
---Di Rumah---
Kena menangis di dala kamarnya. Dia menangis di dalam hati karena sudah terlanjur suka dengan Ardan dan membuatnya menjauh dari dirinya. Kena menyesal karena Ardan sudah menjadi milik Kiki
Tok tok tok . . .
"Sayangg, Kena kamu di dalam?"
"Iya bu"
Kena menghapus air matanya dan membuka pintu kamarnya
"Ada apa Bu?"
"Boleh ibu masuk?"
Amor masuk dan duduk di tepi ranjang putri kesayangannya itu
"Kamu kenapa nak akhir-akhir ini selalu di kamar?"
"Gak apa-apa Bu. Kena hanya lelah karena tugas sekolah" bohong Kena
"Jangan bohong sayang"
Kena langsung menangis di pelukan ibunya.
"Kena suka sama Ardan Bu"
Amor tersenyum. Akhirnya putrinya itu mengakui perasaannya sendiri
"Terus kenapa kamu nangis sayang?"
"Kena ngomong ke Ardan agar jauhin Kena dan Kena bilang gak akan suka sama dia"
"Gak apa-apa sayang. Jodoh gak akan kemana. Kalau Ardan jodoh kamu dia akan kembali ke kamu"
"Tapi sekarang dia jadi milik orang lain dan benci Kena Bu"
"Gak mungkin sayang Ardan benci kamu. Ibu lihat dari tatapan matanya ke kamu dia menyukai kamu sayang. Tidak mungkin Ardan membencimu"
"Tapi Bu...."
"Sudah sayang. Serahkan pada Tuhan. Karena Tuhan yang mengatur jodoh kita. Yang bisa membolak-balikkan hati hanya Tuhan" Amor sambil mengelus kepala Kena dan menciumnya
"Selamat tidur sayang"
"Selamat tidur Bu"
Akhirnya Kena terlelap setelah mendengar perkataan ibunya itu. Kena percaya Tuhan memberikan rencana indah untuk dia.
----Di Sekolah---
Ardan datang pagi-pagi sekali ke sekolah untuk menghindari Kiki yang selalu menempel kepadanya. Jujur Ardan tidak suka perempuan yang seperti Kiki. Dia pacaran dengan Kiki hanya untuk membuat Kena cemburu. Ardan percaya ada rasa sayang dari mata Kena untuknya. Akan tetapi, Kena terlalu gengsi untuk menyatakannya. Ditambah lagi kejadian kemarin yang membuatnya tambah bersalah
"Oh S***. Kena Kena kamu selalu di pikiranku" Ardan mengusap wajahnya kasar
Tiba-tiba. Brugghh. Ada seseorang yang menabrak pintu kelasnya.
"Who?" batin Ardan
Ardan langsung beranjak ke depan untuk melihat siapa orang itu. Dan ternyata cewek yang selalu di pikirannya itu. Kemudian Ardan tanpa suara memperhatikan gerak-gerik Kena
"Kenapa pintunya disini?" Kena menendang pintunya itu dan berakhir kesakitan di kakinya. Ardan hanya tertawa melihat kelakuan Kena
Kena pikir ini semua gara-gara Ardan yang sudah membuatnya seperti ini. Jika Ardan tidak berbuat seperti itu ia tidak mungkin menangis Bombay seperti kemarin yang pada akhirnya membuat matanya bengkak dan tidak bisa melihat dengan benar
"Damn.Sh**. Fu** you Ardan. Gara-gara Lo gue kayak gini"
Yang dipanggil namanya hanya menaikkan alisnya tanda tak mengerti. Kemudian Ardan melihat dengkul dan tangan Kena yang memerah akibat terjatuh kemarin. Ia merasa iba karena tidak membantunya
"Awas Lo Dan. Liat aja Lo"
Kemudian Kena masuk ke dalam kelas. Dia melihat Ardan duduk di bangkunya. Niat ingin membalas dendam ia malah takut lebih dulu karena melihat Ardan dengan tatapan acuhnya.
"Dan"
"Apa"
"Kursi gue"
"Oh"
Ardan segera bangkit ke tempat duduknya
"Tangan Lo kenapa?"
"Breng***. Ini ulah Lo" batin Kena
"Jatuh kemarin. Ada orang gila yang gak waras naik motornya"
Ardan tertawa dalam hati
"Siapa?"
"Gak tau. Gak kenal gue" emosi Kena meluap-luap
"Manis" kata Ardan
"What?"
"Gak. Tadi gue makan permen manis"
"Ohh"
"Ngapain liatin gue. Noh liatin Kiki sana. Cantik berisi tuh da** nya montok"
"Cemburu?"
"Idihhh"
Kena duduk dengan marah dan menggebrak meja. Lalu Kena meringis karena dengkulnya masih sakit
Ardan tertawa.
"Apa Lo liat-liat. Gue cantik gue akuin. Kecantol nanti"
"Pede" kata Ardan
"Anj*** Lo"
Ardan suka jika melihat Kena marah. Terasa lucu baginya