
Di ujung komplek nampak rumah sederhana berdinding kuning yang dikelilingi pohon yang menambah sejuk pemandangan.
"Udah Dan. Sini aja. Thanks ya"
"Oke. Besok gue jemput lagi. Bye"
"Gak usah"
Belum sempat Kena menjawab, Ardan sudah pergi.
"Ibuuu Kena pulang"
"Eh kakak udah pulang. Makan dulu kak"
"Siap Bu" Kena sambil mencium tangan ibunya
"Trio kerdil mana Bu?"
"Husss. Manggil adeknya kok Kerdil?"
"Kan masih kecil Bu. Kalau kecil kan julukannya kerdil"
"Ada-ada aja kamu kak" Amor tertawa
---Keesokan harinya---
"Kakak cepetan dijemput temen kamu nih"
"Temen siapa Bu? Kena ga punya temen"
Ardan yang mendengarnya langsung tertawa
"Kakak ih. Tunggu sini dulu ya. Tante mau ke dapur dulu"
"Ya Tante"
Kena turun dengan cepat. Lalu terpeleset di tangga dan . . . .
"Ahhhh"
"Kebiasaan" Ardan langsung menangkap pinggang Kena dan menatap Kena seperti ala-ala Bridezilla di drama.
"Ehemm Kak" Amor berdehem
"Eh ibuu. Kena berangkat dulu Bu" Kena menarik tangan Ardan setelah mencium tangan dan pamit ke ibunya.
"Mari Tante. Saya berangkat ke sekolah dulu"
"Iyaa. Hati-hati di jalan. Jagain Kena ya Ardan" Amor sambil mengerlingkan matanya ke Ardan
"Baik Tante" Ardan tersenyum
"Pegangan"
"Modus"
Ardan terkekeh
----Di Sekolah---
Sampai sekolah mereka berdua berjalan menuju kelas. Tanpa disadari di ujung lorong kelas ada yang memperhatikan mereka berdua
"Awas aja Lo Kena" ujar Kiki
Setelah sampai di depan kelas.
"Hai Ardan, daritadi gue nungguin Lo"
"Ngapain?"
"Mau ngomong"
"Disini aja. Apa?"
Berasa jadi obat nyamuk Kena pun ijin masuk
"Gue cabut dulu ya. Lo berdua terusin"
"Kena. Tetep disini"
"Elahh. Apaan Dan?"
"Tetep disini"
"Gue suka sama Lo. Mau gak jadi pacar gue?" ujar Kiki
"Gak. Udah kan? Ayo Kena"
"Gak Lo pikir dulu itu Dan?" ujar Kena
"Gak. Ada cewek yang gue sukai"
Deg. Ada rasa cemburu di hati Kena
"Ohh"
"Cemburu?"
"Busettt. Ngaca anj**"
"Cemburu bilang"
"Idihhh. Somplak Lo ya"
"Kurang ajar. Sini Lo"
"Paan" Ardan sambil berlari
"Sini nggak?"
"Gak"
"Ardan awas Lo ya"
Ardan langsung berhenti. Kena yang mengejarnya tidak bisa berhenti langsung dan dia tiba-tiba menabrak Ardan
Brukkk.
"Awww"
Sekarang rasanya Kena ingin lari dari sini karena posisi yang tidak menguntungkan baginya
"Sekarang siapa yang modus?" ujar Ardan
"Paan"
"Itu badan Lo kenapa nindih gue. Gue bukan cowok baik-baik"
Pipi Kena berubah menjadi merah tomat karena memikirkan perkataan Ardan
"Ada yang ngeres nih"
"Siapa?"
"Lah itu pipi Lo merah"
"Ohh. Pa... Panas soalnya"
"Lo masak gak ada rasa suka ke gue Ken?"
"Gak" Kena memalingkan pandangannya ke arah lain
"Tatap mata gue!!"
Kena menoleh
"Sekarang bilang sambil tatap mata gue kalo Lo gak suka sama gue"
"Ogah. Norak"
"Kena"
"Apaan?"
"Kalo gak gue cium nih"
"Bukan muhrim"
"Gue halalin"
"Siapanya Lo"
"Calon"
"Calon apa?"
"Istri"
Blushh. Pipi Kena kembali memerah.
"Gak suka katanya. Bilang gitu doang merah pipinya"
"Bang*** Lo Dan"
"Mau?"
"Ogah. Gue suka sama cowok yang bisa beatbox"
"Bingo. Gue bisa"
"Hahh? Lo bisa? Gak percaya gue"
"Setiap tahun ada pensi?"
"Paan. Tiba-tiba tanya pensi"
"Gue nanya"
"Ada"
"Waktu pensi gue tunjukin. Siapin jawaban Lo saat itu juga. Minggir"
"Bentar. Apa yang Lo suka dari gue?"
"Bar-bar"
"Anj** Lo Dan. Beneran gue tanya"
"Manis"
Blusshh. Ketiga kalinya Kena memerah karena Ardan
Ardan terkekeh melihat kelakuan Kena