GAMMATES

GAMMATES
Mall



Di sebuah rumah besar, seorang gadis sedang melakukan pekerjaan rumah, Tesla mengusap keringat dikening saat panas sinar matahari membuatnya merasa kepanasan.


"Tesla kemarilah!!"


Dari pada dalam seseorang memanggilnya, Tesla bergegas untuk datang ke arah sumber suara.


"Iya nyonya ada apa?" Tesla tampak menuduk hormat, dipundaknya terdapat serbet untuknya bersih-bersih, sedangkan tangannya memegang lap kanebo setengah basah setelah dirinya tadi mengelap kaca di bagian belakang yang menghadap matahari langsung.


"Kamu masak semua list ada di sini, nanti anak saya mau pulang." Wanita yang di panggil nyonya itu memberikan kertas untuk Tesla. "Dan sekalian kamu belanja bahanya di Mall,supir yang akan mengantar mu." Tambah nya lagi.


"Baik nyonya."


Wanita itupun pergi setelah memberikan uang belanja untuk Tesla.


"Banyak sekali." Gumam Tesla sambil berjalan menuju kamarnya di belakang rumah.


Rok semata kaki dan kaus adalah pakaian Tesla, menjadi pembantu di rumah orang kaya adalah pekerjanya hampir dua bulan setelah satu minggu hidup di jalanan.


Pergi dari rumah membuatnya tidak tahu harus kemana, memiliki uang dua ratus ribu habis untuk dirinya bertahan hidup selama dijalan. Saat dirinya benar-benar lelah dan kehabisan uang, tanpa sengaja dirinya bertemu dengan wanita yang mau menjadikanya pembantu di rumah. Merry adalah wanita yang menolongnya.


Tanpa memikirkan apapun, Tesla tinggal dirumah Merry dan bekerja sebagai pembantu, dirinya tidak sendiri ada satu pelayan juga dirumah itu.


"Kamu mau kemana Tes?" Wanita paruh baya bertanya saat dirinya hendak ke kamar dan melihat Tesla keluar dengan pakaian sedikit rapi meksipun Masih terbilang murah.


"Nyonya Merry suruh Tesla masak mbok, dan ini mau belanja."


Baru kali ini Tesla keluar dari rumah besar itu, membuat dirinya cukup senang karena bisa melihat dunia luar kembali setelah hampir dua bulan terkurung.


"Tumben, biasanya nyonya belanja sendiri." Ucap mbok Arti.


Tesla hanya mengangkat kedua bahunya. "Ngak tau mbok, yaudah Tesla pergi dulu." Tesla pamit meraih tangan mbok Arti.


"Ya sudah hati-hati."


"Pak Mamat mau antar saya belanja." Tesla menghampiri supir yang sedang mengelap kaca mobil.


"Ayuk neng, bapak siap."


Tesla tersenyum dan masuk ke mobil duduk disamping kursi kemudi.


Disepanjang jalan Tesla tampak tersenyum dan menikmati pemandangan kota yang sepertinya sudah lama tidak dirinya lihat, rasanya Tesla merindukan sesuatu yang di paksa menghilang dari kehidupannya.


"Neng senang, bisa keluar rumah?" Tanya pak Mamat yang sejak tadi mengamati wajah senang Tesla.


"Iya pak, Tesla rindu." Ucapnya dengan lirih dan bibir tersenyum.


Rasanya tidak akan kuat menjalani kehidupan yang dirinya sendiri tidak tahu harus bagaimana, tapi meninggalkan dunia hanya karena putus asa pun tidak bisa.


"Sekarang neng nikmati, mumpung masih diluar." Ucap pak Mamat lagi.


Tesla hanya tersenyum simpul.


"Oh ya pak, anaknya Nyonya Merry memang tinggal dimana? selama saya kerja tidak pernah melihat."Tanya Tesla.


"Kenapa?" Tanya Tesla lagi yang malah penasaran.


"Ndak tahu juga, katanya pengen sendiri."


Tesla tak bertanya lagi, dirinya memilih untuk membuka kaca jendela dan menghirup udara bebas dari mobil.


Sampainya di Mall, Tesla memilih apa saja bahan yang dia perlukan, gadis itu memilih dengan cekatan. Penampilan biasa saja membuat Tesla banyak mendapat tatapan aneh, gadis remaja memilih bahan masakan, apalagi pakaian Tesla begitu sederhana membuatnya sedikit menarik perhatian mata.


Tesla membenarkan kaca mata saat akan menuju kasir, bahan yang dia cari sudah dapat semua.


"Sepertinya aku melupakan sesuatu?" Gumamnya dan langsung mencari berang yang dia cari.


Tesla menatap rak lumayan tinggi dari tubuhnya, gadis itu ingin mengambil sesuatu tapi tangannya tidak sampai.


"Sepertinya kamu harus banyak makan bambu Tesla." Gerutunya karena tidak bisa mengambil barang yang dia mau.


Tangannya masih berusaha meskipun tidak sampai, hingga tiba-tiba tangan seseorang dari belakang membuat Tesla terkejut.


Tesla berbalik dan menatap sosok pemuda di didepanya, pemuda itu mengulurkan barang di tangannya.


"Ini kan yang Lo mau." Pemuda itu menyodorkan botol shampoo yang akan Tesla ambil.


"Terima kasih." Ucap Tesla setelah menerimanya.


Pemuda itu langsung pergi dengan gaya angkuhnya, hingga ingatan Tesla tertuju pada seseorang.


"Gamma terima kasih, ini cukup memuaskan." Seorang pria menjabat tangan Gamma dengan senang.


"Sama-sama pak, senang kalau anda suka desain saya." Gamma kembali menjabat tangan pria didepanya.


"Baiklah saya pergi dulu."


Gamma membereskan keperluan nya di atas meja, pemuda itu langsung keluar restoran yang ada di Mall setelah bertemu dengan kliennya.


Saat itu berjalan di lantai dua, matanya tidak sengaja melihat kebawah. "Tesla." Gumamnya dengan mata semakin tajam melihat orang yang Gamma yakini adalah Tesla.


"Tesla!! tunggu!!" Gamma berteriak dan berlari untuk mengejar gadis yang dia yakini Tesla.


Pemuda itu tidak perduli berapa banyak orang yang dia tabrak saat berlari, bahkan saat turun eskalator Gamma sambil berlari diantara kerumunan orang yang berdiri di eskalator.


"Tesla!!" Suaranya bergetar dadanya bergemuruh, Gamma masih berlari saat tidak melihat gadis itu lagi.


Saat sampai di luar pandangan Gamma mengarah kesemua penjuru, tidak ada gadis yang mirip dengan Tesla yang dirinya lihat.


"Tesla, gue yakin itu Lo." Gamma mengusap wajahnya kasar, dadanya bergemuruh dengan napas tersengal.


Bruk


Saat hendak berbalik dirinya tidak sengaja menabrak seseorang.