Friend Or Love?

Friend Or Love?
Love Crash



Keesokan harinya Ardan pergi ke rumah Kena. Ia merasa kangen dengan Kena karena mereka jarang bertemu. Sesampainya di sana, Tante Amor membukakan pintu dan merasa senang dengan kehadiran Ardan karena sejak ia jarang berkunjung, Amor merasa ada masalah dengan mereka berdua tetapi melihat Ardan datang hari ini Amor merasa kekhawatirannya sirna secara Kena dari SMA sampai sekarang hanya mengenal laki-laki yaitu Ardan merangkap sebagai pacarnya sendiri.


“Kak Ardannnnnnnnnnnn” Trio berlari menghambur ke pelukan Ardan dan membuat Ardan jatuh ke belakang


“Heiii my boyyy. How are you?” tanya Ardan


“We’re Fine Kak. Kakak jarang kesini sih sekarang” ungkap Xander yang paling besar dan kedua adik kembarnya hanya mengangguk dengan tatapan sedih


“Kakak sibuk boyyy” sambil mengelus kepala mereka bertiga, ketika ia teringat mereka semua tumbuh tanpa ayah mereka.


“Kena mana Tan?” tanya Ardan pada Amor


“Di kamar. Biasa. Ngerjain tugas kantornya mungkin” tambah Amor


“Ardan ke kamar Kena ya Tan” pamit Ardan


“Iya. Tante ambilin minum dulu nanti tante bawa ke kamar Kena” sahut Amor


Ardan mengangguk dan melangkahkan kakinya ke kamar Kena


Tokkk . . .tokkk . . . tokkk . . .


Ceklekk. Ardan membuka pintu kamar Kena dan melihat Kena memakai kacamatanya dengan rambut digelung ke atas-cantik memang- sambil menatap Ardan dengan tatapan dingin dan marah? Maybe. I hope no


“Hai Ken” Ardan datang dengan tangan terbuka lebar berjalan ke arah Kena


“STOP. Lo disitu aja” potong Kena dengan mengangkat tangan kirinya


“Hah? Lo gak kangen gue?” tanya Ardan sambil mengangkat bahunya


“Ken, maksud lo apa?” tanya Ardan bingung sekaligus berjalan maju


“Gue bilang BERHENTI!!! Siapa yang bolehin lo deket gue?” teriak Kena sampai melempar sandalnya ke arah Ardan


Seketika Ardan membeku dan tidak bergerak. Ia tau jika Kena saat ini sedang marah karena ia tidak pernah seperti ini. Semarah-marahnya Kena pasti hanya mendiamkan Ardan. Tetapi ini berbeda dan entah kenapa Ardan tidak tau penyebabnya. Yang pasti ia tau itu pasti karena dirinya


“Lo kenapa sih Ken?” sahur Ardan dengan mata menyipit


“Gue mau kita berhenti dulu ketemu satu sama lain. Dan gue sementara gak mau liat muka lo dulu. Lo intropeksi diri lo sendiri lalu lo bisa jelasin ke gue setelahnya. Kalo lo maksa mau cerita atau tanya gue kenapa, sekarang lo keluar aja. Pikirin yang lo lakuin kemarin sore” kata Kena sambil membenarkan kacamatanya dan menggelung kembali rambutnya


“Bentar Ken bentar. Gue masih gak ngerti. Maksud lo apa? Jelasin dong” tanya Ardan yang sudah benar-benar kebingungan


“Kan tadi gue udah bilang. Inget-inget lagi yang lo lakuin kemarin sore. Apa susahnya sih bilang sama gue. Lo malah diem aja. Gue gak ngekang lo mau keluar sama siapa. Minimal lo kasih tau gue. Sekarang Lo pergi!” suruh Kena sambil mendorong tubuh Ardan keluar kamarnya menuju ke pintu depan. Ketika hampir sampai pintu depan, Amor datang dengan es teh ditangannya


“Lhoh Ardan mau kemana Ken?” tanya Amor pada Kena


“Ardan mau pulang Bu” jelas Kena


“Kok buru-buru Dan? Ini es-nya belum diminum” imbuh Amor


“Gak te. Kena ya-“ kata Ardan terpotong ketika teleponnya berdering yang menampilkan nama Gita di layar handphone-nya dan sekarang ia tau penyebab Kena seperti ini. Sialnya ia melihat nama di HP Ardan dan hanya tersenyum sinis sekaligus matanya memerah menahan tangis. Ardan yang melihat Kena mengusap matanya merasa bersalah.


“Kena gue-“ kata-kata Ardan terpotong melihat tangan Kena mengarahkan Ardan untuk keluar dari rumahnya dengan tersenyum tapi dapat ia lihat Kena menangis


“Apa Kena lihat gue kemarin sama Gita?” batin Ardan


“Shiitt” umpat Ardan dalam hati sambil berjalan keluar