Friend Or Love?

Friend Or Love?
Klimaks



"Damn. Sh**" Kena sambil menoleh ke Ardan


"Kenapa?"


"Gara-gara Lo"


"Gue?" Ardan sambil menaikkan alisnya tak mengerti


"Semenjak kenal Lo. Hidup gue penuh troble maker"


"Salah Lo lah. Ngapain nyalahin gue"


"Kalo Lo gak bilang suka sama gue gak bakalan gini jadinya" lirih Kena


"Apa. Lo suka sama gue?" goda Ardan. Aslinya ia mendengar perkataan Kena dan sukses membuatnya tersenyum lebar.


"Najiss!!"


Ardan terkekeh.


"Kalo suka bilang Ken jangan dipendem. Gak baik"


"Lo kan udah punya"


"Apanya?"


"Kiki"


"Whatt? Dia benar-benar berpikir kalo gue suka sama Kiki?" batin Ardan. Ia pun tersenyum lebar


"Ohh"


"Seneng banget ya?"


"Seneng lah"


"Bang*** Lo Dan"


"Mau gue putusin?"


"Siapa?"


"Kiki"


"Gila Lo. Dia suka sama Lo Dan"


"Kalo Lo?"


"Gak" gengsi Kena tetap nomor satu


"Kalo Lo minta gue bisa mutusin Kiki sekarang juga di hadapan Lo"


Ardan menelepon Kiki


"Sayang, dimana? Gue di kelas bisa kesini?" ujar Ardan memakai kata sayang. Padahal ia tak pernah memanggil Kiki seperti itu. Hanya untuk melihat ekspresi Kena


"Sayang katanya. Cihh" ejek Kena sambil membuang pandangannya


Ardan melirik Kena dan ia pun tertawa dalam diam


"Gue buktiin"


"Paan"


"Putusin Kiki. Itu kan yang Lo mau"


"Whatt? Gila Lo. Kasihan Kiki"


"Lo gak sakit?"


"Gak lah" acuh Kena


"Sayanggg" ucap Kiki datang sambil merangkul Ardan


Ardan melihat Kena dan benar saja Kena sibuk mengerjakan tugasnya


"Kiki gue mau bilang sama Lo"


"Whatt? Dia mau putusin Kiki?" Kena menoleh dan bilang ke Ardan dengan membentuk kata "Jangan"


Deg. Deg. Jantung Kena berdegup tidak karuan. Di sisi lain ia senang karena Ardan akan memutuskan Kiki


"Gue sebenernya sayang banget sama Lo. Jangan tinggalin gue ya. Maaf kalo gue slalu jahat sama elo"


Deg. Tess. Kena mengusap wajahnya


"Sayanggg"


Cuppp. Kiki mencium pipi Kiki dan membuat Kena memerah


"Gue gak akan ninggalin Lo lah Ar"


Brakkk. Kena berlari keluar sambil memegang wajahnya


"Whatt? Dia nangis? Seketerlaluannya kah dirinya membuat Kena menangis?" batin Ardan


Lalu Ardan bangkit dan mengejar Kena


"Breng*** Lo Dan. Breng*** banget. Lo buat gue suka sama Lo nyatanya Lo kayak gitu. Dasar laki semua sama. Gak ada bedanya" Kena sampai di taman belakang sekolah dan menangis di sana


Ardan mencari Kena kemana-mana. Dia berpikir dia sudah keterlaluan. Tapi di sisi lain Ardan harus berbuat seperti itu agar Kena mengakui perasaannya sendiri. Tapi dia sudah cukup keterlaluan terhadap Kena


Ketika dia sudah lelah. Sampailah ia di taman belakang sekolah. Dia duduk di situ sambil melepas penat nya.


"Maafkan aku Kena" batin Ardan


Di belakangnya samar ia mendengar suara cewek menangis dan benar itu suara Kena


"Breng*** Lo Dan. Breng*** banget. Lo buat gue suka sama Lo nyatanya Lo kayak gitu. Dasar laki semua sama. Gak ada bedanya"


Deg. Kena menyukainya?


Ada sebersit kelegaan di dada Ardan saat Kena mengungkapkan isi hatinya itu sambil menangis. Ia ingin memeluk Kena tapi Ardan menahan dulu agar Kena menuntaskan apa yang dibicarakannya.


"Breng*** Lo Dan. Gue suka sama Lo semenjak Lo bilang Lo suka sama gue. Gue emang gak bilang sama Lo karena gue masih punya tanggungan sekolah Adek gue dan gue harus bisa banggain ibu gue dan . . . Almarhum ayah gue"


Ardan tercekat


"Maafin gue Dan. Gue suka sama Lo. Sayang sama Lo. Gue sakit kalo Lo jalan sama orang lain. Tapi maaf gue gak bisa akuin itu ke Lo Dan"


Sedetik kemudian Ardan datang dan duduk di depan Kena


"Sudah Kena"


"Whatt?Suara ini" batin Kena


"Ngapain Lo di sini. Lo denger omongan gue"


"Tidak sengaja"


"Breng***Lo. Pergi nggak?"


"Kena"


"Pergi"


"Gue pergi Lo nangis"


"Nggak bakal"


Selangkah Ardan berbalik. Tangannya dipegang oleh Kena.


"Jangan berbalik. Gue pinjam tangan Lo"


Kena memegang tangan Ardan dan menaruh kepalanya di tangan Ardan


"Ardan"


"Ya?" Ardan menoleh


"Jangan berbalik!!"


Ardan kembali berbalik


"Gue suka sama Lo"


Deg. Deg. Deg . Jantung Ardan berdegup kencang dan ia pun berbalik