
"Kakk, kamu kenapa?" Amor cemas
"Gak apa-apa Bu"
"Ardan, Kena kenapa?" tanya Amor
"Datang bulan te. Tadi di sekolah Kena sempet pingsan" jelas Ardan
"Pantes. Pucet. Kena kalo datang bulan drop"
"Makanya saya bawa pulang te"
"Ardan, kamu gendong aja Kena ke kamarnya" titah Amor
"Gak usah Bu. Kena bisa jalan sendiri"
Belum sempat Kena berjalan, Ardan sudah menggendong Kena ke kamarnya
"Dan.. Apaan Lo!" Kena berontak
"Diem. Ibu Lo yang nyuruh gue gendong Lo"
Kena tidak dapat berontak karena gendongan Ardan juga badannya yang sudah tidak bisa diajak kompromi.
"Kamar Lo?"
"No 2 dari depan"
Ardan membuka pintu kamar Kena dan membaringkan Kena di ranjangnya.
"Makasih Dan. Maaf"
"Bukan Lo banget" ejek Ardan
"Anj*** Lo!" umpat Kena
"Mulutnya! Lo sakit Ken. Kalo udah baikan baru Lo umpatin gue. Sekarang Lo istirahat"
Ardan beranjak dari tempat tidurnya, tapi tangannya dipegang Kena
"Kemana?"
"Mau minta minum ke Tante. Badan Lo berat juga Ken. Gue hari ini gendong Lo dua kali" Ardan sambil menunjukkan telunjuk dan jari tengahnya membentuk angka dua
Kena terkekeh
"Oke"
"Kangen ya? Gak mau ditinggal"
"Bang*** ......"
Sebelum Kena menyelesaikan umpatannya. Ardan membungkam bibir Kena dan tersenyum
"Umpat lagi. Gue cium Lo"
"Ishhh. Awas Lo kalo gue udah sembuh. Liat aja"
Ardan tertawa dan pergi mencari Amor
"Sudah te. Saya mau minta air dingin haus te heheh" cengir Ardan
"Ambil aja itu di kulkas Dan. Gelasnya di sana" tunjuk Amor menuju nakas
"Makasih te"
"Kena memang gitu. Dia kalo sudah datang bulan. Badannya drop bahkan bisa pingsan. Biasanya yang anter Kena itu Brian" jelas Amor
"Ya te"
"Cemburu?" tanya Amor
"Gak te"
"Beneran?"
"No komen te"
Amor tertawa terbahak-bahak
"Kamu bener suka sama Kena Dan"
"Banget te"
"Alasannya?" tanya Amor
"Belum tau te. Rasanya nyaman aja kalo Deket Kena. Dan Kena itu anaknya bar-bar tapi gak tau te saya suka aja"
"Ohhh gitu. Beban di pundak Kena itu berat Dan. Meski dia masih kecil pikirannya itu sudah dewasa. Dia mementingkan keluarga dulu dari yang lain. Emang anaknya agak pencilakan tapi Tante jamin Kena tahu batasan. Karena didikan almarhum ayahnya itu keras banget. Makanya Kena jadi anak keras kepala, cuek tapi sebenernya dia itu anak baik. Dia suka menolong selama dia masih bisa menolong. Dan sekarang dia harus bisa sekolah tinggi dengan beasiswa. Cita-citanya pengen menyekolahkan adik-adiknya dan membantu Tante mengurangi beban Tante. Makanya adik-adik Kena agak takut kalo Kena ngajar belajar. Karena Kena keras minta ampun. Kalo adiknya salah dia pasti ngomel. Dia berharap adik-adiknya bisa kayak dia"
Ardan tertegun mendengar penjelasan Amor tentang Kena. Menambah rasa sayang Ardan ke Kena sebab banyak pengalaman pahit yang dirasakan Kena.
"Ini Dan kamu kasih ke Kena" Amor menyerahkan semangkok bubur dan obat ke Ardan
"Ini Ken dari ibu Lo"
"Makasih Dan"
.Ardan duduk di tepi ranjang Kena dan memandangi Kena
"Ngapain Lo liatin gue!"
"Gak apa-apa"
"Aneh"
"Gue tambah suka ke Lo Ken"
Pipi Kena memerah mendengar ucapan Ardan
"Tiba-tiba?" tanya Kena
Ardan mengangguk
"Semua memang tiba-tiba Ken" Ardan mengelus puncak kepala Amor