
“A-pa...” ucapan Kena terpotong ketika ia melihat Nanda persis di depan wajahnya. Kemudian, Kena memberanikan diri untuk berbicara
“Apa maksud Bapak?” tanya Kena dengan wajah datar.
Di luar dugaan, Nanda maju hingga berada di sebelah wajah Kena dengan berbisik
“Saya harap Anda memilih dengan bijak” ucap Nanda lirih di telingan Kena yang membuat ia bergidik karena napasnya. Ketika Kena ingin membalas, Nanda melepaskan tangannya yang menghalangi pintu di belakangnya. Kemudian pergi duduk di sofa kembali
“Dasar psikopat gak jelas!!” teriak Kena dalam hati dan kemudian pergi meninggalkan Nanda dengan senyum tipisnya
Sesampainya di ruangannya, benar saja ia melihat ada dua amplop coklat di mejanya. Ia berjalan dengan menghembuskan napas. Ia berpikir bagaimana konyolnya dirinya jika dipecat hanya karena menumpahkan kopi. Kena benar-benar tidak habis pikir. Bilang apa ia pada ibunya kalau ia dipecat.
“Dasar psikopat gak waras!!” teriak Kena yang membuat orang-orang di sebelah ruangannya membicarakan dia. Dia tidak peduli jika ia menjadi bulan-bulanan mereka. Toh sebentar lagi ia akan hengkang dari perusahaannya
“Ada apa Mbak?” tanya Vio tergopoh-gopoh
“Saya dipecat Vi” lirih Kena
“Hahhh?!!! Dipecat?!!” teriak Vio sekali lagi yang membuat orang-orang itu kembali membicarakan mereka berdua
Kena hanya mengangguk malas
“Kok bisa Mbak? Perasaan Mbak Kena gak pernah melakukan kesalahan” ujar Vio
“Nah. Kamu aja bilang gitu. Gak tau psikopat edan itu”
“Psikopat? Siapa Mbak?” tanya Vio
“CEO”
“Pak Nanda yang mecat Mbak Kena, bukan Direktur?” tanya Vio yang dijawab Kena dengan gelengan
“Kok gitu sih? Terus Mbak Kena gimana?” tanya Vio dengan khawatir. Ia tau kalau Kena bekerja di sini sebagai tulang punggung keluarga dan masih mempunyai beban yaitu adik-adiknya yang masih bersekolah
“Saya disuruh ngisi surat pengunduran diri atau mau saya dipecat saja. Karena kalau dipecat, itu bakal sulit untuk saya mencari pekerjaan baru. Kalau saya resign, mungkin masih ada perusahaan yang bisa nerima saya” jelas Kena
Vio hanya mengangguk dengan tatapan kasihan dan khawatir. Kemudian, Kena berniat mengisi surat pengunduran diri. Tapi, ia mengurungkan niatnya ketika melihat amplop coklat satunya. Kena penasaran dengan isi amplop coklat di sebelahnya yang saat ini ia raih dan buka. Alangkah terkejutnya ia melihat formulir di dalamnya.
“Maksudnya apa ini?” tanya Kena dengan dahi berkerut yang membuat Vio penasaran dan beranjak ke sebelah Kena. Vio kemudian membacanya dengan pelan
SURAT KONTRAK SEKRETARIS PRIBADI CEO
“Mbak mau jadi sekretaris pribadinya CEO?” tanya Vio dengan membelalakkan matanya
“Saya aja gak tau maksudnya apa” ucap Kena yang masih bingung dengan surat yang dipegangnya saat ini yang juga tertulis namanya dan lengkap dengan CV Kena
“Jangan-jangan Mbak Kena dipecat supaya bisa jadi sekprib CEO?” ucap Vio menerka-nerka
“Saya gak percaya”
“Terus Mbak Kena gimana? Kalau Mbak Kena ngisi surat pengunduran diri berarti Mbak Kena resign dari perusahaan. Soalnya, saya denger dari teman SMA saya, cari kerja sekarang itu susah. Temen saya aja bilang kalau saya jadi OG itu bersyukur setidaknya saya dapat pekerjaan. Ini hanya saran Mbak Kena” ucap Vio
“Jadi saya harus menandatangani kontrak ini?” tanya Kena memastikan
“Saya sarankan iya Mbak”
“Tapi saya harus tahan sama psikopat itu dong?” tanya Kena karena ia merasa tidak mampu menghadapi psikopat itu
Setelah memutuskan dan menimbang-nimbang pilihannya, ia pergi ke ruangan Direktur untuk memberikan amplop coklatnya. Setelah menyerahkan amplop itu, ia bergegas ke ruangannya dan pulang. Karena seharian ini mood Kena sangat jelek. Ketika ia sampai di parkiran, ponselnya berdering dan nampak di layar Nomor Tidak Dikenal. Kemudian ia mengangkatnya
“Nice Choice”