
"Ngaco lu Dan"
"Whatever"
"Kalo ngomong sama gue jangan gombal. Gak mempan tau nggak?"
"Beneran?" Ardan mendekat ke arah Kena
Blussh. Pipinya memerah
"Bohong"
"Jantung tolong yaa. Dia gak ngapa-ngapain kenapa gini sih" usap Kena frustasi
Baru kali ini Kena merasakan ada yang berbeda dengan dirinya. Sesuatu yang dinamakan "Nyaman" mungkin. Tapi Kena tidak ingin terlalu percaya pada Ardan. Karena masa lalu membuatnya susah membuka hatinya hingga saat ini. Ardan yang dapat membuat jantungnya berdetak kencang.
"Gila Lo Ken" Batin Kena
Kena masih berpegang teguh pada pendiriannya. Ia masih mengedepankan ego daripada perasaannya.
---Bel berbunyi---
"Gak jajan Ken?"
Kena Diam saja.
"Ken?"
"Heiii. Kena jawab!!"
"Gak"
Ardan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Lo kenapa?"
"Gak"
"Pelit omong"
"Diem. Dengerin guru!"
"Susah banget nih cewek emang" batin Ardan
Gak tau kenapa Ardan menyukai Kena padahal sebelumnya ia pacaran dengan Farah tidak bucin seperti ini.
Setelah bel pulang bunyi Kena langsung membereskan buku-bukunya dan beranjak pergi
"Kena tunggu"
Kena tidak mendengarkan Ardan. Ia tetap berjalan dengan cepat.
"Kena!"
"Paan"
"Lo kenapa?"
"Hmmm"
"Parah Lo Ken"
"Emang. Makanya jauhin gue jangan deket-deket gue"
"Gue jauhin. Lo nangis"
"Never"
"Ok. Let's do this"
"Yeah"
"Jangan salahin gue Lo nangis"
"GAK AKANN!!"
Ardan tancap gas meninggalkan Kena. Ada rasa sakit di hati Kena. Ia tidak ingin Ardan jauh dari dirinya. Karena tanpa ia sadari, Kena suka pada Ardan.
"Mungkin ini yang terbaik. Gue gak seharusnya mikirin Ardan. Gue harus fokus sekolah agar dapet beasiswa untuk kuliah. Dan membantu ibu" ujar Kena
Kena memantapkan hatinya untuk tidak memikirkan Ardan.
Benar saja untuk keesokan harinya Ardan tidak lagi duduk di sebelahnya. Melainkan Nita
"Lo ngapain sama Ardan Ken?"
"Paan?"
"Lo gak mau bisa pindah"
"Anji** Lo. Gue temenin terimakasih kek"
"Thanks"
"Emang Ms.Cool gak ada yang ngalahin"
"Hmmm"
Ketika bel istirahat berbunyi, Kena mencari jajan di kantin dan melihat Ardan sekilas meliriknya lalu membuang pandangannya begitu saja. Yang paling parah Ardan melewati Kena tanpa menyapa.
Tanpa sadar, Kena menitikkan air matanya. Tapi segera ia hapus agar tidak ada yang melihatnya
"Ngapain Lo nangis? Lo sendiri yang bilang mau jauhin Ardan" batin Kena
Tidak terasa satu bulan terlewati. Dan Ardan masih tetap mengabaikan Kena padahak Kena sudah berusaha untuk menyapanya.
Hingga suatu hari
"Ken kena. Anggika Kenaaa!!" Teriak Nita
"Paan sih Nit. Budek telinga gue ini"
"Ardan pacaran sama Kiki"
Deggg. Mampuss Lo Kena
"Oo"
"Oo? Gila Lo Ken"
"Ini nih duta kita. Gimana bro kencan sama Kiki?"
"Boleh"
"Cieee. Sejak kapan Lo suka Kiki Ar?"
"Sejak ditolak"
"Siapa yang berani nolak Lo Dan? Somplak tuh cewek. Ardan ditolak" ujar Nita
"Anj** Lo Nit" batin Kena
Ardan melirik Kena. Yang dilirik salah tingkah dan langsung Kena membuang pandangannya
"Gila Ken. Ada cewek yang nolak dia"
"Gila Kenapa?
"Masak nolak malaikat Tuhan?"
"Palingan gak suka dia sama Ardan"
Jlebb. Panah menancap dan tembus ke dada Ardan.
Ardan mengira bahwa Kena benar-benar tidak menyukainya.
Brakkkk. Ardan menendang meja di depannya lalu beranjak keluar. Seketika pandangan satu kelas meujunya.
"Bussettt. Ngapain Lo Dan?" tanya Levi
"Gerah"
---Saat pulang---
Kena memakai headset nya. Ia memikirkan kata-katanya yang diucapkan pada Ardan.
Ngeeenggg. Kena diselip oleh motor Ardan, seketika Kena kehilangan keseimbangan dan terjatuh "Awww"
Kena melihat yang dibonceng kali ini adalah . . .
Kiki!!!. "Bang*** lu Dan!" batin Kena
Ia merasakan tangannya yang perih, tetapi tidak sesakit hatinya
---Ardan---
Dia melihat Kena dari jauh. Seketika dadanya bergemuruh. Tiba-tiba ia menyelip Kena dengan kencang hingga membuatnya terjatuh.
"Awww"
Ada rasa bersalah di hati Ardan ketika melihat Kena sedang melihat dirinya di balik kaca spionnya. Tapi egonya mengalahkan perasaannya dan kali ini Ardan tidak menghiraukan Kena