GAMMATES

GAMMATES
Blokir



Gamma menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dalam hati pria itu mengumpat marah pada seseorang.


"Terima kasih mbak." Tesla menerima struk dan kembalian dari kasir minimarket yang mereka singgahi.


Melirik pria di sampingnya, Tesla bisa melihat wajah Gamma yang menahan kesal.


"Nih." Tesla memberikan minuman kemasan yang tadi diambil Gamma.


Pria itu melirik sekilas dan menerimanya.


Untung saja disaku jaket Gamma ada uang selembar merah meksipun sudah sedikit lusuh, sepetinya uang itu sudah kecuci bersama jaketnya.


Jika Gamma jadi membawa Tesla makan, pasti pemuda itu akan malu tujuh turunan. Bagaimana bisa kartunya di blokir dan dirinya tidak memiliki uang kes sama sekali, sudah pasti hal itu membuat reputasinya hancur. Meskipun hanya Tesla yang tahu, tapi sebagai pria Gamma punya harga diri.


Tesla membuka kemasan minuman botol yang juga dia beli, keduanya berada di parkiran minimarket.


"Sudah malam, aku harus pulang." Ucap Tesla yang sudah merasa was-was sejak tadi.


Apalagi dirinya keluar diam-diam tanpa sepengetahuan orang rumah.


Gamma berdehem, dan segera naik ke atas motor, diikuti Tesla naik di belakang.


Angin malam tidak membuat Gamma mengurangi kecepatan laju motornya, pelukan tangan Tesla sudah cukup membuatnya untuk bertahan.


Tidak sampai lima belas menit motor besar Gamma sudah berhenti di depan rumah Tesla, gadis itu turun dan melepaskan jaket yang dia pakai.


"Hati-hati." Hanya itu yang Tesla katakan sebelum berbalik meninggalkan Gamma yang masih menatap punggung Tesla.


Masuk kedalam rumah, jantung Tesla berdebar kencang, apalagi melihat papanya yang menatapnya garang.


"Dari mana kamu!"


Suara papanya sudah membuatnya merinding, Tesla tidak berani menatap papanya yang sepertinya marah.


"Palingan dia juga baru saja kencan sama pacarnya." Ucap wanita yang bergelayut manja di lengan suaminya.


Wajah Tesla mendongak, matanya menatap sosok perempuan yang selalu melihatnya sebelah mata.


"Masuk kamar!" Bayu berteriak sambil menyeret Tesla untuk masuk kedalam kamar.


Ucapan Tesla sama sekali tidak di hiraukan oleh papanya, yang ada gadis itu dipaksa masuk dan di kunci di dalam kamar.


Tesla hanya bisa memeluk dirinya di atas ranjang, salah sedikit dirinya berakhir dikurung.


"Mas harus lebih keras sama dia, bisa-bisa dia akan menjadi gadis liar dan nakal." Ucap sang wanita.


"Sudahlah, ayo tidur."


Gamma baru saja sampai di kediamannya, pemuda itu masuk ke rumah dan mencari sosok pria yang sudah membuatnya merasa muak.


Brak


Gamma membuka pintu ruang kerja Rudy dengan kuat, membuat seorang pria didalam sana tentu saja kaget.


"Gamma di mana sopan santun mu." Rudy menatap Gamma dengan rasa marah.


Gamma berdecih sinis. "Apa-apaan ini." Gamma melempar kartu miliknya yang sudah diblokir.


Rudy memejamkan mata saat kartu itu mengenai dadanya ketika Gamma melemparnya.


"Gamma!" Geram Rudy dengan wajah merah padam.


"Ambil saja semua, jika itu membuatmu puas." Desis Gamma dengan tatapan benci.


"Kau!"


Brak


Gamma kembali membanting pintu saat keluar membuat Rudy semakin marah.


"Anak kurang ajar!"


Di dalam kamar mandi Tesla menangis dengan menutup mulutnya, tangannya bergetar menyentuh benda pipih yang membuatnya serasa ingin mengakhiri hidup.


Satu bulan berlalu dari kejadian dihotel waktu itu, dan kini Tesla merasa dunianya benar-benar hancur.


"Ngak..ini ngak mungkin."