
"Ada apa pemuda sepertimu datang kemari?" Bagaskara duduk dan langsung mencecar Gamma dengan pertanyaan.
Gamma tersenyum tipis, pemuda itu duduk tanpa di suruh.
"Sepertinya anda tidak tahu apa-apa tuan." Katanya dengan wajah berubah datar.
Bagaskara menautkan kedua alisnya dengan kening berkerut.
"Apa maksud mu anak muda!" Nada Bagaskara tak lagi santai saat melihat pemuda didepanya seperti tersenyum mengejek nya.
"Bagaimana jika putra anda tak sebaik yang anda tahu, apa yang akan ada lakukan?" Tanya Gamma lagi.
Bagaskara semakin tidak suka mendengar ucapan pemuda yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan dalam kalangan bisnis, pemuda yang baru beberapa bulan menjadi buah bibir karena ide dan gagasannya yang cukup diperhitungkan hingga mampu menggeser beberapa orang lama yang berkecimpung dalam bisnis, mereka kalah dengan pemuda yang masih memakai seragam putih abu-abu.
Gamma memberikan ponselnya pada Bagaskara, tapi pria itu tak lantas mengambilnya langsung. Bagaskara menatap wajah Gamma yang terkesan datar dan dingin.
"Jika ini hanya rekayasa, anda bisa melakukan apapun pada saya, dan saya hanya ingin Tesla kembali dengan selamat." Ucap Gamma memberikan ponselnya yang berisikan beberapa video yang dikirim Tesla beberapa waktu lalu.
Vidio tentang bagaimana Gevan dan teman-temannya di markas.
Bagaskara menatap kesungguhan dalam ucapan Gamma, tangannya terulur untuk mengambil ponsel Gamma yang disodorkan.
"Saya sarankan anda memutarnya saat memakai headset." Gamma menyodorkan headset bluetooth nya pada pria didepanya dengan santai. Sedangkan Bagaskara hanya menatap sekilas.
Bagaskara menatap Vidio yang dia putar, satu menit, dua menit. Sampai Bagaskara membulatkan kedua matanya dengan wajah mengeras.
Benar, untung saja dirinya sudah memasang headset, karena suaranya begitu miris dan menjijikan.
Bagaskara memijat keningnya yang berdenyut nyeri, tidak di sangka putranya melakukan hal menjijikan seperti itu.
...****************...
"Apa kah saya boleh melakukan sesuatu?" Tanya Gamma setelah mereka diam bebera saat.
Ruang kerja Bagaskara mendadak terasa dingin dan mencekam.
"Saya hanya tidak ingin terlambat melakukan sesuatu, karena kekasih saya menjadi tawanan putra anda." Lanjutnya lagi dengan nada penuh penekanan akan sebuah tuntutan.
Bagaskara beberapa kali menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan untuk mengurangi emosinya yang agar tak lepas kendali, pria itu merasakan nyeri di dadanya melihat dan mendengar apa yang putranya lakukan.
"Pergilah."
.
.
Di markas yang tampak sepi dari luar, tapi begitu ramai di dalam.
Beberapa motor sudah terparkir di depan markas itu, mereka hanya menunggu perintah ketua untuk menyerang.
Sedangkan di dalam Tesla tak ada lagi tenaga untuk berontak, gadis itu sudah lemas tak berdaya, karena selain di ikat, Tesla juga mengalami beberapa kekesalan, contohnya tamparan di pipi dan tendangan di perutnya. Gadis itu terlihat begitu menyedihkan dengan kepadanya.
"Lo mati pun, gak akan gue lepaskan!" Sentak Gevan setelah puas membuat Tesla tak sadarkan diri.
Gevan tersenyum smirk, dengan keadaan Tesla seperti ini, pasti Gamma akan hancur. Belum lagi jika dirinya melakukan hal gila yang selama ini dia lakukan.
"Seharusnya gue juga sentuh Lo, biar pembunuh itu merasakan hancur seperti gue." sinis Gevan dengan tatapan tajam seperti iblis.
Brak
Semua menatap ke sumber suara, dimana segerombolan orang masuk.
Cih
Gevan berdecih sinis, saat melihat orang yang paling dia benci berdiri didepan diantara mereka.
"Rupanya kau sangat mengkhawatirkan jala*ng mu!" Sinis Gevan dengan tatapan kebencian.
Gamma hanya menatap datar Gevan tanpa ekspresi, hanya saja tangannya terkepal kuat melihat pemandangan wanita di belakang Gevan.
.
.
Tinggalkan jejak kalian 😘😘