
Di sebuah restoran mewah di pusat kota, Rudy sedang bertemu dengan klien bisnis dan juga rekanya.
Mereka duduk disebuah ruangan private di restoran itu, karena bagi pembisnis bicara di ruang terbuka kurang efesien, dan kebanyakan mereka memilih private room sebagai tempat bicara tentang bisnis.
"Bagaimana, kau sudah mendapatkan gagasan yang kamu inginkan? jaman sekarang memang milenial jika tidak mengikuti trend maka." Rudy mengibarkan tangannya bertanda good bye. "Ketinggalan."
Keduanya tertawa, selain rekan bisnis mereka juga teman lama dan saling sharing tentang pengembangan bisnis.
"Kemarin baru saja gue bertemu dengan anak muda yang memiliki ide cemerlang, dia masih sekolah." Ucap Jimmy dengan senyum mengembang.
Hasil yang diberikan pemuda itu membuat Jimmy benar-benar puas.
"Oh ya, bagaimana dengan putramu, apa dia sudah berubah menjadi kerbau yang di cucuk hidung nya." Kelakar Jimmy sambil tertawa.
Rudy mengumpat temanya itu, hingga semakin membuat Jimmy tertawa lebar.
"Sagara baru kalah tender, katanya ada pesaing baru yang membuat beberapa gagasan dan ide baru membuat para kompetitor memilih orang baru itu." Rudy sambil memasukkan potongan stik kedalam mulutnya.
Jimmy mengagguk setuju, dirinya juga mendengar hal itu.
"Salah satunya gue. Gue tidak menggunakan ide dari putra mu itu, karena memang idenya kurang menarik dari milik pendatang baru itu. Meskipun dia bekerja sendiri tanpa terikat dengan siapapun, tapi hasilnya sangat memuaskan." Tutur Jimmy.
Rudy yang mendengarnya menjadi penasaran dengan sosok yang membuat sahabatnya itu bisa memilihnya dari pada memilih bekerja sama dengan Sagara.
"Yakin dia hanya bekerja sendiri?" tanya Rudy memastikan.
"Ya, dia pemuda berbakat dan pekerja keras." Jimmy merogoh saku jas nya, pria itu mengambil sesuatu dan memberikannya pada Rudy.
"Namanya GAMMATES." Ucap Jimmy setelah memberikan kartu nama Gamma.
Rudy mengerutkan keningnya membaca kartu nama yang tertera, tidak mungkin kan dia Gamma putra keduanya.
Rudy mengambil ponsel dan mengotak Atik sebentar, lalu menujukan pada Jimmy.
"Apa ini orangnya?" Tanya Rudy memastikan.
"Kau mengenalnya?" Tanya Jimmy balik.
Rudy mengusap wajahnya kasar, jadi Gamma bergerak sendiri untuk membangun pekerjaan.
"Dia anak kandung gue."
.
.
.
Mandala Pertiwi
Kelas IPA A sedang melakukan olahraga di gabung dengan IPA B seperti biasa. Hanya saja kini tim putri yang sedang melakukan olah raga basket.
"Tania oper bolanya!" Sonia berteriak pada Tania yang sedang mendribel bola.
Hingga bola yang Tania pegang meluncur dengan kuat kearah Sonia.
Sonia yang mendapat bola langsung memasukkan ke dalam ring tanpa hambatan, hingga terdengar sorakan riuh menyoraki Sonia yang berhasil mencetak angka.
"Nji lihat tu merek minyak, sepertinya 36D." Bisik Deva yang sudah mahir soal tebak menebak isi kaca mata kuda.
"Gila Lo Dev, otak Lo tercemar diluar nalar." Ucap Anji yang geleng kepala.
"Nah kalau si Tan-tan, 36D masih longgar, 34D sempit, so tangung banget di tangan gue."
Plak
Seketika Deva meringis saat kepalanya digeplak dari belakang dan melakukanya siapa lagi jika bukan si Anji.
"An*jing Lo!" Umpat Deva yang merasa kesakitan.
Anji hanya tertawa melihat sahabatnya yang sukses dia sakiti.
"Gue suka Tan-tan lemot tapi manis." Ucap Anji dengan senyum.
Saat Tania dan Sonia berjalan keluar lapangan, Anji pun menghampiri kedua gadis itu, dan sebelum sampai Anji merebut minuman botol dingin yang Dion pegang.
"Heh njing!"
"Ngak usah bacot, timbang dua rebu doang!" Teriak Anji yang menyebabkan untuk Dion.
"Hay Tan-tan, haus ya nih Abang Anji bawain minum dingin kaya es, nyeess." Anji menunjukan wajah sok manis depan dua gadis yang melongo.
"Lo warna njing!" Sonia menyentuh kening Anji dengan telapak tangannya, dan ucapan Sonia didengar para anggota Black Tiger membuat mereka semua menyoraki Anji.
"Ish, minyak apaan sih! bikin image gue turun pasar aja." Kesal Anji dengan reaksi Sonia.
Sonia mendelikkan matanya.
"Duh, ayang guguk kok kasihan sekali sih, sakit ya." Ucap Tania semakin membuat wajah Anji tertekan lantaran dirinya benar-benar menjadi bahan tertawa orang-orang sekitar, terutama geng nya.
"Tan-tan!!" Geram Anji.
Jika semua sedang melakukan olah raga di luar kelas, berbeda dengan Gamma yang sedang duduk sendiri di rooftof, baginya tempat paling nyaman untuk menyendiri, selain itu Gamma bisa mengingat kebersamaan dirinya untuk pertama kali dengan Tesla di tempat ini.
Ting
Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya, Gamma membaca dengan wajah datar.
"Gamma, Mama kangen."
Pesan dari Mentari membuat Gamma menghela napas.
"Nanti Gamma pulang Mah."
Balasnya yang langsung terkirim dan dengan cepat mendapat balasan.
"Mama tunggu, see you."
Gamma menghembuskan nafas kasar, dirinya tidak ingin pulang, hanya saja melihat Mamanya yang sampai mengirim pesan membuat Gamma juga tidak tega. Akan tetapi bertemu dengan papa dan Sagara membuatnya muak.
Apalagi sudah dua minggu dirinya tidak pulang membuat Gamma merasa bersalah.