GAMMATES

GAMMATES
Very sweet



Tesla dibawa oleh Gamma ke markas Black Tiger, semua yang ada di sana terkejut melihat kedatangan ketua mereka yang menggandeng Tesla tapi dengan seragam sekolah yang berbeda.


Untung saja anggota inti tidak ada di markas, karena mereka sedang berbelanja kebutuhan markas.


Jadi Gamma tidak perlu menyapa ataupun meladeni bac*ot mereka jika banyak bertanya.


Ceklek


Gamma membuka pintu kamarnya, Tesla yang masuk dan melihat kamar tidur Gamma tertegun.


Dulu tidak seperti ini, dan sekarang jauh berbeda. Banyak gambar sketsa sebuah pembangunan gedung tidak hanya satu tapi ada beberapa.


"Ini semua buatan kamu?" Tesla menatap Gamma yang melepaskan jaket dan menaruhnya disofa.


Gamma pun membuka kemeja sekolahnya, membuat Tesla memalingkan wajah saat Gamma bertelanjang dada.


Gamma mengambil kaus dan memakainya di depan Tesla, mungkin jika cewek lain yang melihat sudah berteriak histeris dan bisa jadi pingsan.


Tapi ini Tesla, gadis yang sudah tahu bagaimana Gamma secara luar dalam.


Gamma mengambil sesuatu dari dalam dompetnya, disodorkannya pada Tesla yang menatap bingung.


"Pegang ini untukmu." Gamma masih menyodorkan kartu di depan Tesla.


"Untuk apa, aku sudah bekerja." Dengan kata lain Tesla menolak.


"Gara-gara ini gue harus kehilangan Lo yang pergi entah kemana. Gue ngelakuin ini untuk masa depan gue dan Lo, karena gue sungguh-sungguh sama lo, gue pengen lo hidup berkecukupan dengan apa yang gue miliki sendiri." Ucap Gamma dengan tersenyum.


"Karena Lo, gue bisa seperti ini."


Tesla tidak bisa berkata, apalagi melihat tatapan sungguh-sungguh yang Gamma tunjukkan.


Tidak Tesla kira jika Gamma memiliki bakat yang luar biasa, di luar kelakuannya yang bikin onar.


"Gue rindu Tes." Gumam Gamma dengan memeluk erat tubuh Tesla, bahkan Gamma berulang kali mendaratkan ciuman di pucuk kepala Tesla.


Tesla sendiri merasa linglung, suara serak Gamma membuat Tesla merasakan pilu.


Tangannya perlahan membalas pelukan Gamma, dan saat itu juga air mata keduanya pecah dengan rasa sesak yang mereka rasakan selama ini.


"Maaf, gue ngak bisa melindungi Lo. Bahkan dia harus pergi sebelum lahir." Hati Gamma benar-benar pilu.


Kehilangan darah daging mereka, dan Tesla yang tiba-tiba pergi meninggalkannya.


Tesla hanya bisa menjatuhkan air matanya, meluapkan kesedihan dan perih kehidupan yang dia jalani. Dan kini semua kesedihan melebur menjadi satu dengan rasa haru.


Gamma mengurai pelukannya, diusap nya pipi Tesla yang basah air mata, Gamma tersenyum dengan wajah sendu bahkan matanya juga basah.


"I love you." Bisik Gamma degan tatapan intens.


Tesla menyentuh kedua sisi tangan Gamma yang menyentuh pipinya, rasanya seperti banyak kupu-kupu yang terbang didalam perutnya, rasanya menggelitik membuat dirinya mengembangkan senyum.


"Aku janji, akan perjuangin Lo apapun keadaan gue. I promise Tesla ."


Gamma memajukan wajahnya untuk lebih mendekat pada Tesla.


Melihat reaksi Gamma, reflek Tesla memejamkan kedua matanya hingga dirinya merasakan daging kenyal hangat menyentuh bibirnya dan sebuah kecupan lembut terasa berdesir sampai hati.


Kiranya hanya memberi kecupan, rupanya Gamma dengan sengaja mengeksplor bibir kenyal Tesla, tangannya meraih tengkuk Tesla membuat ciuman keduanya semakin intens dan dalam.


Hingga saat Tesla merasa kehabisan nafas, disitulah Gamma melepaskan permen manis yang terasa candu.


"Very sweet." Gumam Gamma sambil mengusap sudut bibir Tesla yang basah.