Friend Or Love?

Friend Or Love?
Dipecat



“Kena Anggika?” panggil Nanda yang membuat Kena menoleh


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Kena masih dengan berdiri dan diam di tempatnya


“Apa saya bisa bicara dengan Anda dengan keadaan seperti ini?” sindir Nanda sambil melihat ke arah Kena


Kena mengerti apayang dibicarakan oleh CEO nya itu dan beranjak untuk duduk di depannya. Serta memberanikan diri untuk menatap Nanda dan menemukan kemeja yang sudah berganti dengan kemeja navy. Ia kembali teringat dengan kejadian tadi pagi yang naas terkena kemeja sang CEO yang ditatapnya sekarang yang sedang memegang notebook-nya dan jas yang tersampir di sofa


“Saya tau kalau saya tampan. Tapi saya risih jika dilihat seperti itu” ucap Nanda masih dengan memegang notebook di tangannya yang membuat Kena marah seketika. Karena ia tidak merasa melihat atau mengamati orang didepannya


“Apaan sih. Geer banget!” jengkel Kena


“Apa maksud Bapak?” tanya Kena dengan nada sedikit lebih tinggi


“Lupakan. Saya tidak ingin membahasnya” ucapnya


“Maaf jika menyela Bapak. Ada perlu apa Bapak memanggil saya di ruang Direktur seperti ini. Dan untuk kejadian tadi pagi, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Dan jika Bapak berkenan saya akan mengganti biaya laundry nya” jelas Kena panjang lebar


“Mengganti? Saya rasa kamu tidak mampu. Karena itu adalah kemeja yang didesain untuk diri saya dan hanya ada satu di Indonesia” ucap Nanda dengan sarkas


“Shiitt. Sombong banget. Rasanya pengen gue setrika tuh mulutnya” batin Kena


“Baik jika menurut Bapak saya tidak mampu untuk mengganti kemeja Bapak yang hanya ada satu di Indonesia. Saya sekali lagi meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Saya pamit kembali ke ruangan saya dulu. Permisi” Kena beranjak diri dari sofa dan belum sempat meninggalkan ruangan, ucapan Nanda membuat Kena terbelalak


“Anda akan dipecat hari ini. Mohon segera untuk membersihkan ruangan Anda sekarang juga” titah Nanda yang masih belum bergerak dari posisinya. Yang tentu saja membuat Kena berbalik dan marah meninggikan nadanya satu oktaf.


“Hanya.... Hanya anda bilang?” tanya Nanda dengan dingin


“Iya. Hanya sebuah kopi. Dan apakah Direktur sudah menyetujui keputusan sepihak Anda?” tanay Kena lagi


“Apa Anda lupa jabatan saya disini melebihi jabatan Direktur Anda?”


“Shittt. Gue lupa kalo dia CEO. Gimana nih?”


“Maaf sekali lagi. Tapi saya tidak melakukan kesalahan apapun untuk dipecat. Apakah Anda menggunakan jabatan CEO Anda untuk memecat orang sembarangan?”


“Baik. Jika Anda tidak sanggup, saya akan memberika surat pengunduran diri kepada Anda. Sebaiknya, Anda isi dan berikan kepada Direktur mengenai surat pengunduran diri Anda. Karena, jika Anda menolak, Anda bisa lihat nanti karir Anda seperti apa” ucap Nanda


“Tapi Pak” sela Kena yang dipotong oleh Nanda


“Di meja Anda nanti ada dua formulir yang salah satunya harus Anda isi dan berikan kepada Direktur. Itu akan mempengaruhi karir Anda selanjutnya Kena Anggika”


Kena mengepalkan tangannya dan berusaha menahan emosinya dan berbalik dengan cepat menuju pintu, ia tidak ingin berlama-lama bersama psikopat itu yang nantinya bisa membuat darahnya naik. Ketika ia, memegang knop pintu berniat membukanya, ia mendengar langkah kaki di belakangnya. Secepat kilat, tangan kekar dan besar menghadang pintu di depan Kena.


Kena berniat berbalik dan menanyakan maksud psikopat itu yang menghalangi pintunya. Ketika berbalik, ia terkejut


“A-pa....”