
"Nice Choice" sahut suara di seberang telepon.
Kena hanya mengerutkan keningnya. Pasalnya ia sendiri tak tau siapa yang menelepon.
Tuutt...tuttt...tuttt
Telepon diputus sebelum Kena sempat menanyakan siapa gerangan.
"Siapa Mbak?" tanya Vio .
Kena hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya.
"Tapi kok gak asing suaranya. Kayak pernah denger" batin Kena. Tiba-tiba suara si "psikopat" terngiang di kepalanya.
"Masak sih?" batin Kena lagi. Kena hanya menggelengkan kepala.
Sekelebat bayangan pergi dari depan kantor Kena sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jas da. tersenyum lebar.
"Gotcha!!!" serunya sambil melangkah pergi.
Sesampainya di rumah ia menuju kamar dan berbaring di ranjang sambil memandang langit-langit kamarnya. Memikirkan apakah pilihannya tepat atau tidak.
Sesaat kemudian...
Tok...tok...tok...
Pintu diketuk dari luar membuyarkan lamunan Kena
"Ibu boleh masuk Ke?" tanya Amor dari luar
"Masuk aja Bu. Pintunya gak dikunci sahut Kena. Kemudian Amor masuk ke kamar Kena
"Ada apa Ken? Ibu lihat waktu pulang dari kantor tadi wajahmu muram" tanya Amor sambil memandang wajah putrinya.
"Cerita sama Ibu" tambah Amor
"Kena dipecat dari kerjaan Kena Bu" sahut Kena malas
"Kenapa kamu dipecat?" tanya Amor menaikkan nadanya 1 oktaf karena terkejut mendengar pernyataan Kena
Kena menggeleng.
"Ada masalah apa?" tanya Amor lagi.
"Hanya salah paham aja Bu. Kebetulan CEO di perusahaan Kena baru dan agak psikopat.
"Psikopat?" tanya Amor bingung
Kena hanya mengangguk lemas
"Tapi..." sahut Kena bimbang
"Tapi apa?"
"Bener Kena dipecat dari kerjaan Kena. Hanya salah paham aja Bu. Kenapa CEO gak jelas itu pecat Kena. Salah Kena apa? Sama aja kayak penyalahgunaan kekuasaan. Mentang-mentang CEO semena-mena. Apalagi Kena ditawari jadi sekretaris pribadinya. Pecah kepala Kena Bu" jelas Kena berapi-api.
"Bagus dong?" sahut Amor
"Bagus? Bagus apanya Bu?" sahut Kena kesal
"Sekretaris pribadinya kan?" tanya Amor
Kena mengangguk
" Bagus dong" selak Amor
"Siapa yang memandang rendah? Itu jika kamu kelakuannya gak bener. Murahan. Emang bos kamu udah nikah?" tanya Amor
Kena menggeleng
"Mana Kena tau Bu. Ngapain tau urusan orang?"
"Makanya. Selesai kan masalahnya?"
"Ibuuuuuuuu" rengek Kena
"Apa lagi?"
"Ibu gak takut Kena dipandang rendah keluarga kita?" tanya Kena yakin
"Gak lah. Selagi kamu bener ngapain takut?"
"CEO Psikopat Bu. Kena takut" rengek Kena berusaha meyakinkan ibunya
"Yaudah. Di rumah aja gak usah kerja" sahut Amor santai
"Gimana sih Bu?!"
"Mau kamu gimana? Wong enak dikasih kerjaan. Berarti itu bukan rejeki kamu Kena. Mungkin dengan pekerjaan baru itu rejeki kamu"
"Gitu ya Bu?" sahut Kena merasa kalah dengan ibunya. Tapi jika dipikir secara panjang lebar memang benar kata ibunya. Lingkungan kantornya tidak kondusif dan friendly dengannya sama sekali. Ditambah Kena juga sulit beradaptasi.
Amor mengangguk
"Coba kamu tanya pendapat Ardan. Dia pasti setuju" sahut Amor melenggang pergi
Kena kemudia beranjak dan mengambil handphone nya yang tergeletak di atas ranjang.
Tuut...tuttt...
Belum sampai dering ketiga, Ardan menjawab.
"Halo Ken" saut Ardan di seberang telepon
"Halo Dan"
"Ngapain malam-malam telepon? Kangen ya?"
"Gue dipecat" singkat Kena tanpa basa-basi.
"Hahh??!!!!!!" teriak Ardan yang sontak membuat Kena menjauhkan handphonenya
"Kenapa Lo dipecat?" tanya Ardan
"CEO gue baru. Just salah paham"
"Gitu doang? Gak logis banget"
"Kan?" tanya Kena
"Terus Lo gimana Ken?"
"Gue ditawari kerja sama CEO gue"
"Paan?"
"Sekretaris pribadinya"
"APAAAAAAA???!!!!!"