Forced Marriage

Forced Marriage
FM Bab 58 - Elouise Bright



Seperti apa yang sudah direncanakan oleh Arkan dan Aleia, hari ini mereka akan mengunjungi makam Diora, mereka juga akan mengajak baby Bryan bersama mereka.


Menggunakan baju senada berwarna hitam, tepat di jam 08.00 pagi Mereka pergi ke pemakaman itu.


Pagi itu cuaca sangat cerah, awalnya Aleia Masih sempat tertawa dan bercanda dengan sang anak ketika mereka berada di mobil dalam perjalanan. Namun ketika mobil itu semakin dekat dengan area pemakaman, seketika senyum di bibir Aleia pun perlahan pudar.


Telah banyak hal yang terjadi beberapa waktu terakhir dan itu seperti kembali terekam dengan jelas di dalam ingatan Aleia.


Wanita cantik itu membuang nafasnya dengan kasar ketika dia keluar dari dalam mobil dan menginjakkan kaki di area pemakaman.


"Mom!" pekik baby Bryan, dia berada dalam gendongan sang ayah namun kemudian berontak dan ingin pindah digendong oleh sang ibu.


Aleia menyambut itu, dia ambil baby Bryan dan digendongnya sendiri. Dicium keningnya dengan sayang.


"Baby, kita akan mengunjungi mommy Diora, berikan salam untuknya nanti ya," ucap Aleia.


Baby Bryan asik sendiri, seolah ingin memanjat tubuh sang ibu. Dia suka digendong tinggi-tinggi.


Aleia berjalan di depan, sementara Arkan di belakang dan melindungi, berjaga-jaga andai Aleia jatuh. Baby Bryan sangat aktif.


Sampai akhirnya mereka bertiga tiba di pusara milik mendiang Diora.


Huh! ada nafas kasar yang kembali keluar dari Aleia dan Arkan, seolah keduanya sama-sama berusaha untuk meleburkan semua kebencian di masa lalu. hidup harus tetap berlanjut, dan mereka tidak ingin terbelenggu dalam rasa benci itu.


Mencoba untuk selalu melihat hikmah dibalik semuanya.


"Maafkan aku Diora," hanya kalimat itu yang bisa Aleia ucapkan, tentang kecelakaan yang pernah mereka alami bersama Aleia pun sangat menyesalkannya. Tapi waktu tidak bisa kembali diputar, selamanya dia akan ingat ketika mobil itu meledak di depan matanya.


Aleia menabur bunga segar di atas pusara, juga meletakkan 1 ikat bunga lily di atasnya. Bunga yang sangat Aleia tahu adalah bunga kesukaan Diora.


"Dan aku sudah memaafkan kamu," ucap Arkan.


Selebihnya tidak ada hal lainnya lagi yang mereka bicarakan.


Aleia coba mengenalkan baby Bryan pada ibu kandungnya. Sesekali baby Bryan pun mengelus pusara tersebut, lalu diakhiri dengan mencium batu nisannya.


"Mom mom?"


"Iya sayang, mommy Diora juga adalah mommynya Bryan, kita akan sering berkunjung kemari."


"Ar, ku harap setelah ini, hanya akan ada kenangan manis saja yang akan selalu kita ingat, tentang kita bertiga," ucap Aleia. bagaimanapun dulu mereka bertiga adalah sahabat. Menjalin hubungan baik hingga bertahun-tahun.


Arkan pun hanya mengangguk saja, tidak menjawabnya dengan kata-kata.


Arkan hanya selalu melihat ke arah baby Bryan, kini tiap kali dia melihat bayi itu, Arkan merasa jika amarahnya terpendam.


Tentang siapa ayah baby Bryan yang sebenarnya kini tidak lagi Arkan permasalahkan, dia hanya akan menyerahkan semuanya kepada Tuhan, terserah kapan kebenaran itu akan terungkap.


Yang jelas saat ini dia hanya akan memberikan kasih sayang tulus kepada anak tidak bersalah itu.


Arkan menarik pinggang Aleia dan memeluknya, mengecup keningnya sekilas. Lalu menggendong baby Bryan dan mengajak sang istri untuk segera meninggalkan area pemakaman itu.


Hari bergulir.


Bulan pun berlalu, setelah perlahan melepaskan kebencian dari dalam hatinya, kini Arkan benar-benar seperti telah menemukan sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya.


Bahkan ketika dia berhadapan dengan Jakson pun tidak ada lagi amarah yang selalu menggebu seperti dulu.


Semuanya jadi lebih tenang.


Tepat di bulan November anak pertama Arkan dan Aleia akhirnya lahir, seorang putri yang sangat cantik.


Arkan dilarang untuk memberikan nama pada bayi cantik itu, karena hak itu diambil alih oleh sang Oppa- Daddy Alex. sebuah syarat agar Daddy Alex bisa memaafkan Arkan dengan sepenuh hati.


Dan bayi cantik itu diberi nama ...


Elouise Bright.


...TAMAT...


Epilog:


Seorang pria menatap dari kejauhan rumah utama keluarga Bright. Dia tersenyum ketika melihat Arkan dan Aleia masih memeluk Bryan ketika anak pertama keluarga itu lahir.


Pria itu tidak akan pernah menunjukkan dirinya sampai kapanpun, sadar jika kemunculannya hanya akan jadi noda hitam bagi sang anak. Jadi biarlah Bryan bahagia bersama dengan keluarga Bright.


Pria itu adalah Tom.