Friend Or Love?

Friend Or Love?
Penjelasan



"Ngapain ke kelas gue?"


"Aku mau jelasin yang kemarin Kena. Lia itu cuma temenin gue Kena. Lia teman SD sama SMP gue juga sohib karib lo"


"Stop. Gue gak mau denger penjelasan dari Lo lagi Brian. Cukup. Lo pergi sekarang juga"


"Tapi Kena?"


"Pergii!!"


"Ada apa sayang ribut-ribut?" Lia datang dan memegang tangan Brian


Seketika membuat Kena panas dan menahan marah


"Lepasin Lia. Gara-gara kamu Kena gak percaya sama aku."


"Sudahlah Brian, gak usah dijelasin. Kan kamu punya aku. Ayo kita pergi"


"Kenaa, ayo masuk" tiba-tiba Ardan datang menarik Kena untuk masuk ke dalam kelas. Kedatangan Ardan membuat Lia melongo karena kegantengan yang dimilikinya.


"Siapa Lo?" tanya Lia


"Pacar Kena"


Brian dan Lia kaget dengan kata-kata Ardan. Kena tidak peduli lagi dengan Ardan. Dia hanya ingin segera pergi dari situasi ini.


"Apa itu benar Ken?" tanya Brian


Tanpa menjawab, Kena langsung masuk kelas digandeng oleh Ardan lalu mereka duduk di bangkunya


"Siapa sih cewek songong itu?" tanya Ardan


"Sohib gue dulu di SMP"


"Lakinya?"


"Mantan gue"


"Masalah?"


"Jalan berdua bareng"


"Bisa jadi teman?"


"Gak. gue tau sifat Lia. Dia selalu ingin punya apa yang gue punya. Secara dia anak orang kaya. Sedangkan gue cuma bisa andalkan otak gue untuk masuk ke sini"


"Dan gue gak suka kalau dikhianati barang sekecilpun. Kalau iya langsung ilang kepercayaan gue ke orang itu"


Kena menjatuhkan kepalanya ke meja dan mulai terisak.


"Lo nangis?"


"Gak. kelilipan"


"Bohong aja terus"


"Diem Lo"


"Masih sayang sama cowok tadi?"


"Iya. Karena dia yang selalu ada buat gue. Gue gak pernah ngelupain kebaikan orang barang sedikitpun"


Deg. Ada rasa tidak suka di hati Ardan mendengar jawaban Kena


"Mau gue gantiin?"


"Apanya?"


"Posisinya"


"Idihhh. Ogah gue"


"Liat aja. Lo bakal gue bikin suka sama gue"


"Ngimpi aja teruss"


"Sampek Lo suka sama gue. Lo harus jadi pacar gue"


"Oke"


"Sekarang udah suka?"


"Bang*** Lo"


Kena tertawa. Baru kali ini Ardan melihat Kena tertawa dan terlihat manis di matanya karena Kena mempunyai gingsul.


"Gombal Lo. Diemm"


"Nanti pulang sama gue mau? Kan rumahnya satu komplek"


"Ogah. Mau modus pasti"


"Nggak"


"Gue pulang sendiri. Gue jalan kaki soalnya Deket rumah"


"Gila Lo. 3 km dari rumah Lo jalan kaki?"


"Paan sih. Itung-itung olahraga"


"Pulang sama gue aja Kena"


"Gak"


"Susah banget dibilangin"


"Emang"


"Yaudah. Gue cabut dulu"


"Ya"


Ardan meninggalkan Kena. Kena berjalan kaki dan teringat kembali perkataan Brian. Sepanjang perjalanan Kena melamun dan tanpa sadar ia terperosok jatuh.


"Awwww"


"Gini nih kebanyakan mikirin Brian" batin Kena


"Makanya dibilangin mau dianter ya jangan bandel"


"Kayak suara Ardan"Toleh Kena


Ardan sedang duduk di motor yang berada di depannya.


"Sejak kapan Lo disitu?"


"Sejak Lo melamun. Sampek gak sadar gue disini"


"Oh"


"Ayo naik. Rok belakang Lo sobek"


"Whatt? Masak?" Kena berdiri langsung melihat rok belakang nya yang sobek menampakkan paha mulusnya.


"Anj***"


"Buruan naik. Gue tinggal nih"


Secepat kilat Kena naik ke motor Ardan tapi gak bisa


"Kenapa?"


"Gak bisa naik. Gak pernah dibonceng motor kayak gini"


"Cewek bar-bar kayak Lo gak pernah?"


"Gak"


"Buruan" Kena memegang tangan Ardan kemudian ia naik ke motor Ardan dengan posisi miring


"Pegangan. Ntar jatuh"


Kena tetap diam


"Yaudahh. Lo jatuh bukan salah gue"


"Cerewet amat. Ya ya gue pegangan"


Kena mengalungkan tangannya ke pinggang Ardan


Deg deg deg. Jantung Ardan berdegup kencang karena kelakuan Kena


"Ngapain jantung ini astaga"


"Buruannn Ardann"


"Eh iya iya"


Mereka berdua melesat pulang memecah keramaian jalanan