
Berada dalam sebuah geng motor yang suka membuat onar bukanlah yang Tesla inginkan, tapi keadaan yang membuat dirinya berada du antara mereka. Begitu juga geng Black Tiger tidak menyangka jika ketua mereka akan menikahi gadis yang sama sekali tidak populer di sekolah maupun diluar sekolah. Tapi jangan ditanya kalau soal juara kelas Tesla Terania Yudha adalah juaranya.
"Bos, gue ngak bu*dek kan dengerin kata-kata Lo." Deva masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Tapi melihat bagaimana Gamma memperlakukan gadis itu membuat Deva menolak untuk percaya.
"Gam, Lo serius." Kali ini Agam yang pendiam ikut menyuarakan rasa tidak percayalah. Kata-kata Gamma seperti candaan yang di sadarkan dengan kelakuan.
Gamma melirik Tesla yang hanya diam dengan kepala menunduk, sepertinya gadis itu tidak nyaman menjadi banyak pertanyaan dari keluarga Black Tiger.
"Gue antar dia balik." Gamma berdiri dan meraih tangan Tesla agar ikut dengannya.
Dan hal tersebut cukup membuat mereka yang ada disana geleng kepala.
"Ngak pernah gandeng cewek, sekalinya gandeng posesif amat." Ucap Anji yang merasa Gamma posesif pada Tesla.
"Ck, perempuan harus di jaga bro!" Deva menimpali.
Anji mendelikkan matanya. "Lo kalau ngomong ngak mikir Dev, mulut Lo sama otak Lo ngak singkron." Ledek Anji sambil memakan camilan kemasan.
Agam dan Celo hanya tertawa, sedangkan Dion sibuk dengan game nya.
Gamma menghentikan kendaraanya didepan gerbang bercat hitam milik Tesla, pemuda itu membuka helmnya dan membantu Tesla untuk melepasnya.
"Gam." Tesla menatap Gamma dengan wajah tak terbaca, tapi Gamma bisa melihat dari tatapan Tesla yang menyiratkan rasa takut dan gelisah.
"Jagan takut, kita lalui bersama." Gamma mengusap pipi Tesla, mata gadis itu berkaca-kaca membuat hati Gamma sesak.
Gamma tersenyum tipis, di tangkupnya kedua pipi Tesla dengan kedua tangannya, Gamma mendaratkan satu kecupan di kening Tesla cukup lama.
Hati keduanya berdesir hebat, seperti ada sesuatu yang menyeruak masuk hingga terasa kebas dan sesak.
"Berjuanglah bersama ku." Bisik Gamma setelah melepaskan ciuman di kening.
Tesla hanya mengangguk dengan kedua tangannya menyentuh tangan Gamma yang masih di pipinya, untuk pertama kali dirinya melihat seorang Gamma tersenyum.
"Masuk!" Titah Gamma yang seperti tidak bisa dibantah oleh Tesla.
Gadis itu pun pergi meninggalkan Gamma.
"Lo ngak sendiri, ingat ada Gue!"
Tesla berbalik dan menatap Gamma, sesaat kemudian bibir Tesla menyunggingkan senyum membuat Gamma ikut tersenyum.
Setelah mengantarkan Tesla Gamma tidak kembali kemarkas, pemuda itu memilih untuk pulang. Ada yang harus dirinya lakukan untuk hubungannya dan Tesla selanjutnya, Gamma tidak ingin Tesla semakin dirundung rasa sedih di tambah menghadapi orang tuanya.
Sampainya di rumah Gamma langsung mencari kedua orang tuanya, lebih tepatnya papanya yang harus Gamma hadapi.
Bugh
Gamma terhuyung kebelakang saat dirinya hendak membuka pintu ruang kerja papanya, pemuda itu mengusap hidungnya yang berdarah akibat pukulan dari Rudy.
"Mau jadi apa kamu, hah!!" Rudy menatap Gamma dengan penuh amarah. "Begitu kelakuan kamu di luar!! BIKIN MALU KELURGA!!"
Bugh
Plak
Plak
Bugh
"Papa malu punya anak seperti kamu GAMMA!!"
Bruk
Di hempaskanya tubuh Gamma membuat pemuda itu tersungkur sambil terbatuk-batuk kesakitan.
"Mas!!! stop!!"
Mentari datang langsung menarik Gamma melindungi.
"Mas, kamu tega membuat anakmu seperti ini." Air mata Mentari sudah bercucuran melihat wajah putranya yang mengenaskan.
"Di pantas mendapatkan itu Mentari!! kelakuannya seperti binatang!!" Rudy benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya. Pria itu meluapkan amarahnya yang meledak-ledak.
"Mas, kamu sudah sepakat untuk tidak bertindak kejam dengan Gamma, kita harus menyelesaikan masalah Gamma." Mentari memeluk kepala Gamma, pemuda itu masih terbatuk-batuk.
Napas Rudy naik turun, kesabarannya benar-benar diuji oleh seorang Gamma Satya Sedayu putranya sendiri.
"Nikahi dia Gamma. Dan rasakan bagaimana kehidupan mu yang sesungguhnya!!" Geram Rudy dengan amarah yang masih tersisa.
Gamma mendongak menatap wajah papanya yang masih merah padam karena amarah.
"Gamma akan bertanggung jawab Pah. Gamma akan menikahinya."
"Sialll!!"
Rudy pun pergi meninggalkan anak dan istrinya, pria itu memilih menenangkan diri agar dirinya tetap waras.
"Bagun sayang, Mama obati." Mentari tak kuasa menahan kesedihannya melihat putranya babak belur ditangan suaminya.
Gamma pemuda jago beladiri dan bertarung, tapi jika dirinya salah Gamma tidak akan melawan, apalagi orang tuanya sendiri yang melakukanya.
Mentari membawakan kotak obat, direbahkannya tubuh Gamma di sandaran sofa, pemuda itu tampak pasrah dengan apa yang terjadi dengan tubuhnya.
"Sakit sayang?" Mentari mengusap sudut bibir Gamma dengan obat antiseptik.
"Shh, perih Mah." Ucap Gamma lirih, untuk bicara saja rasanya begitu sakit.
Mentari dengan pelan membersihkan dan mengobati luka Gamma, wanita itu dengan senyum teduh mengusap pucuk kepala Gamma.
"Anak Mama udah mau nikah, udah mau punya anak." Bibirnya tersenyum tapi matanya berkaca-kaca. Antara terharu dan juga sedih Mentari rasakan.
Gamma menggenggam tangan Mamanya, pemuda itu menatap Mamanya dengan wajah sendu.
"Maafin Gamma Mah, Gamma belum bisa jadi anak yang baik."
JANGAN lupa kirimkan hadiah kalian, dan menangkan Give Away Nya 🤗🤗🤗🤗