Friend Or Love?

Friend Or Love?
Drama Kopi



---Keesokan Paginya---


“Kak Ardan, mau tanya untuk data ini dimasukkan ke folder mana ya kak?” tanya Gita ke Ardan sambil melihat komputernya


“Masuk ke Bagian Analis” kata Ardan sambil menunjuk ke arah Folder yang dimaksud


Wajah Ardan sangat dekat dengan Gita. Tangan kanannya memegang kursi Gita, sedangkan tangan kirinya membawa kopi. Gita merasakan jantungnya berdebar dan ia tersenyum mengangguk kepada Ardan


“Terimakasih Kak” ujar Gita


Ardan mengangguk. Ketika ia berdiri, dari belakangnya Roy mengendap-endap ingin membuat Arda terkejut. Bad timing . . . And


“Awww panasssss” pekik Gita yang langsung berdiri memegang roknya yang terdapat noda hitam dan panas yang berasal dari kopi Ardan tentunya yang tersenggol Roy. Seketika mata Ardan membelalak dan melepaskan tangannya karena ia merasakan tangannya melepuh


“Shittt” umpat Ardan sambil mengibaskan tangannya yang melepuh terkena kopinya sendiri


“Awwww awwww aduuhh” pekik Gita


“Gitaa. Maafin saya. Aduhhh. Gimana sih lo Roy. Mata lo dimana?” marah Ardan


“Maaf Dan. Kan gue gak niat gitu” Roy merasa bersalah dengan menundukkan kepalanya


“Maksud lo kalo lo niat jadinya ini parah dong” sahut Ardan dengan mata membelalak


“Sudah Kak Ardan. Gita gapapa kok. Jangan marah ke Kak Roy” ujar Gita berniat melerai keduanya


“Tapi dia keterlaluan becandanya” sahut Ardan sambil menunjuk Roy dengan kepala tertunduk


“Maaf ya Gita. Gue gak sengaja. Lo gapapa?” maaf Roy


“Gapapa pala lo. Itu roknya basah gitu. Pasti kena kakinya”


“Gapapa kak. Gita ijin ke toilet dulu” pamit Gita sambil memegang roknya yang basah


Ardan dan Roy hanya mengangguk kemudia mereka berdua diam seribu bahasa


“Maaf Dan. Tangan lo gapapa?” tanya Roy yang melihat tangan Ardan melepuh


“Gapapa” kata Ardan sambil melenggang pergi


“Lo kemana?” teriak Roy


“Ngecek Gita”


Setelah melihat kakinya yang sedikit melepuh dan panas, ia mengoleskan minyak ke pahanya dengan meringis kesakitan. Merasa kakinya agak mendingan, ia menutup bekas lukanya dengan plester dan meniupnya. Lalu Gita menutup dengan roknya dan berjalan keluar. Di luar toilet berdirilah Ardan dengan tangan bersidekap di dada dan tubuh yang bersandar di tembok sambil memainkan kakinya.


“Astaga Kak Ardan”


“Gapapa Kak. Udah Gita olesi minyak”


“Bekas gak? Duh kalo bekas gimana?” tanya Ardan yang khawatir sendiri


“Gapapa Kak. Udah mendingan kok. Kakak mau liat?” tanya Gita menggoda Ardan dengan mengangkat sedikit roknya


“Jangann!” teriak Ardan mengalihkan pandangannya.


Gita tertawa terbahak-bahak. Kemudian tanpa disangka Ardan tersenyum simpul. Gita yang melihatnya kembali merasakan jantungnya yang berdebar.


“Bisa aja kamu”


“Salah Kak Ardan. Heboh sendiri. Gita aja gapapa”


“Beneran?” tanya Ardan sekali lagi


Gita mengangguk dan tersenyum. Kemudian pandangannya teralihkan melihat tangan Ardan yang mulai membengkak


“Kak! Tangan Kakak bengkak!” teriak Gita melihat tangan Ardan


“Gapapa” kata Ardan


“Gapapa gimana? Sini kak masuk direndam air dingin di wastafel aja kak” ajak Gita menarik tangan Ardan masuk ke toilet . . . cewek


“Hei... Ini toilet cewek” cegah Ardan


“Gapapa Kak. Bentar aja. Tuh lihat tangan Kak Ardan” sahut Gita sambil memegang tangan Ardan


“Aw” pekik Ardan


“Sakit kan?”


Ardan hanya diam membiarkan tangannya dipegang Gita untuk direndam di wastafel. Ia merasa tidak nyaman karena ini toilet cewek. TOILET CEWEK guys.


Mereka berdua diam seribu bahasa. Gita fokus merendam tangan Ardan yang terkena tumpahan kopi, sedangkan Ardan tidak tau ia harus berbuat apa selain diam melihat tangannya yang mulai mengempis karena direndam Gita.


“Kak?”


Ardan menoleh ke arah Gita


“Kakak punya . . .” ucapan Gita terpotong


“Punya?”


“Pacar?” tanya Gita sambil melihat bola mata hitam pekat milik Ardan