Forced Marriage

Forced Marriage
FM Bab 39 - Pukulan Keras



"Kenapa bertanya seperti itu? apa kamu tahu tentang siapa ayah anak itu?" tanya Arkan, suaranya terdengar semakin dingin saja. Tatapannya penuh dengan intimidasi.


Tiap kali membahas tentang baby Bryan selalu berhasil memancing amarahnya.


Arkan tahu, baby Bryan memang tidak bersalah. Tapi tetap saja, dimatanya selalu ada noda hitam yang terlihat.


Dan mendapati pertanyaan Arkan itu Aleia jadi gelagapan sendiri. Dengan segera dia menunduk dan memutuskan tatapan mereka.


Terkejut saat tiba-tiba Arkan mendorongnya masuk ke dalam mobil.


"Ar, jangan begini," tolak Aleia, dia benar-benar tak kuasa akan dipisahkan dengan baby Bryan.


Tapi Arkan tidak mau dengar. Tanpa perintah pun Jerry dengan segera mengemudikan mobil ini.


"Ar, aku mohon, sangat mohon, jangan pisahkan aku dengan baby Bryan. Aku akan jadi istri mu yang baik, aku akan jadi penurut, tapi aku mohon, jangan pisahkan aku dengan baby Bryan." mohon Aleia.


Arkan hanya diam, tatapannya lurus ke depan, tidak menoleh pada Aleia yang sejak tadi memohon.


"Ar!"


"Arkan!!" Aleia mulai memukul lengan suaminya, sampai Arkan harus mencekal kedua tangan Aleia agar tenang.


Jadi istri yang baik, jadi istri yang penurut memang sudah kewajiban Aleia, tidak perlu kesepakatan untuk itu. Dan satu yang Aleia tidak tahu, Arkan tidak ingin Aleia semakin melihat keterpurukanya.


"Ar, aku tahu kamu butuh waktu untuk sendiri. Dan aku tidak masalah pulang ke rumah mommy Jia. Tapi biarkan baby Bryan ikut bersama ku Ar," mohon Aleia sekali lagi. Dia memang tidak menangis, tapi dadanya terasa sesak.


"Ar, aku mohon, lihat aku dulu," pinta Aleia, sejak tadi Arkan terus menatap lurus, seolah tidak menganggapnya ada. Sementara sekarang Aleia tak bisa banyak bergerak, 2 tangannya sudah dicekal Arkan.


Dan mendapati permintaan itu, akhirnya Arkan menoleh, membalas tatapan sang istri yang penuh permohonan.


"Tidak peduli dengan apapun yang terjadi, tapi aku melihat langsung kematian Diora, dan itu membuat aku bersalah," ucap Aleia lirih.


"Satu-satunya hal yang bisa membuat aku tenang adalah merawat baby Bryan. Jadi aku mohon Ar, cobalah mengerti aku," ucap Aleia lagi.


Tapi bukannya menjawab pertanyaan itu, Arkan malah mengikis jarak, menahan tengkuk sang istri dan menjatuhkan sebuah ciuman dalam.


Jerry yang tidak sengaja melihat dari kaca di atas kepalanya pun seketika mendelik. Entah apa yang telah dia lewatkan, tapi bagaimana bisa anjing dan kucing ini bersatu.


Bahkan saat ciuman itu terlepas, terdengar jelas suara decapannya.


"Apa kamu akan mengabulkan permintaan ku Ar?" tanya Aleia, setelah mendapatkan ciuman mesra itu. Sebuah ciuman gang seperti pereda amarah di antara mereka berdua.


"Tidak," jawab Arkan singkat.


"Lalu kenapa mencium ku!" kesal Aleia. Sangat kesal.


Sampai akhirnya mobil itu tiba di halaman rumah utama keluarga Carter.


Aleia tidak mau turun. Dia rela datang kesini asal baby Bryan ikut bersamanya.


"Leia, ayo turun."


"Tidak, aku hanya akan turun kalau kamu izinkan baby Bryan ikut bersama ku."


"Jangan membuat ku marah Leia."


"Jangan membuatku semakin merasa bersalah pada baby Bryan Ar, aku mohon."


Aleia masih berada di dalam mobil, sementara Arkan sudah berdiri di luar.


"Kalau kamu tidak keluar, aku akan menarik mu."


"Tarik saja kalau bisa."


Aleia langsung menjerit ketika Arkan benar-benar menariknya keluar,


"Arkan!" pekik Aleia.


Brak! pintu mobil itu Arkan tutup dengan kuat. Lalu segera menarik Aleia untuk masuk ke dalam rumah.


Namun alangkah terkejutnya mereka berdua ketika melihat ternyata seluruh keluarganya sudah berada di hadapan.


Daddy Alex, mommy Jia, kak Rayden dan Aresha berdiri menyambut kedatangan mereka. Pertama kali mobil Arkan masuk, seorang pelayan sudah memberi tahu mereka jika nona Aleia datang.


Dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat sikap kasar Arkan.


Melihat semua itu daddy Alex masih berdiri di posisi yang sama, namun kemudian Rayden maju dan melayangkan sebuah pukulan keras di wajah Arkan ...


Bugh!


"Kak Rayden!" pekik Aleia.