Friend Or Love?

Friend Or Love?
Meet



“Dipingit?” tanya mereka berdua


“Iya dipingit. Jadi Kena dilarang untuk bertemu Ardan sebelum akad nikah. Ini merupakan tradisi leluhur kita yang harus kita jaga” tambah Amor


“Jadi kita gak boleh ketemu dulu?” tanya Ardan memastikan. Kedua orangtuanya dan Amor mengangguk tersenyum. Spontan Ardan langsung menoleh ke arah Kena sambil memasang wajah sedih. Sedangkan Kena hanya tersenyum melihat tingkah Ardan sambil mengangkat bahu.


“Gak boleh telepon?” tanya Ardan sekali lagi. Mereka semua menggeleng. Seketika itu juga Ardan terduduk ke belakang dengan lemas


“Jadi, malam ini merupakan hari terakhir kalian untuk bertemu dan berbincang sepuasnya sebelum dipingit” tambah ayah Ardan


Setelah perbincangan tentang dipingit, mereka berdua memutuskan untuk berbincang-bincang lebih lama sebelum mereka akhirnya tidak boleh dipertemukan kembali


“Gue nanti pasti kangen sama lo Ken” ucap Ardan sambil melihat ke langit malam


“Gue juga” tambah Kena


“Tapi gue seneng, lo bisa jadi istri gue. Gue udah lama banget mimpi bisa nikah sama lo. Lo baik, cantik, nyebelin, jutek. Pokok banyak sisi positif lo yang nular juga ke gue yang bisa bikin gue sampek sekarang” sahut Ardan yang dibalas Kena dengan anggukan


Kemudian Ardan memegang tangan Kena dan mengelusnya.


“Misal Ken, kalo gue gak ada lo gimana?” tanya Ardan sambil menatap Kena


“Maksud lo?” tanya Kena mengernyit


“Gue tanya aja. Kalo gue gak ada lo tetep nikah atau tetep nunggu gue?” tanya Ardan sekali lagi


“Apaan sih Dan” jawab Kena dan menarik tangannya yang digenggam oleh Ardan


“Gue pengen tau”


“Ya gue gak bakal nikah. Gue cintanya sama lo aja. Gak ada yang lain” jawab Kena mantap


“Jangan Ken, kalo gue gak ada sebaiknya lo tetep nikah. Lo itu pantes bahagia meski gak sama gue. Gue gapapa yang penting lo bahagia”


“Lo mulai gak jelas deh Dan. Ngomong apaan sih lo!” bentak Kena


“Hei hei gue Cuma memisalkan aja. Gue gak bakal ninggalin lo kok. Mana mau gue ninggalin anak cantik kayak gini” ucap Ardan sambil mengelus rambut Kena


“Oke. Kita habisin waktu kita bersama, untuk mengganti malam-malam yang akan sepi mulai besok tanpa ada lo” kata Ardan bersemangat


Kemudian mereka berdua menikmati angin malam di kolam belakang. Ardan memeluk Kena dari arah samping dan tersenyum bersyukur karena ia telah mendapatkan malaikat sempurna yang akan mendampinginya sampai akhir hayatnya. Pada malam itu, semua pulang ke rumah masing-masing untuk menjalani aktivitas keesokan harinya. Bagi Ardan dan Kena merupakan malam terakhir mereka bersama sebelum mereka bertemu dan mengucapkan janji suci untuk selamanya


Satu bulan berlalu, mereka berdua mulai terbiasa tidak bertemu. Beruntungnya, mereka disibukkan oleh pekerjaan yang tiada habisnya. Dikarenakan tempat mereka berada di bumi dan banyak istilah bumi itu sempit, mereka berdua sering bertemu satu sama lain. Akan tetapi, entah keberuntungan atau kebetulan mereka tidak pernah melihat satu sama lain, meskipun sering bertemu atau berpapasan. Entah di jalan, di traffic light mobil mereka berjejer bersebelahan. Tapi rintangan yang mereka hadapi sungguh sangat banyak. Pernah suatu saat Kena bertemu lagi dengan CEO yang berkunjung ke perusahaannya saat ia terburu-buru untuk rapat dan menabraknya dengan menumpahkan kopi ke baju CEO tersebut


“Awwww. Maaf, saya tidak sengaja. Bagaimana ini? Saya menumpahkan kopi ke kemeja Anda. Saya akan mengganti biaya laundry nya. Tolong hubungi saya di nomor ini” jawab Kena cepat sambil memberikan kartu namanya dan mengambil gelas plastik sisa tumpahan kopi tadi dan membuangnya di tempah sampah tepat di belakangnya.


“Maaf sekali lagi. Saya permisi” sahut Kena sambil menundukkan kepalanya tanpa melihat seseorang di depannya dengan berjalan cepat menuju ruang rapatnya pagi ini. Sedangkan orang disana hanya termangu melihat bajunya berlumuran kopi


“Apes banget gue hari ini” batin Kena setelah sampai di ruang rapatnya. Setelah ia membenarkan rambutnya dan jas nya ia masuk ke ruang rapat tersebut dan untuk kesekian kalinya ia mendapat tatapan cibiran dari rekan-rekannya. Kemudian ia memeilih duduk dan diam


Setelah ia rileks dan tenang, direkturnya datang bersama dengan laki-laki yang kemejanya berlumuran- Waittt


“Bukannya itu orang tadi?” tatap Kena tanpa berkedip sambil memastikannya


“Baik. Maaf saya terlambat, karena saya menemukan CEO kita Pak Nanda di lorong dengan baju berlumuran tumpahan kopi. Jadi, saya minta maaf kepada rekan-rekan dan apakah bapak baik-baik saja?” tanya direktur itu membuat jantung Kena berdegup kencang


“Baik. Tadi ada seorang perempuan yang menabrak saya kemudian menumpahkan kopinya dan berlalu begitu saja dengan memberikan saya kartu namanya untuk mengganti biaya laundry jas saya” jelas Nanda merangkap jadi CEO itu yang membuat semua orang di dalam ruang rapat berbisik-bisik memikirkan kira-kira siapa yang berani berbuat kurang ajar kepada CEO nya


“Mati gue!” batin Kena dengan keringat dingin


“Berarti perempuan itu pegawai saya pak?” tanya direktur kaget yang dibalas anggukan oleh CEO itu


“Iya. Dan saya lihat rupanya dia ada di sini bersama kita” kembali Nanda berbicara yang membuat semua yang di dalam ruangan heboh


“Jangan bilang kalo itu gue. Plisss!” ucap Kena memohon dalam hati yang tidak mungkin didengar oleh CEO itu dengan panik


“Waittt. Wajahnya, sikap dingin, tinggi menjulang kayak gue pernah lihat. Siapa ya?” batin Kena sambil


mengingat-ingat siapa gerangan dia. Ia melihat lagi CEO itu dan menatapnya untuk memastikan. Kemudian, kebetulan matanya berpapasan dengan lelaki tersebut. Seketika itu juga,ia teringat dan Kena pun terperangah dengan memegang mulutnya


“Edwardddd?!!!” teriak Kena dalam hati dengan mata membelalak dan membekap mulutnya