GAMMATES

GAMMATES
Kembali sekolah



Pagi saat Gamma keluar dari markas, pemuda itu mendapati tamu yang tidak pernah dia duga. Tapi dengan melihatnya saja Gamma sudah tahu untuk apa Sagara datang menemuinya.


Dengan santai Gamma berjalan menuju motor besarnya yang bersebelahan dengan mobil Sagara yang terparkir.


"Berasa orang penting gue di datengin Lo." Ucap Gamma sambil tersenyum tipis.


Sagara yang bersandar di body mobil kini menegakkan tubuhnya.


"Lo boleh benci papa, tapi ngak sama Mama. Lo ngak kasihan beliau yang nungguin Lo sampai malam." Ucap Sagara langsung pada intinya.


Gamma menaikkan satu alisnya sebelah. Menatap Sagara dengan acuh.


"Seharunya Lo tahu, dan Lo bisa bilang kalau gue sibuk."


Sagara menatap tajam Gamma, adiknya ini memang keras tidak bisa diajak bicara baik-baik.


"Gue ngak peduli hidup Lo mau bagaimana, yang jelas gue ngak suka Lo acuh sama Mama dan buat dia kepikiran tentang Lo!"


Setelah mengatakan itu Sagara pun pergi dengan mobilnya, sedangkan Gamma berdecak kesal.


"Lo baik karena ada mau nya Gara." Gumam Gamma dengan wajah pias.


Ditempat yang berbeda, Tesla sedang melakukan pekerjanya menyiram tanaman di taman, gadis itu begitu menikmati pekerjaannya setiap hari, bersyukur adalah kuncinya.


"Tesla kemarilah!!" Merry memanggil Tesla dari teras rumah, jarak yang lumayan jauh dari Tesla menyiram tanaman bunga di halaman depan.


"Iya, nyonya ada apa?" Tesla menuduk hormat.


"Kami ingin bicara masuklah." Nyonya Merry berjalan lebih dulu dan Tesla mengikutinya dari belakang.


Di meja makan ada tuan Bagaskara yang duduk di kursi kepala keluarga, sedangkan di kursi lain tampak seorang pemuda yang menggunakan pakaian sekolah.


"Tesla apa kamu ingin sekolah?" Tanya tuan Bagaskara yang angkat bicara.


Sejak tadi Tesla menunduk tanpa berani menatap majikanya, tapi mendengar ucapan tuan Bagaskara membuat Tesla berani menatap.


"Maksud tuan apa? kalau ditanya masih ingin, tentu saja saya ingin tuan." Jawab Tesla dengan suara lirih.


Tuan Bagaskara dan istrinya saling tatap, dan nyonya Merry hanya mengangguk.


Sedangkan pemuda yang duduk lebih tertarik dengan menatap wajah Tesla yang sempat bertemu.


"Kalau begitu kamu boleh melanjutkan sekolah, kata Istri saya nilai-nilai kamu bagus dan cukup berprestasi, jadi sayang jika harus berhenti." Tutur Bagaskara.


Tesla hanya bisa diam mencerna, dirinya terlalu bingung atau ayok mendengar ucapan majikanya.


"Tapi tuan, saya kan sedang bekerja. Saya tidak ingin-"


"Selama dua bulan saya sudah mengamati kamu Tesla, dan saya cukup takjub melihat semangat kamu belajar di saat senggang."


Tesla meremat kedua tangannya dan menunduk.


"Maaf Nyonya saya tidak bermaksud." Ucapnya dengan rasa bersalah.


Tesla menatap pemuda yang duduk dengan tenang dan sibuk dengan ponselnya, padahal sejak tadi pemuda itu sudah cukup puas melihat wajah Tesla.


Tesla tidak bisa membendung air matanya, dirinya benar-benar tidak menyangka di pertemukan dengan orang baik seperti ini.


"Tuan dan nyonya saya tidak punya apa-apa, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dan saya akan belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh." Tesla tak bisa membohongi rasa harunya, gadis itu tersenyum dalam tangis.


Nyonya Merry pun berdiri dan mendekati Tesla, wanita itu memeluk Tesla dengan tulus.


"Ya, buktikan pada kami jika kamu memang layak untuk di banggakan."


Tesla semakin tersedu-sedu, dirinya banyak mengucapkan terima kasih pada majikannya.


Setelah acara melow-melow, kini Tesla kembali dengan pekerjanya, senyumnya semakin cerah dengan wajah berseri, besok dirinya bisa langsung sekolah.


"Terima kasih Tuhan, sudah mengirimkan hamba malaikat penolong." Ucapnya dengan rasa haru.


Tesla mengusap sudut matanya yang basah ketika merasakan dadanya tiba-tiba sesak, sosok pemuda yang sudah mengisi hatinya tiba-tiba muncul dalam pikirannya.


"Gamma." Ucapnya dalam hati.


"Hey, airnya sampai meluber!"


Suara seseorang dari belakang membuat Tesla berjingkat kaget.


"Ya ampun, tuan anda mengagetkan saya." Tesla menuduk saat berbalik melihat anak majikannya.


"Ck, kau itu berkerja atau melamun." Omel pemuda itu.


Tesla hanya bisa menunduk. Membuat pemuda itu semakin geram.


"Lo lupa sama gue?" tanyanya dengan datar.


Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Tesla mendongak, dan menatap wajah pemuda di depannya.


Tesla mengerutkan keningnya, mengingat tapi tidak tahu siapa.


"Ck, cewek dungu." Gumam pemuda itu.


"Lo kemaren yang di supermarket Mall, gue yang bantu Lo ambil barang di rak atas." Jalan pemuda itu dengan detail.


Sekilas Tesla mengingat, dan gadis itu langsung menunduk dan mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih tuan, maaf saya tidak mengenali anda." Balas Tesla sopan.


Pemuda itu berkacak pinggang. "Kenalin." Menyodorkan tanganya pada Tesla.


Tesla meraih dan membalas uluran tangan pemuda itu.


"Gue Gevan."