Friend Or Love?

Friend Or Love?
Resto



“Pacar?” tanya Ardan


Gita mengangguk


Sebelum Ardan menjawab, Roy memergoki mereka berdua di toilet cewek.


“Hayooooo . . . . . . Kalian ngapain disitu? Dan Lo ngapain di toilet cewek?” serang Roy


“Kepo. Makasih Git untuk tangannya” senyum Ardan ke Gita sambil mengangkat tangannya


“Sama-sama Kak” sahut Gita


“Beneran gapapa kan kamu?” tanya Ardan sekali lagi


“Iya Kak”


“Yaudah. Aku duluan” pamit Ardan


Gita mengangguk dan berjalan menyusul Ardan yang ingin kembali ke kantor. Di belakangnya, Roy bertanya


“Sekali lagi maafin gue ya Git. Gue gak sengaja. Kaki lo gimana? Atau mau gue antar ke rumah sakit? Itu kan luka bakar takutnya bekas” khawatir Roy


“Gak kok Kak. Gita gapapa. Lagian tadi udah Gita olesin minyak” tambah Gita


“Oke kalo gitu. Tadi lo ngapain sama Ardan?” tanya Roy penasaran


“Gita bantu rendam tangan Kak Ardan di wastafel karena tadi tangannya bengkak”


Roy manggut-manggut sekaligus merasa bersalah kepada Ardan karena bercandanya yang keterlaluan


Dua bulan pun berlalu. Ardan dan Kena sudah jarang bertemu semenjak terakhir kali Ardan menginap di rumah Kena. Dikarenakan mereka berdua sangat sibuk dengan pekerjaannya. Untuk komunikasi mereka berdua menyempatkan waktu saat makan siang atau saat sebelum tidur di malam hari. Semakin hari Gita dan Ardan sudah semakin dekat dan bercanda karena mereka sering menghabiskan waktu berdua entah sekedar bercerita maupun minum kopi. Gita hingga sekarang tidak tau jika Ardan mempunyai pacar dan memposisikan dirinya sebagai pacar Ardan, tetapi Ardan tidak sadar dan ia hanya memposisikan Gita sebagai teman yang nyaman untuk diajak bicara.


“Gimana rasanya Git?” tanya Ardan saat melihat Gita makan Richeese Factory yang baru buka di Jalan X dan mereka membeli Fire Wings Level 5


“Hahhh. Pedes Kak. Gila sih. Duh. Gimana nih Kak?” bingung Gita sambil mondar-mandir dan menatap Ardan


“Iyaaahhhh. Duhhhh. Lihat mataku Kak. Udah merah kek gini” sahut Gita sambil membelalakkan matanya yang memerah dan berair


“Minum dulu” tambah Ardan sambil menyodorkan segelas air putih ke Gita sambil tertawa kecil


Gluukkkk....gluukkkk....gluuukkkk


“Gimana?” tanya Ardan


“Hahhh masih Kak” kata Gita sambil memeletkan lidahnya dan mengipasi lidahnya yang terasa terbakar dan panas itu


Ardan hanya tertawa melihat kelakuan Gita. Ia serasa melihat Kena di diri Gita. Tidak jaga image ataupun malu-malu. Ia selalu melakukan apa yang harus ia lakukan tanpa memedulikan pandangan orang lain dan membuat Ardan melamun sambil tersenyum.


“Gimana kabar Kena ya?” besok gue ke rumah Tante Amor ah” batin Ardan bersemangat


“Kakkkk Ardannn ih!! Malah bengong” panggil Gita


“Lo juga main ajak-ajak challenge. Lo nya aja gak kuat” tawa Ardan


“Kan Gita juga pengen ngerasain challenge kak. Kakak gak kepedesan?” tanya Gita melihat Ardan yang menghabiskan semua fire wingsnya tanpa sisa.


Ardan menggeleng. Karena ia dan Kena suka pedas sekaligus mereka berdua benar-benar maniak pedas. Untuk seukuran fire wings seperti ini easy bagi Ardan dan terutama Kena. Pasalnya Ardan tau kalo Kena sekeluarga jika makan harus ada menu wajib yaitu sambal. Entah pacar Ardan yang satu itu maniak sekali dengan pedas bukan seperti dirinya yang hanya suka pedas


“Beneran gak pedes kak?” tanya Gita sekali lagi


“Gak. Beneran? Udah selesai belom? Kalo udah yuk balik” ajak Ardan sambil meminum Ice Lemon Tea miliknya


“Udahan aja Kak. Gakuat Gita. Gila sih ini, niatnya gak makan pedes lagi tapi bener-bener bikin lidah orang mati” canda Gita sambil berdiri


Ardan tertawa terbahak-bahak mendengar candaan Gita


Sedangkan di seberang jalan di dalam mobil terlihat Kena terpaku melihat pemandangan di depannya dalam resto Richeese Factory dan merasakan hatinya ngilu seperti diiris-iris. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke depan dan menancap gas sambil mengumpat


“Bastard Lo Dan” teriak Kena