
--- 2 Bulan ---
Benar saja Ardan kembali kepada Farah. Kena hanya melihat kebersamaan mereka dari jauh. Suatu saat, Kena berpapasan dengan Ardan dan Farah. Ardan hanya melewati Kena saja tanpa menyapa ataupun tersenyum. Hal itu membuat Kena sakit hati. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Kata-kata Kena membuat lelaki itu pergi meninggalkannya. Kena sadar bahwa kata-katanya sungguh menyakitkan. Ardan juga menukar tempat duduknya bersama Levi. Ia tidak kembali duduk bersama Kena. Ketika Farah melihat Kena, dia selalu pamer kemesraan bersama Ardan dengan cara mencium Ardan di depan Kena.
Pada saat Pensi berlangsung, Ardan menembak Farah persis seperti yang ia janjikan kepada Kena dulu. Kena yang melihatnya hanya tersenyum padahal dalam hati ia menangis dan memutuskan untuk pulang dan tidak lagi melanjutkan kegiatannya. Kena merenung di dalam kamarnya. Tidak ada kabar, candaan maupun gombalan dari Ardan. Kena tetap melanjutkan sekolahnya dengan tenang, karena ia tahu dirinya harus bekerja keras dan memperoleh beasiswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Ibunya pernah bertanya kepada Kena kenapa Ardan jarang ke rumah dan Kena menjawab seadanya bahwa tugas dari sekolah menumpuk jadi ia kerja kelompok bersama teman laki-lakinya dan Amor mengiyakan saja.
Pagi itu, Kena memutuskan untuk berangkat pagi-pagi sekali untuk pergi ke perpustakaan. Sesampainya di sekolah ada sosok itu berdiri di depan kelas mereka. Sosok yang selalu dirindukan Kena. Tapi Kena berpura-pura tidak tahu
"Betah?" tanya Ardan
Kena hanya menoleh dengan tatapan datar
"Lo betah liat gue sama Farah?"
"Gue harus ngapain?"
"Ya gimana gitu. Masak cemburu enggak?"
"Gak. Biasa aja. Ada Lo gak ada Lo biasa aja"
Ardan terkejut mendengar perkataan Kena
"Gak berubah Lo Ken"
"Dari dulu kayak gini"
"Yakin gak nyesel?"
"Gak. Sana ditungguin cewek Lo"
"Oke. Bye Ken"
Kena melenggang masuk ke kelasnya sementara Ardan berjalan ke arah Farah dan mencium pipi kanan kirinya. Hal itu semakin membuat Kena sakit hati tetapi sekali lagi ego Kena sangat tinggi hingga membuat perempuan itu lagi-lagi tidak peduli
--- Kamar Mandi ---
"Heh. Kesini Lo" Panggil Farah
"Gue?" tanya Kena
"Memang siapa lagi? Kan cuma ada Lo sama gue"
"Oh"
"Lo itu ngaca ya. Gak seharusnya Lo itu bersanding sama Ardan"
"Kan dia udah sama Lo"
"Tapi dia diem-diem masih suka sama Lo. Tau gak?" Farah sambil mendorong bahu Kena
"Lo takut dia balik ke gue?"
"Kurang ajar Lo. Berani Lo ya sama gue"
Plakkk. Farah menampar pipi Kena sampai berdarah. Kena memegang pipinya
"Urusan sama orang kayak Lo itu percuma. Main fisik aja"
"Kurang ajar Lo yaa" Farah mengangkat tangannya ingin menampar pipi Kena lagi. Tetapi, Kena menahannya...
Plakkk. Kena menampar Farah
"Awww. Sakit tau gak"
"Rasain. Jangan suka tampar orang kalo Lo sendiri belum siap ditampar orang" Kena sambil menunjuk mata Farah
Kena melenggang keluar dan berpapasan dengan Ardan. Ardan yang melihat bibir Kena berdarah, ia pun bertanya
"Pipi Lo kenapa Ken?"
"Bukan urusan Lo!"
"Yang, pipi gue merah ditampar sama dia. Sakitt yang. Aww" Farah keluar dari kamar mandi sambil memegang pipinya dan berlari ke Ardan
"Apa yang Lo berdua lakuin hah?" Tanya Ardan
"Bodo" Kena pergi ke taman belakang waktu ia dulu menangis
"Lo apain Farah Ken?"
"Tanya sendiri"
"Lo apain?"
"Orangnya ada kan? Tanya sendiri lah. Kan Lo pacarnya"
"Stop ya Ken"
"Oo gue tau. Lo kesini mau marahin gue karena gue tampar cewek songong itu kan"
"Kenaaaaa!!!!" bentak Ardan
Kena terdiam
"Gue gak mau tau urusan Lo kayak gini apa! Tapi kan bisa diselesaikan baik-baik gak perlu kayak gini. Kayak anak kecil aja"
"Bang***. Gara-gara Lo gue kayak gini anj***" Kena mendorong Ardan sampai terjatuh
"Ha. Gue?"
"Gara-gara Lo gue kayak gini! Kalo Lo gak tau urusannya gak usah ikut campur!!"
Jantung Kena berdetak kencang karena marah dan memutuskan untuk pergi dari tempat ini.
"Kena" panggil Ardan