GAMMATES

GAMMATES
Gevan & Tesla



"Kenapa ke sini?" Kata Tesla setelah turun dari motor Gevan.


"Kenapa? bukankah kau sudah pernah datang kesini?" Kata Gevan dengan tatapan datarnya.


Tiba-tiba bulu kuduk Tiara langsung berdiri mendengar ucapan Gevan yang terkesan dingin.


Tesla merutuki kebodohannya yang memiliki perasaan tidak enak. Pulang sekolah Gevan sudah menunggunya, pemuda itu mengajaknya pulang bersama, menolak rasanya akan membuat Gevan semakin curiga, dan Tesla memilih untuk ikut.


Tapi keputusannya ternyata salah, Tesla dibawa Gevan kemarkas Device, dan apa katanya tadi? bukankah dirinya sudah pernah kesini. Jangan-jangan Gevan tahu jika dirinya suka menguntit dirinya.


"A-aku-" Lidah Tesla terasa kelu, kerongkongannya tiba-tiba tercekat saat melihat beberapa orang keluar dari pintu markas.


Gevan tersenyum miring, pemuda itu menatap Tesla yang sudah berwajah pucat.


Kakinya mengayun untuk mendekati Tesla, Gevan memainkan lidahnya di dalam mulut.


"Gue tahu apa yang Lo lakuin, heh." Gevan tersenyum miring. "Umpan yang sangat besar." Bisik Gevan dengan seringai di bibirnya yang mengeringkan bagi Tesla.


Gevan menoleh pada beberapa orang dibelakangnya, dan menggerakkan kepalanya memberi perintah.


Tesla mundur sambil geleng kepala, wajahnya sudah panik saat mereka mendekatinya.


"Tidak! pergi kalian!"


Tesla hendak berbalik dan kabur, tapi tangannya sudah lebih dulu di cekal dan diseret untuk masuk kedalam markas.


Tesla terus meronta untuk minta di lepaskan, tapi mereka sama sekali tidak mengindahkan teriakannya.


"Lepas! kalian semua baji*ngan!!" Umpat Tesla dengan terus meronta sampai suatu ruangan, tubuhnya di hempaskan begitu saja di lantai membuatnya meringis kesakitan.


Bugh


Akkhhh


Tesla menatap Gevan yang duduk di kursi kayu, tatapan pemuda itu berubah 180 derajat dari sebelumnya, dan itu cukup membuat Tesla menciut dan takut.


Gevan tersenyum miring dengan tatapan tajam dan terpancar kemarahan, diraihnya dagu Tesla di cengkram kuat, membuat Tesla mendesis sakit.


"Gue yakin jika Lo mati, pasti dia akan gila!" Ucap Gevan dengan penuh penekanan.


"Karena dia, orang yang gue cintai memilih mati." Gumam Gevan dengan suara bergetar.


Tesla tidak bisa berkata, yang ada hanya rasa sakit kala Gevan semakin mencekram erat dagunya.


"Dan Lo, akan membayar semua apa yang sudah Gamma perbuat! So, katakan satu kata terakhir sebelum Lo tinggal nama!"


Akkhhh


Tesla tersentak kebelakang saat Gevan melepaskan cengkraman begitu kuat.


.


.


Gamma menatap papanya yang memberikan berkas didepanya, Gamma tak langsung mengambil, pemuda itu menatap papanya dengan tanda tanya.


"Baca dan tanda tangani!" Titah Rudy dengan suara satai namun terdengar tegas penuh perintah.


Melirik sekilas, tangannya terulur untuk mengambil berkas itu.


Gamma membaca dan meneliti isi berkas tersebut, keningnya berkerut, dan alisnya menukik dengan tajam.


"Tanda tangani, tidak ada pilihan lain!" Seru Rudy kembali saat Gamma ingin berucap.


Gamma tak lantas menandatangani berkas seperti yang papanya katakan.


"Untuk apa! bukannya ada Sagara yang anda junjung dan banggakan." Cetus gemma dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Rudy hanya menghela napas, bagaimana pun juga ini salahnya, mendidik Gamma terlalu keras dan berakhir putranya itu menjadi pembangkang. Tapi di balik itu Rudy juga mengakui jika didikan kerasnya juga berbuah, kini putranya bisa berdiri sendiri untuk memulai bisnis dan Rudy yakin jika Gamma tidak akan mudah di tindas saat menjadi pewaris SDY Corp.


"Ya, tapi itu semua hanya topeng!" Jawab Rudy dengan tegas.


Gamma menaikkan alisnya sebelah, tidak mengerti dengan ucapan papanya yang terkesan banyak rahasia.


"Mungkin sudah saatnya kamu tahu Gamma, kamu sudah cukup terlatih dan papa yakin kamu akan menjadi pemimpin yang tidak bisa di tindas!"