
"Beneran Dan. Gue jatuh cinta sama Dom dan Letty"
"Iya Iya"
"Ishh Lo ah"
"Teh po**?"
Kena mengangguk. Ardan tahu apa kesukaan Kena. Kena tidak suka minuman mahal dengan susu karena katanya susu tidak bisa dikatakan minuman karena tidak terasa segar sama sekali. Berbeda dengan teh, Kena suka karena dapat menghilangkan dahaganya
"Thanks" ucap Kena
"Yuk cabut!!" Ardan sambil menarik tangan Kena
"Tangan?" Kena kebingungan
"Nanti Lo ilang. Lo ilang gue repot jelasinnya ke Tante Amor" jelas Ardan
Dalam perjalanan pulang, Kena melihat ada kantor UDD (Unit Donor Darah).
"Dan, balik Dan balik"
"Paan Ken" teriak Ardan dibalik helm nya
"Balikkk! Ke UDD"
"Hah? Siapa yang butuh darah"
"Udah. Balik dulu"
Ardan hanya menggeleng mendengar Kena. Ardan pun berputar balik ke arah UDD
"Ngapain Ken?"
"Udah. Ikut gue masuk" tarik Kena
Ardan hanya menurut
"Ada yang bisa saya bantu kak?"
"Saya mau donor darah kak" ujar Kena
"Whatt? Donor?" batin Ardan
"Golongan darahnya kak?"
"A"
"Rhesus?"
"+"
"Ditunggu dulu kak"
"Maaf, saya ada kartu UD sini kak" Kena smabil mengeluarkan kartu dari dompetnya
"Boleh saya pinjam kak?"
"Iya" Kena sambil menyodorkan kartu
"Mas nya sekalian?" tanya penjaga UDD ke Ardan
"Sebentar mbak" Ardan menarik Kena
"Maksud Lo Ken?"
"Gue udah 2 tahun ini donor darah Dan. Dan ini tempat gue biasanya donor. Lo mau ikut gak? Gak sakit kok"
"Bukan gitu. Maksud gue kenapa Lo donorin darah Lo?" tanya Ardan lagi
"Gak apa-apa. Gue cuma mau bantu orang yang butuh darah. Karena kalo gak ada darah mereka yang lagi keadaan kritis bisa meninggal" ujar Kena dengan polosnya
"Baik mbak saya di donor juga. Tapi saya gak punya kartu kayak dia"
"Baik mas. Ditunggu dulu"
"Saki gak Ken?"
"Gak"
"Beneran?"
"Lo takut?" tanya Kena
"Gak lah" selak Ardan
"Mbak Kena Mas Ardan silahkan masuk untuk cek tensi dan Hb (Hemoglobin)"
"Ya mbak"
Kena dan Ardan masuk bersama untuk tes. Dan mereka memenuhi syarat untuk donor darah
"Mari mbak mas ikut saya" ajak petugas
"Mbaknya biasanya tangan kiri apa kanan?"
"Saya kiri mbak"
"Oke. Silahkan berbaring di sini" petugas itu menunjuk salah satu ranjang di depannya
"Mas nya?"
"Sama kayak dia"
"Di sebelahnya mas" petugas menunjuk ranjang satu lagi di sebelah Kena
Ardan mengangguk dan segera berbaring di sebelah Kena
"Gue belum pernah kayak gini Ken"
"Gak apa-apa. Itung-itung biar Lo sehat"
"Sehat gimana?"
"Sering donor itu bikin kita sehat. Kenapa? Karena darah kotor kita dikeluarkan dan kita digantikan darah baru. Kan kita gak rugi"
Ardan hanya melihat Kena. Dia tidak percaya masih ada anak seumuran Kena tapi berani donor darah dan katanya? Dia ingin menolong orang yang butuh darahnya. Secara tidak langsung Kena membantu orang untuk hidup kembali. "Gue gak salah pilih cewek" batin Ardan
Mereka pun mengikuti petunjuk petugas mulai dengan tensi untuk mencari denyut nadi, tangan menggenggam. Hingga pada akhirnya tibalah saat mengambil darah mereka
"Shitt. Itu suntik apa pipa penyedot darah?" batin Ardan
"Awww. Awww. Sakit" Ardan meringis dan melihat Kena sudah dipasang suntik itu.
"Dia tidak sakit?" batin Ardan
"Ken? Gak sakit?"
"Gak. Udah biasa"
Setelah darah keluar, Ardan mulai terbiasa. Dia masih melihat darah yang keluar begitu deras melewati selang-selang
Setelah selesai, mereka disuruh untuk menekuk tangan dan diberi plester. Kemudian mereka diberi paket berupa isotonik, tablet penambah darah, susu dan biskuit
"Ayo Dan pulang"
"Gimana caranya gue nyetir motor?"
"Gue lupa. Tapi bisa lah. Gue biasanya juga sendiri nyetir sendiri"
"Gak sakit?"
"Pertama sakit, udah terbiasa"
"Kagum gue sama Lo"
"B aja"
Cupp