Friend Or Love?

Friend Or Love?
Gita Atmaja



“Fine. Dimatikan” eluh Ardan saat Kena mematikan teleponnya dan memutar bola matanya


“Kenapa bro?” tanya Roy teman kantor Ardan di Riliv


“Biasa” sahut Ardan


“Cuek amat pacar Lo?” tanya Roy


“Bukan. Emang kelakuannya gitu” tambah Ardan


“Tapi masak gitu” elak Roy


“Dah ah. Lanjut pembahasan kita” lanjut Ardan


“Lo tau gak kalo ada anak baru yang mau magang di kantor kita?” tanya Roy


Ardan hanya menggeleng sambil mengangkat bahu


“Katanya cewek Dan”


“Terus?”


“Cantik katanya. Gue deketin ah waktu dia kesini besok” pede Roy


“Lo mah playboy Roy” sahut Ardan


“Bukan playboy Dan. Gue itu mencoba cari pacar yang pas dan match sama gue”


“Alesan”


“Lo gak coba temenan sama anak cewek lain Dan?” tanya Roy


“Cewek? Siapa?”


“Ya anak-anak di sini lah. Katanya elo itu kurang bergaul. Dah cinta buta Lo ya sama si Kena. Gak baik kalo nutup diri kek gitu”


“Gak ah. Males. Gue lagian udah coba tanya sama Kena”


“Yang elo mau lamar dia itu?”tanya Roy


Ardan mengangguk


“Teruss?”


“Maksud lo?”


“Lemot lo ya. Jawaban Kena gimana?”


“Dia masih mau karier dulu. Masih banyak beban yang harus ditanggung. Lagian adek-adeknya juga masih sekolah”


“Elah. Itu harusnya bukan jadi alesan sih. Kalo dia suka dan jatuh cinta sama elo dia pasti langsung mengiyakan pertanyaan Lo”


“Biarin dulu. Gue juga tau posisi dia kok?”


“Gimana Ardana?”


“Apanya?”


“Ya Ardana sekarang dimana?”


“Dibuang ke LN. Rasain. Kelakuan gak berubah sama sekali”


“Dah lo liat besok anaknya” kata Roy


Ardan mengangguk


---Keesokan harinya---


“Selamat Pagi. Perkenalkan nama saya Gita Putri Atmaja. Panggil saja Gita. Saya lulusan Universitas X dan saya disini untuk tugas magang. Mohon bantuannya kakak-kakak semua. Santai saja sama saya. Terimakasih” kata Gita


“Oke. Bagus. Beri tepuk tangan untuk junior kita yang memulai bekerjanya hari ini. Semoga betah ya” kata Bu Andin selaku Kepala Tim Data Analyst


Proookkkk....Proookkkk......Proookkk


“Kok gue kayak pernah ketemu dia dimana ya?” batin Ardan


---Saat makan siang---


“Gimana Dan? Cantik kan?” tanya Roy


“Biasa aja” lanjut Ardan sambil melanjutkan makan siangnya


“Mata lo siwer kali”


“Cantik Kena”


“Bodo Dan bodo”


“Kalo lo omong terus. Gue mendingan pindah”


“Ah elo Dan. Gak seru” sewot Roy dan ia juga melanjutkan makan siangnya


Dari kejauhan seorang perempuan berambut sebahu yang bergelombang, kulit putih, mata sipit dan warna bibir pink nude itu berjalan ke arah mereka berdua sambil tersenyum. Terlihat cantik


“Eh ada Gita. Gitaaa sini. Makan bareng kita” panggil Roy sambil melambaikan tangannya dengan mulut penuh


“Jorok amat Lo” sewot Ardan


Gita hanya tersenyum dan menunduk kemudian duduk di depan mereka berdua. Gita tampak intens melihat Ardan dengan senyumnya yang cantik. Gita tergolong cantik jika menurut cowok lain. Jika menurut Ardan, ia lebih suka warna kulit Kena yang sawo matang daripada putih. Itu mengingatkan kembali kenangan mereka berdua sejak merek SMA dulu kemudian ia tersenyum sendiri. Gita menangkap senyuman itu dan mengira itu untuknya. Pede banget ya


“Gimana kerja disini Git?” tanya Roy


“Baik kak. Tapi gitu agak berat. Soalnya gak kebiasaan kerja kayak gini” ujar Gita sambil melihat Ardan dengan tersenyum. Sedangkan yang dilihat hanya mendengarkan dan melanjutkan makannya


“Kalau ada yang gak bisa, kamu tanya aja ke gue atau Ardan. Nih anak otaknya lumayan encer” sambil menyenggol bahu Ardan


“Kok jadi gue?” tanya Ardan


“Kan dia junior. Kita sebagai senior yang baik ha-“


“Baik? Lo? Gak salah?” potong Ardan sambil tersenyum sinis ke arah Roy


“Elo ya. Dasar bocah” dia sudah mengangkat tangannya untuk menjitak kepala Ardan sebelum ia berkata


“Eittt. Lo yang bocah” sahut Ardan sambil berdiri meninggalkan mereka berdua


“Balik”


“Tungguin Dan. Dasar bocah prik. Gue duluan ya Git, dinikmati aja makanannya” ujar Roy kepada Gita dan cepat berlalu menyusul Ardan


Kemudian cewek yang ditinggal sendirian di sana tersenyum dan memegangi dadanya serta merasakan debaran jantung yang tidak karuan. Ia belum pernah merasa sekalipun seperti itu dengan laki-laki lain kecuali sepupunya yang dingin itu dan seorang . . . Ardan.