuda itu hanya berdiri diam sambil bersandar di body mobil.
Mentari berdecak sebal melihat kelakuan anaknya yang berubah manja, padahal saat keluar dari rumah sakit Gamma berjalan santai tidak mengeluh sakit.
"Pak Gandi! tolong gendong Gamma kedalam!!"
Pria yang di panggil pak Gandi langsung mendekat tapi langkah kakinya berhenti saat melihat tatapan tajam Gamma.
"Berani mendekat," Ucap Gamma tanpa suara sambil mengepalkan tinjunya.
Pak Gandi menelan ludah, pria yang bekerja menjadi Security itu tidak punya keberanian dengan tuan mudanya.
"Sudah Mah, biarkan saja." Rudy merangkul istrinya dan membawanya masuk kedalam rumah.
Sedangkan Tesla menghela napas panjang. "Tidak usah pak, Gamma bisa jalan sendiri." Ucap Tesla, yang ikut berjalan mengikuti kedua orang tua Gamma yang sudah berjalan didepan lebih dulu.
"Tesla, kau tega sekali!" Pekik Gamma degan wajah kesal.
Tesla tidak peduli dia tetap berjalan tanpa menghiraukan Gamma yang merajuk, memang pria itu menyebalkan dengan tingkahnya yang manja seperti bocah.
Sampainya didalam rumah Tesla berdiri mematung, mengedar kesekeliling dirinya bingung akan pergi kemana, tidak ada orang Mama papa Gamma sudah tidak terlihat.
"Kenapa diam!" Gamma berdiri disamping Tesla yang berdiri dengan bingung, pria itu dengan wajah datar dan tangannya ia masukkan ke saku celana.
"Em, aku bingung mau kemana," Ucap Tesla sambil menatap Gamma dari samping.
Gamma mengangkat sudut bibirnya sedikit, tanpa bicara dirinya segera melangkah pergi naik tangga menuju kamarnya.
"Eh, Gamma tunggu!" Tesla dengan langkah kaki cepat menyusul Gamma, dirinya orang asing dirumah besar seperti ini dan tidak tahu akan berbelok kemana takut tersesat.
Gamma semakin melebarkan senyumnya saat mendengar langkah kaki Tesla semakin dekat, sampai Gamma masuk kedalam kamar dan pintunya ia buka lebar.
Gamma berdiri di depan pintu dan menghitung mundur, pemuda itu sudah percaya diri jika Tesla akan mengikutinya masuk kedalam kamar.
"Tiga..Dua...ti-"
"Den Nyonya memanggil Aden,"
Ngiikkk
Gamma langsung berbalik dan menatap si mbok yang berdiri di depan pintu.
"Kok mbok? di mana Tesla?" Tanya Gamma dengan mata melotot bingung.
"Di bawah, teman-teman den Gamma juga baru datang sedang-"
Gamma buru-buru keluar dari kamar dan berjalan cepat untuk menuruni tangga, sampai ditengah-tengah mata Gamma melotot seperti ingin lepas saat melihat Anji yang sedang duduk berdua disamping Tesla.
"Annjiiinngggg!!"