
“Kok gue merinding ya. Kayak ada yang ngamatin gue” batin Kena dengan memegang lehernya sambil melihat sekelilingnya.
“Apa perasaan gue aja?” batin Kena lagi
Setelah memahami jalan rapatnya, Kena menuliskan note atau catatan yang perlu. Seperti kata Direktur, di ruang rapat tadi ada CEO mereka yang baru Kena tau bahwa CEO biasanya tidak ikut rapat. Sekali lagi, dikarenakan Kena tidak mengenal mereka semua selain Direktur dan beberapa Manager yang sedikit ia hapalkan wajahnya. Oh God, ia sering lupa namanya. Jadi, setelah selesai Kena kembali ke habitatnya. Setelah sampai pintu keluar, ia merasakan kembali hawa dingin
“Gue kenapa sih? Parno aja!” Kena kembali memegang lehernya
Sementara disana sedang duduk seorang yang mengamati Kena dari kejauhan hingga hilang bayangan Kena
“Menarik” sahutnya sambil berdiri dan menyalami Direktur dan berlalu bersama sekretarisnya
Sesampainya di kantornya
“Paan sih gue?” Kena masih merasakan hawa dingin yang perlahan menghilang setelah ia keluar dari pintu rapatnya
Tok ... tok ... tok ...
Kena terlonjak dan dari balik pintu kepala Vio muncul tersenyum dengan mata sipitnya. Semangatnya yang Kena lihat dari Vio menular kepadanya. Vio merupakan punggung keluarganya. Ibunya di rumah sakit-sakitan dan Ayahnya juga sudah meninggal. Vio hanya mempunyai adik perempuannya yang sepulang sekolah juga menjaga ibunya.
“Pagi mbak Kena. Saya boleh masuk?” tanya Vio
“Kamu Vi. Duhhh. Masuk” Kena mengelus dadanya
“Mbak mbak. Mbak Kena udah tau CEO tadi di ruang rapat?” tanya Vio
“Gak tau. Saya kan gak kenal semua orang selain direktur dan manager. Jadi yaaa gak tau. Kenapa?” tanya Kena
“Tadi saya ketemu di bawah mbak. Kayaknya langsung ke pusat” jelas Vio
“Oh yaa?” timpal Kena
“Iya mbak. Orangnya cakep tapi nakutin” terang Vio
“Nakutin?”
“Iya mbak. Dingin gitu orangnya”
“Sifatnya emang gitu kali” elak Kena
“Tapi untungnya cakep mbak” timpal Vio
“Kamu semua yang cakep dibilang cakep”
“Gak mbak. Kalau ini Limited Edition cakepnya” mata Vio berbinar-binar
“Bisa aja kamu” Kena tertawa
“Katanya juga CEO itu pewaris satu-satunya Sevima Group mbak” tambah Vio
“Beneran?” tanya Kena
Vio mengangguk mengiyakan pertanyaan Kena
“Satu lagi”
“Hehe. Sini sini mbak” Vio mendekat bermaksud berbisik ke telingan Kena
“Apa?” Kena mendekat
“Dia belum punya istri mbak” ujar Vio dengan mata membelalak
“Kira apaan. Belum jodoh kali Vi”
Vio hanya mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala
Di dalam mobil Audy hitam, pria yang dibicarakan sedang melihat berkas lamaran Kena dan memperbesar foto Kena lalu mengamatinya
“Za, tolong kamu cari info tentang dia” pria tersebut memberikan berkas yang dibacanya kepada sekretarisnya, Reza.
“Baik pak”
“Kena” sebutnya sambil melihat jalanan dari dalam jendela kaca mobil
---Saat jam makan siang---
“Halo Dan. Why?” tanya Kena di seberang telepon
“Miss you” ujar Ardan
“Receh” sahut Kena
“Elah Ken. Lo lagi ngapain?” tanya Ardan
“Lunch. Lo?” tanya balik Kena
“Merindukan kamu” receh Ardan
Tuuutt....tuuutt
“Halo?” sahut Ardan
“Fine. Dimatikan” tambah Ardan
“Siapa mbak?” tanya Vio
Kena sedang makan siang di kantornya dengan Vio
“Pacar” timpal Kena
“Mas Ardan?” tanya Vio
“Who is else?” tanya Kena balik
“Beruntung ya Mbak Kena cantik, pinter dapat Mas Ardan yang ganteng. Vio mana punya mbak” ujar Vio sedih
“Nanti pasti ada Vi. Jodoh di tangan Tuhan. Seberapa kali kamu mengelak atau seberapa kali kamu menerima jika bukan jodoh ya berarti bukan”
Vio hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Kena