
"Lo bukan Ardan" Kena
"Terus gue siapa kalo bukan Ardan. Jangan ngaco dong yang"
Kena merasa jijik dan geli. Ardan tidak pernah seperti ini, ia pasti menghargai keputusan Kena dan pastinya menghargai Kena sebagai perempuan bukan seperti ini
"Gue mau balikk!!!! Lo siapa bang***?!!!" Kena
Plakkkk. Kena ditampar. Alhasil bibirnya mengeluarkan darah segar dari ujung bibirnya. Spontan Kena memegang pipinya dengan berkaca-kaca.
"Ardan gak kayak gini. Ardan gak kayak gini" batin Kena
"Gue pergi!!" Kena
Dirasa mobil berhenti Kena keluar dan ingin melarikan diri. Nasib memang, Kena akhirnya digendong menuju ke Suite Room.
"Lepasin gue bang***. Siapa Lo???Tolonggg!!" Kena
Kena berteriak untuk meminta tolong tapi tidak ada yang menolongnya. Resepsionis, tukang bersih-bersih tidak berani melihat orang itu padahal Kena dibawa secara paksa mereka juga tidak menolong.
Sampailah Kena ke Suite Room bernomor cantik 444. Busettt, bukan waktunya mikirin nomor kamar
Ceklekk. Bruggg.
Ardan menjatuhkan Kena di ranjang king size nya.
"Lo tunggu sini. Jangan kemana-mana. Kalo Lo mau keluar silahkan gue gak akan segan-segan" ancam Ardan
"Tolong Dan, gue ingin balik. Tolonggg Tolonggg" Kena menggedor-gedor pintu kamar hotel dan tidak ada yang menyahut
"Hotel ini pasti punya dia" pikir Kena
Kena tetap berusaha untuk keluar dari kamar itu tanpa kartu. Ya kartunya dibawa Ardan ke dalam kamar mandi. Sadiss emang
Ceklekk. Ardan keluar dengan rambut basah dan hanya mengenakan handuk sepinggang menyisakan badan bagian atas. Seketika Kena menelan salivanya. Ardan menatap Kena dengan tatapan mengerikan dan berjalan ke arah Kena
"Mau ngapain Lo?" Kena mundur selangkah demi selangkah akhirnya jatuh di atas ranjang.
"Makai Lo?" Ardan sambil mengangkat alisnya
"Jaga ucapan Lo. Gue bukan cewek murahan" Kena
"Setelah ini Lo silahkan pulang"
"Gak. Gue gak mau. Gue ingin pulangggg!!!" teriak Kena
"Bang*** Lo Breng***!!" Kena berusaha memukul Ardan
Kedua tangan Kena dipegang Ardan dan ditarik ke atas kepala Kena hingga Kena tidak bisa berkutik
"Gue mulai ya sayang. Katanya Lo sayang sama gue. Gue bakal kasih kepuasan ke Lo" Smirk Ardan
"Jangan macem-macem Lo. Lepasin gue!!. Tolonggg" Kena berteriak sambil meronta-ronta
Ardan memulai gerakannya. Menelusuri rambut, dahi, hidung, ceruk leher Kena yang membuat Kena meremang. Dan yang terakhir Ardan mencium bibir Kena memaksa untuk membukanya. Karena gigitan akhirnya Kena membuka mulutnya membuat Ardan masuk lebih dalam lagi.
Tangan Kena masih memukul-mukul badan Ardan. Dia sama sekali tidak menikmati momen ini karena dia bukan Ardan. Sumpah demi apapun dia bukan Ardan. Ciuman Ardan gak seperti ini. Tangan Ardan mulai masuk ke dalam baju Kena dan mulai melepas kaitan bra Kena. Kena hanya bisa meronta-ronta dan menangis karena ia tidak bisa berbuat apa-apa dibawah Kungkungan Ardan secara tubuh dia menindih Kena dia pasti tidak bisa bergerak. Kena hanya bisa pasrah dengan keadaan berharap Tuhan mengirimkan seseorang untuk menolongnya. Ardan.
Brakk. Brakk. Brakk. Brakkkk
"Kena! Bang*** Lo Na!!"
Ardan datang dan meninju orang itu.
Bugh bugh bugh bugh
"Ardann!!" Kena berlari ke arah Ardan untuk melerai Ardan. Karena wajah orang itu sudah penuh lebam dan darah segar
"Ardan Ardan Ardann!!" Kena memeluk Ardan dari depan
"Lo gak apa-apa Ken?.Pipi Lo kenapa?" Mata Ardan membulat melihat pipi Kena lebam dan ada darah kering yang membuat amarah Ardan semakin membuncah
"Mati Lo. Mati!!!" Ardan menginjak badan orang itu. Sementara orang yang mirip Ardan itu sudah terkapar.
"Ardann cukup Ardann stoppp!" Kena berteriak membuat Ardan berpaling ke Kena. Dengan mata memerah ia berjalan mendekati Kena
"Ken, Lo gak apa-apa?" tanya Ardan
"Dia mau perkosa gue Dan" Kena berbicara sambil menunjuk orang mirip Ardan itu
Ardan melihat Kena bergetar karena ketakutan. Baju Kena sudah terbuka menyisakan kaos dalamnya saja membuat Ardan ingin berbalik dan segera membunuh baji**** itu.
"Ardan cukup. Lo udah datang nyelametin gue. Gue gak apa-apa Dan" Kena menarik tangan Ardan dan memegang wajahnya untuk melihat Kena
"Bener gak apa-apa Ken?" Ardan memegang pipi Kena dan melihat Kena meringis karena tamparan orang itu
"Gue mau tanya. Siapa dia?" tanya Kena
"Kembaran gue. Ardana" singkat Ardan sambil menatap Kena