
"Lo sengaja kerjain gue!!"
Gevan melempar buku pelajaran tepat di wajah Tesla yang kebetulan lewat didepanya.
Semua orang yang berdiri tidak jauh dari mereka menatap Tesla dengan tatapan yang berbeda-beda.
"Lo akan tau akibatnya." Setelah mengatakan itu Gevan meninggalkan Tesla yang hanya diam tanpa menjawab.
Mengambil buku yang Gevan lempar, Tesla membulatkan matanya saat melihat apa yang membuat Gevan marah.
"Kok jadi kayak gini sih." Ucapnya yang bingung sambil garuk kepala.
"Kenapa Lo bisa berhubungan dengan pria galak itu sih?" Vani bersedakep dada dengan tatapan meminta jawaban dari Tesla.
"Iya ihh, Udah tau orangnya galak suka marah-marah Lo malah cari masalah sama dia." Timpal Zizi.
Tesla hanya mengehela napas. Tangannya menarik kedua temanya untuk mencari tempat yang sepi.
"What?"
"Serius Lo Tes!!" Vani sampai memekik tidak percaya.
"Van kecilin suara lo." Ucap Tesla.
"Kok bisa sih Lo kerja di rumah Gevan, kenapa pula dirumah dia coba." Omel Zizi yang juga tidak percaya.
"Kalian malu punya temen pembantu kayak aku." Ucap Tesla menatap Zizi dan Vani bergantian.
"Lah, kenapa malah tanya kek gitu sih. Gue ngak ngeliat Lo yang seorang pembantu, tapi gue ngeliat Lo sebagai murid berprestasi." Ucap Vani.
"Ck, jadi Lo cuma manfaatin Tesla Van." Zizi berdecak kesal.
"Buat apa punya sahabat kalo ngak di manfaatin, kalau sama Lo mah sebelas dua belas Zi, sama-sama telmi."
Tesla justru tertawa mendengar ucapan Vani, sedangkan Zizi sudah memasang wajah masam mendengar ucapan Vani.
"Aku boleh tanya sesuatu?" Tesla menatap keduanya dengan bergantian.
Vani dan Zizi saling tatap, lalu mengangguk.
"Apa Gevan-"
.
.
.
Tesla berjalan menyusuri jalan kecil yang dia yakini menuju satu tempat, meskipun cukup berisiko tapi Tesla tidak bisa mengabaikan permintaan nyonya Merry.
Dengan menggenggam kedua tali tas gendongnya, Tesla mencari posisi yang pas untuk melakukan pengintaian.
Kata Vani dan Zizi di sini adalah tempat nongkrong Gevan dan gengnya, dan Tesla juga bisa melihat ada beberapa motor yang dia lihat sama seperti saat disekolah.
"Ngapain sih mereka suka banget bikin geng motor, Gamma juga. Apa hebatnya coba." Dumel Tesla yang mengingat Gamma juga memiliki geng motor.
Matanya mengintip dari celah jendela yang memperlihatkan suasana didalam, markas mereka cukup bagus, tapi lebih bagus punya Gamma.
Hingga beberapa saat kemudian di suara riuh menyabut kedatangan seseorang.
Tesla bisa melihat di sana ada Gevan dan juga Gilang yang katanya pentolan geng Device.
"Terus nagapain mereka kumpul-kumpul kek gitu coba." Gumam Tesla yang semakin penasaran, hingga teriakan seorang perempuan membuat Tesla membelalakan matanya.
"Tolong!! lepas!!"
Suara teriakan minta tolong dan meronta bisa Tesla dengar.
"Diem bodoh!!" Bentak salah satu anggota Device.
Tesla masih diam memperhatikan keadaan di dalam sana. Hingga sentuhan di pundaknya membuat Tesla berjengit kaget, reflek menjerit.
"Akhh-emph.."
.
.
Gamma memberikan botol minum pada Tesla yang duduk di kursi warung pinggir jalan.
"Minum dulu." Ucap Gamma yang melihat wajah Tesla masih tegang.
Tesla pun menurut, meminum agar tenggorokan terasa basah.
"Lo ngapain di sana, bahaya!"
Ada nada kahawatir di ucapan Gamma.
Tesla belum bisa menjawab, dirinya masih mengontrol deru napasnya dari rasa terkejutnya tadi.
"Apa yang Lo lihat anggap saja tidak pernah Lo lihat."
Gamma hanya takut jika Tesla akan melakukan hal yang membahayakan untuk dirinya sendiri, Gamma tidak ingin hal buruk terjadi pada Tesla.
"Apa yang akan mereka lakukan pada gadis tadi?"
Tesla menatap Gamma dengan wajah penasaran, kejadian tadi benar-benar membuatnya takut dan juga syok.
"Tidak usah diingat, mereka hanya main-main saja."
"Main-main?"
Gamma mengaguk, meskipun 'main-main' ala mereka bukanlah main-main seperti yang Tesla pikirkan.
Karena Gamma tahu persis seperti apa aslinya Gevan.
"Apa Lo betah berada disana? maksud gue dirumah sekarang yang Lo tinggali?"
Gamma menatap Tesla yang membuang wajah lurus kedepan.
"Mereka yang nolong aku saat tidak tahu kemana aku harus pergi." Ucap Tesla dengan tatapan lurus kedepan.
Rasanya sebuah pisau menyayat hatinya, Gamma merasakan perih dan sesak mendengar apa yang Tesla katakan.
"Sorry, waktu itu gue ngak dateng bukanya gue marah. Tapi ada sesuatu yang penting untuk masa depan kita." Lirih Gamma yang merasa bersalah.
Saat Tesla berada dirumah sakit dan Gamma tidak datang, bukan berarti Gamma marah dengan apa yang Tesla katakan soal pembatalan pernikahan mereka, meskipun Gamma sendiri merasa kecewa. Tapi dirinya mencoba memahami posisi Tesla saat itu.
Dan dalam waktu bersamaan, Gamma mendapatkan tender dengan salah satu pengusaha ternama selain papanya, membuat Gamma sibuk dengan pekerjanya selama beberapa hari, dan karena itu waktunya dia habiskan untuk menggarap pekerjaan yang dikejar dateline. Hingga saat sudah selesai Gamma kembali mengunjungi Tesla dirumah sakit, tapi yang dia dapatkan ternyata Tesla sudah pulang. Tanpa lelah Gamma mendatangi rumah Tesla dan di sana dirinya menemukan sesuatu yang membuat hatinya hancur oleh rasa penyesalan.
Tesla menoleh pada Gamma, masa depan kita apa yang Gamma bicarakan.
Seolah mengerti arti tatapan Tesla Gamma pun tersenyum.
"Ikut gue Lo akan tahu semuanya."